<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742</id><updated>2012-02-11T11:44:35.882+07:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='neoliberal'/><category term='Celana Dalam'/><category term='Politik dan Bisnis'/><category term='Four Finger Economy'/><category term='Harga Tanah Jepang'/><category term='Inflasi'/><category term='http://junantoherdiawan.com'/><category term='Ekonomi Yakuza'/><category term='Depresi'/><category term='Pariwisata Malaysia'/><category term='BI Rate'/><category term='Tsunami Jepang'/><category term='mistik kebijakan moneter'/><category term='krisis moneter'/><category term='herd instinct'/><category term='Kapitalisme'/><category term='finansial global'/><category term='Bilateral Swap Arrangement'/><category term='Menghitung Tsunami Ekonomi Jepang'/><category term='proyeksi ekonomi'/><category term='Imlek'/><category term='TKI'/><category term='Pertumbuhan Ekonomi'/><category term='Adam Smith'/><category term='Deflasi di Jepang'/><category term='Peranan Wanita'/><category term='Hiperinflasi'/><category term='sistem keuangan'/><category term='Arus Modal Asing'/><category term='Bakrie Brothers'/><category term='Filsafat'/><category term='Lehman Brothers'/><category term='Termos Jeruk Mbak Ani'/><category term='Stagflasi'/><category term='Ekonomi Jepang'/><category term='Pahlawan Devisa'/><category term='Teror Bom'/><category term='perekonomian Indonesia'/><category term='Bank Indonesia'/><category term='Masa Depan Nuklir Sesudah Fukushima'/><category term='rupiah'/><category term='Pasar Keuangan'/><category term='Lia Eden'/><category term='Astronot Mama'/><category term='Ekonomi Indonesia'/><category term='Politik Ekonomi'/><category term='Merasakan Gempa Terburuk'/><category term='Krisis global'/><category term='Demo Kenaikan Gaji'/><category term='Ekonomi Liburan'/><category term='Dampak Ekonomi Tsunami Jepang'/><category term='Boediono'/><category term='Aging Population di Jepang'/><category term='Sistem Ekonomi Indonesia'/><category term='EPA Indonesia Jepang'/><category term='Dampak Ekonomi Kerusuhan Inggris 2011'/><category term='risiko sistemik'/><category term='Resesi'/><category term='Prabowo Subianto'/><category term='Bank Century'/><category term='Krisis Nuklir Fukushima'/><category term='Pengawasan Bank'/><category term='aji belut putih'/><category term='Termos Kopi Mbak Ani'/><category term='Kebijakan Moneter'/><category term='homo homini lupus'/><category term='De Tocqueville'/><category term='Ekonomi Pertanian'/><category term='Naoko Yamazaki'/><category term='Junanto Herdiawan'/><category term='krisis keuangan AS'/><category term='spekulan valas'/><category term='Gangster Jepang'/><category term='bank sentral'/><category term='Sandal Jepit'/><category term='Sepak bola dan krisis global'/><category term='Salary Man'/><category term='Utopia'/><category term='krisis perbankan'/><category term='Neraca Pembayaran Indonesia'/><category term='Suster di Jepang'/><category term='Zimbabwe'/><category term='Sektor Perdagangan'/><title type='text'>Jalan Paradoks</title><subtitle type='html'>Silakan dicek Blog saya di http://junantoherdiawan.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-545446252066892431</id><published>2012-01-04T08:37:00.002+07:00</published><updated>2012-01-04T08:39:58.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://junantoherdiawan.com'/><title type='text'>Blog baru Junanto Herdiawan</title><content type='html'>Yth teman-teman sekalian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna memudahkan untuk membaca dan mengumpulkan berbagai tulisan saya yang berserak di berbagai blog, saya dibuatkan oleh Mas Amril Taufik Gobel (Daeng Amril), sebuah blog baru, yang beralamat di &lt;a href="http://junantoherdiawan.com"&gt;http://junantoherdiawan.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Moga-moga blog baru tersebut lebih mudah dibaca dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;br /&gt;Junanto Herdiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-545446252066892431?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/545446252066892431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=545446252066892431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/545446252066892431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/545446252066892431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2012/01/blog-baru-junanto-herdiawan.html' title='Blog baru Junanto Herdiawan'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-619203943069742742</id><published>2011-08-15T11:58:00.003+07:00</published><updated>2011-08-15T12:03:46.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dampak Ekonomi Kerusuhan Inggris 2011'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><title type='text'>Dampak Ekonomi Kerusuhan Inggris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Tx2bwJvSRug/Tkin11FeQ3I/AAAAAAAAAj4/WVEfIcsjTfY/s1600/riot_jpg_1306055cl-8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Tx2bwJvSRug/Tkin11FeQ3I/AAAAAAAAAj4/WVEfIcsjTfY/s400/riot_jpg_1306055cl-8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640943076506485618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulisan ini dimuat di Harian Kontan, 15 Agustus 2011&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik meriahnya perayaan Royal Wedding antara Pangeran William dan Kate Middleton bulan April lalu, perekonomian Inggris sejatinya telah menyimpan permasalahan serius. Sejak krisis global 2008, ekonomi Inggris dilanda penyakit berat, yaitu resesi ekonomi, tingginya pengangguran, defisit anggaran yang membengkak, serta masalah demografi yang berdampak pada dilema multikulturalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi masalah defisit anggaran yang membengkak, pemerintah Inggris melakukan pemangkasan pengeluaran secara signifikan. Pengeluaran pemerintah dipangkas £83 miliar (4,5% dari PDB) hingga tahun 2014-2015. Pemangkasan pengeluaran tersebut diperkirakan mengurangi sekitar 500 ribu lapangan kerja di Inggris. Di sisi lain, pajak dinaikkan hingga £29 miliar (1,6% dari PDB). Hal tersebut menimbulkan konsekuensi pahit bagi masyarakat Inggris, berupa meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah mendapat momentum, keresahan dan ketidakpuasan masyarakat meledak dalam kerusuhan di kota London, pekan lalu (6/8). Kerusuhan di London itupun kemudian menyebar ke berbagai kota di Inggris, seperti Birmingham, Manchester, Liverpool, Leeds, dan beberapa kota lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan adalah petaka bagi stabilitas. Berbagai kerusuhan yang terjadi menjadikan masa depan pemulihan ekonomi Inggris dihadapkan pada ketidakpastian. Apalagi kerusuhan ini terjadi jelang setahun diselenggarakannya Olimpiade 2012 di London.&lt;br /&gt;Kerusuhan yang terjadi di Inggris juga memiliki implikasi serius pada pemulihan ekonomi di wilayah Eropa. Inggris adalah kekuatan ekonomi nomor enam dunia, dan ketiga di wilayah Eropa. Namun sebelum kerusuhan terjadi, indikator ekonomi Inggris telah menunjukkan permasalahan yang berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan triwulan II-2011, ekonomi Inggris hanya tumbuh sebesar 0,2% (kuartalan). Angka ini sedikit membaik setelah pada triwulan IV-2010 tumbuh negatif sebesar 0,5% (kuartalan). Sementara itu, tingkat produksi di Inggris anjlok 1,4%  (kuartalan) dalam triwulan II-2011 akibat lemahnya permintaan dan turunnya produksi migas karena ditutupnya beberapa ladang minyak di Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi permintaan, yang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Inggris, masih lesu akibat turunnya daya beli masyarakat. Inflasi dan pajak yang tinggi telah menggerus daya beli rakyat Inggris. Ketidakpastian masa depan juga menjadikan masyarakat Inggris menahan belanja dan berjaga-jaga dengan menyimpan tabungan yang mereka miliki. Hal itu akan membawa pertumbuhan ekonomi Inggris ke tingkat yang lebih rendah, setidaknya di tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal tersebut memendam keresahan yang berujung pada kerusuhan di beberapa wilayah berpenduduk miskin di Inggris. Keberlanjutan program konsolidasi fiskal yang sedang dijalankan pemerintah Inggris pun mendapat tekanan sejak kerusuhan terjadi. Pemerintah Inggris dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apabila mereka menghentikan program konsolidasi, kredibilitasnya akan turun. Namun apabila diteruskan, tantangan ketidakstabilan akan terus meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajaran Bagi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, melemahnya nilai tukar poundsterling belum mampu meningkatkan ekspor Ingggris. Sebagian besar ekspor Inggris ditujukan ke wilayah Eropa, yang saat ini juga sedang dilanda resesi berkepanjangan. Berbagai kerusuhan masih terjadi secara sporadis di Yunani, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Perancis. Akibatnya, sentimen bisnis pelaku usaha di Inggris melesu, ditambah lagi masih ketatnya kondisi kredit, terus turunnya harga properti, dan berkurangnya investasi pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi tekanan pada ekonomi Inggris tersebut, pemerintah dan bank sentral Inggris berupaya untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Namun mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah berusaha menjaga kesinambungan fiskal, sementara Bank of England kemungkinan besar masih akan meneruskan kebijakan moneter yang longgar untuk mendorong pertumbuhan. Meski demikian, tekanan inflasi di Inggris yang telah melebihi 4% (yoy) pada Juni 2011, atau di atas target 2% (yoy) di akhir 2012, menjadikan Bank of England juga berada pada posisi yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi ekonomi Indonesia, kerusuhan yang terjadi di Inggris sejauh ini belum memberikan dampak secara langsung. Namun kita perlu mencermati perkembangan di sana mengingat Inggris adalah salah satu negara penting yang menjadi tujuan ekspor Indonesia dengan nilai mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS pertahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, masih terus melemahnya ekonomi Eropa dan Amerika Serikat memberi dampak secara terbatas pada perekonomian nasional. Namun hal ini dapat diimbangi dengan masih tumbuh positifnya negara-negara Asia, seperti Cina dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan di Inggris juga memberi kita beberapa pelajaran. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, stabilitas ekonomi adalah elemen terpenting dalam perekonomian. Terganggunya stabilitas ekonomi akan mengoyak kestabilan politik dan sosial. Oleh karenanya, upaya pemerintah menjaga kestabilan ekonomi perlu diprioritaskan. Kerusuhan yang terjadi di Inggris saat ini bukan dilatarbelakangi oleh alasan politik, melainkan lebih ke faktor ekonomi dan kesenjangan pendapatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kedua&lt;/span&gt;, kerusuhan dapat menimbulkan kerugian material dan immaterial yang tidak terhitung. Indonesia telah mengalami sendiri dampak pahit dari kerusuhan tahun 1998 yang menimbulkan trauma. Untuk bangkit dari persepsi negatif dunia internasional, membutuhkan waktu yang panjang. Kerugian material akibat kerusuhan Inggris diperkirakan melebihi £100 juta. Namun kerugian immaterial, nampaknya jauh lebih besar lagi karena turunnya kepercayaan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, semakin perlunya pemerintah mendengarkan berbagai permasalahan struktural yang terjadi di masyarakat. Beberapa bulan sebelum kerusuhan, sekitar dua ribu masyarakat miskin di London melakukan demonstrasi. Namun kabarnya tidak satupun orang mendengar. Kerusuhan pun terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pelaku kerusuhan mengatakan bahwa kini dunia mendengar keluhan kami. Dari situ kita melihat bahwa kerusuhan bisa menjadi sarana rakyat untuk menyuarakan pendapatnya, apabila saluran-saluran yang lain mampat. Untuk itu, kita perlu berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Junanto Herdiawan, Ekonom Senior Bank Indonesia, Alumnus Leeds University, Inggris&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-619203943069742742?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/619203943069742742/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=619203943069742742' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/619203943069742742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/619203943069742742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/08/dampak-ekonomi-kerusuhan-inggris.html' title='Dampak Ekonomi Kerusuhan Inggris'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Tx2bwJvSRug/Tkin11FeQ3I/AAAAAAAAAj4/WVEfIcsjTfY/s72-c/riot_jpg_1306055cl-8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-8121836555931488802</id><published>2011-04-08T21:01:00.003+07:00</published><updated>2011-04-08T21:08:17.189+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masa Depan Nuklir Sesudah Fukushima'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><title type='text'>Masa Depan Nuklir Sesudah Fukushima</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://epaper.kontan.co.id/"&gt;Harian KONTAN, 8 April 2011, hal 23&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1r_4iOgg7yc/TZ8Wm6WLIjI/AAAAAAAAAcI/16JMoDCTACI/s1600/Nuclear.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 341px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1r_4iOgg7yc/TZ8Wm6WLIjI/AAAAAAAAAcI/16JMoDCTACI/s400/Nuclear.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593214119970546226" /&gt;&lt;/a&gt; Semenjak terjadi krisis reaktor nuklir Fukushima, yang terletak di wilayah timur laut Jepang, masa depan energi nuklir berada dalam kegamangan. Bayangan tragedi Three Mile Island di Amerika Serikat (1979) dan Chernobyl di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet (1986) terasa bangkit kembali. Dunia kemudian dihinggapi oleh kecemasan akan keselamatan reaktor nuklir dan bahaya radiasi pada kehidupan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah terjadi bencana di Fukushima, Amerika Serikat, India, dan Korea Selatan langsung melakukan review terhadap standar keamanan pada seluruh reaktor nuklir mereka. Jerman menghentikan 7 dari 17 reaktor yang dimiliki. Taiwan mengundurkan jadwal operasi reaktor barunya. Italia melakukan penilaian kembali perlunya memiliki reaktor nuklir. Sementara China menghentikan sementara pembangunan semua reaktor nuklir baru. Rencana pembangunan reaktor nuklir di beberapa negara sementara dihentikan. Hanya dua negara di Asia Tenggara yang mengindikasikan terus memiliki reaktor nuklir, yaitu Indonesia dan Vietnam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengambil kebijakan kini berada pada posisi yang sulit karena menghadapi tekanan publik akan keselamatan reaktor nuklir mereka. Hal inilah yang juga menjadikan banyak negara mulai mempertimbangkan keberadaan reaktor nuklir mereka. Pertemuan pemimpin negara-negara industri maju G-8, yang dijadwalkan Mei mendatang, akan membahas secara khusus tentang standar keamanan reaktor nuklir dan masa depan energi nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan gas dan batu bara, nuklir diyakini sebagai sumber energi masa depan yang harganya lebih murah dan memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah. Para ilmuwan juga mengatakan, untuk kepentingan energi, nuklir memiliki daya damai yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.  Kitapun menyaksikan masa kebangkitan nuklir (nuclear renaissance) sebelum tragedi Fukushima terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ada sekitar 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 31 negara, dan menyumbang sekitar 15% energi listrik dunia. Sebanyak 63 reaktor sedang dibangun, dan lebih dari 158 dalam proses pengajuan pendirian di berbagai negara. Alasannya masuk akal, bahwa upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membutuhkan energi yang berkesinambungan dengan emisi karbon rendah. Apalagi ke depan bahan bakar fosil semakin langka dan habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berbagai negara menimbang ulang pembangunan reaktor nuklir tersebut menjadikan masa depan energi nuklir berada dalam ketidakpastian. Hal ini juga tercermin dari anjloknya harga uranium dunia. Pascatsunami Jepang, harga uranium turun menuju titik terendah pada tanggal 17 Maret 2011, menyentuh US$ 49.74 per lb. Pada masa kebangkitan industri nuklir di tahun 2007-2008, harga uranium pernah menyentuh rekor tertinggi, mencapai US$ 136 per lb, sebelum turun karena krisis ekonomi global. Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, di 2009 permintaan uranium dari 9 negara penghasil uranium sebesar 5,4 juta metrik Ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi perekonomian, ketersediaan energi listrik menjadi salah satu variabel penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berbagai industri manufaktur hanya akan bisa tumbuh dan berkembang di tempat yang menyediakan pasokan energi murah dan berkesinambungan. Hal ini membuat beberapa negara, seperti China dan Vietnam berpacu membangun reaktor nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China telah melakukan investasi agresif di bidang reaktor nuklir. Data dari Asosiasi Nuklir Dunia menunjukkan, di China, sebanyak 27 reaktor sedang dibangun, 50 reaktor sedang dalam proses perencanaan, dan 110 reaktor sedang diajukan untuk mendapat persetujuan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini China memiliki 13 reaktor nuklir yang sudah beroperasi dan menghasilkan 65,7 terrawatt hours (TWh). Jumlah ini hampir mencapai 2% dari kebutuhan total energi di China tahun 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bangkitnya perekonomian China menjadi kekuatan ekonomi nomor dua dunia, Beijing terus menggenjot jumlah reaktor nuklir guna memenuhi target 5% pangsa energi nuklir di tahun 2020. Permintaan energi China diperkirakan meningkat sebesar 75% antara tahun 2008 hingga 2035. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam draft Pembangunan Lima Tahun ke-12 awal Maret lalu, pemerintah China menargetkan tambahan kapasitas listrik sebesar 40 gigawatt tahun 2011-2015. Ini empat kali lebih besar dari ketersediaan listrik di tahun 2010. Namun, bencana di Fukushima membuat China sementara menangguhkan berbagai proyek nuklir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banyak pertimbangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditangguhkannya berbagai proyek nuklir di banyak negara tersebut menunjukkan bahwa meski energi nuklir memiliki “daya damai” yang bermanfaat, segi keselamatan tetap menjadi prioritas. Berbagai tragedi menyisakan pertanyaan berapa yang harus dibayar dari kenyamanan teknologi nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran dari kasus Fukushima ini jelas. Di satu sisi, standar pengamanan dan budaya pengelolaan disiplin menjadi syarat utama pengelolaan reaktor nuklir. Namun di sisi lain, kemungkinan bencana alam terburuk, termasuk gelombang tsunami, juga perlu dipikirkan dalam pembangunan reaktor nuklir. Apalagi beberapa negara yang memiliki reaktor nuklir, justru berada di wilayah “ring of fire” yang rawan dengan bencana gempa, tsunami, dan gunung berapi. Berbagai risiko tadi belum mempertimbangkan risiko lain, yakni ancaman terorisme. Bila terjadi serangan teroris pada reaktor nuklir, dampaknya sangat fatal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya, pembangunan reaktor nuklir memerlukan banyak pertimbangan. Bukan hanya dari sisi tekhnis operasional, namun juga dari sisi ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, masa depan energi nuklir ke depan diperkirakan masih akan tumbuh, namun secara moderat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa negara, seperti Perancis yang tingkat ketergantungannya terhadap nuklir mencapai 75%, Finlandia, dan Belanda, masih akan berjalan dengan program nuklirnya. Negara-negara tersebut  diperkirakan akan meningkatkan investasi untuk membangun reaktor nuklir generasi baru, yang diyakini lebih aman dan tahan terhadap bencana alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, pembangunan beberapa reaktor kemungkinan akan terhambat atau dihentikan seiring dengan dilakukannya pengetatan syarat-syarat keamanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana di Fukushima menunjukkan bahwa Jepang, negara yang paling disiplin, paling baik perencanaannya terhadap bencana dan salah satu yang paling kompeten dalam pengelolaan reaktor nuklir, tampak gagap.  Kegelisahan, kengerian, dan ketakutan, sempat dirasakan pada penduduk Jepang, dan ikut menyebar ke seluruh dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya berbagai hal itu perlu dipertimbangkan oleh setiap negara yang ingin membangun reaktor nuklirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Junanto Herdiawan, Analis  Ekonomi Senior&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-8121836555931488802?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/8121836555931488802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=8121836555931488802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8121836555931488802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8121836555931488802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/04/masa-depan-nuklir-sesudah-fukushima.html' title='Masa Depan Nuklir Sesudah Fukushima'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1r_4iOgg7yc/TZ8Wm6WLIjI/AAAAAAAAAcI/16JMoDCTACI/s72-c/Nuclear.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4212027412252485913</id><published>2011-04-06T04:22:00.003+07:00</published><updated>2011-04-06T04:25:46.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menghitung Tsunami Ekonomi Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dampak Ekonomi Tsunami Jepang'/><title type='text'>Menghitung Tsunami Ekonomi Jepang</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat di &lt;a href="http://epaper.kontan.co.id/v2"&gt;Harian Kontan, 23 Maret 2011, hal 23.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terkena bencana tsunami 11 Maret 2011 lalu, sejatinya perekonomian Jepang telah menyimpan beberapa masalah serius. Ekonomi Jepang menderita penyakit 3D, yaitu Depression, Deflation, dan Demographic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ekonominya mengalami depresi, terjebak dalam deflasi yang berkepanjangan, dan populasinya menua.  Dan saat terkena bencana, mereka mendapat dua tambahan “D” lagi, yaitu Disaster dan Destruction. Belum lagi ada satu “D” yang selama ini juga telah menggayuti ekonomi Jepang, yaitu Debt (Utang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana kali ini lebih berat, karena selain menghadapi gempa dan tsunami, Jepang harus menghadapi krisis reaktor nuklir Fukushima. Bagaimana dampak bencana kali ini bagi Jepang? Untuk menghitung dampaknya, pertama kita perlu menghitung potensi kerugian yang muncul dari bencana kali ini. Lalu, kita perlu melihat potensi pemulihan atau rekonstruksi pascabencana yang dilakukan oleh Jepang, sehingga dampak total bencana bisa diperkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kita juga dapat memperkirakan dampak bencana ini bagi perekonomian Indonesia.  Bagi Indonesia, Jepang adalah mitra dagang terbesar, dengan pangsa sekitar 17% dan total ekspor senilai 25 miliar dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendapat yang mencoba membandingkan bencana kali ini dengan Gempa Kobe tahun 1995. Beberapa analis berpendapat, dampak bencana 2011 pada perekonomian Jepang tidak akan sebesar Kobe. Hal ini karena daerah yang terkena tsunami (Prefektur Miyagi), memiliki potensi ekonomi lebih kecil dibandingkan Kobe. Menilik pangsanya terhadap produk domestik bruto (PDB), pangsa Prefektur Miyagi hanya 1,7% terhadap PDB, lebih kecil dibanding Kobe, yang mencapai 2% dari PDB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita perlu ingat bahwa gempa yang menimpa Kobe berbeda dengan tsunami Miyagi. Saat Gempa Kobe, yang terkena dampaknya adalah sektor pelabuhan dan industri, namun tidak memengaruhi pasokan energi ke seluruh Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami tahun ini, bukan hanya menghantam wilayah Miyagi, namun mengenai reaktor nuklir Fukushima, yang menjadi pemasok sekitar 24% energi ke seluruh Jepang. Akibatnya, bukan hanya di wilayah yang terkena tsunami, namun sebagian besar Pulau Honshu (pulau terbesar di Jepang), mengalami kekurangan suplai energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal tersebut, bencana kali ini diperkirakan memberi dampak serius, dan kerugian yang lebih besar dibandingkan dengan Gempa Kobe 1995. Dampak putaran pertama dari bencana Jepang ini (first round impact) adalah menurunnya output beberapa industri, terkait dengan rusaknya pabrik akibat tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Miyagi, terdapat empat area yang terkena dampak paling parah, yaitu Iwate, Miyagi, Fukushima, dan Ibaraki. Keseluruhannya menyumbang sekitar 6,2% PDB Jepang (berdasarkan pengeluaran). Tsunami yang menghantam wilayah timur laut Jepang, diperkirakan akan menghentikan industri yang berada di wilayah sekitar pantai timur laut, minimal satu tahun ini, akibat kerusakan parah pada pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analis memperkirakan terhentinya pabrik tersebut akan menurunkan pertumbuhan Jepang sebesar 2,2% hingga 3.0% dari PDB, atau sekitar 12 triliun Yen (148 miliar dolar AS). Apabila hal itu juga memperhitungkan industri berat di wilayah Fukushima dan Ibaraki, dampaknya akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak lanjutan (second round impact) dari bencana tersebut muncul akibat krisis reaktor nuklir Fukushima. Jepang akan mengalami kekurangan energi listrik dalam jangka pendek. Hal ini mengakibatkan penutupan operasi industri di hampir sebagian wilayah Kanto, atau di luar wilayah yang terkena dampak tsunami, khususnya industri yang menyerap banyak tenaga listrik, seperti industri baja dan otomotif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pemadaman bergilir dilakukan bukan hanya pada daerah yang  terkena gempa, melainkan juga pada sekitar 13 prefektur, yang menyumbang sekitar 42% dari PDB Jepang. Mereka  menjadi basis industri terkemuka Jepang, seperti Sony, Toyota, Nippon Steel, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko lain yang akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Jepang adalah turunnya konsumsi masyarakat akibat kepercayaan yang turun, penguatan Yen yang berkelanjutan, dan apabila penanganan krisis reaktor nuklir tidak berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tumbuh berkat rekonstruksi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kerugian terhadap perekonomian Jepang akibat bencana ini cukup besar, harapan terletak pada  upaya rekonstruksi atau pembangunan kembali Jepang, dalam jangka menengah panjang. Berapa jumlah biaya pemulihan untuk bencana kali ini, masih sulit dihitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak analis memperkirakan biaya rekonstruksi gempa-tsunami 2011 ini antara US$ 100 milar – US$ 200 miliar dolar AS. Sementara biaya pembangunan kembali infrastruktur diperkirakan mencapai US$ 300 miliar dalam waktu sekitar 3 tahun. Biaya itu belum mempertimbangkan dampak pembersihan reaktor nuklir Fukushima, yang kemungkinan akan memakan waktu panjang dan biaya besar.  Melihat dari kasus Three Mile Island di Amerika, mereka membutuhkan 14 tahun dengan biaya lebih dari US$ 1 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghitung kerugian dan potensi rekonstruksi pascabencana tersebut, perekonomian Jepang diperkirakan akan melemah dalam jangka pendek, terkait dengan kekurangan energi listrik dan rantai distribusi yang terganggu. Namun, proses rekonstruksi diperkirakan akan menahan kontraksi ekonomi tersebut.  Beberapa lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang akan turun antara 0.1-0.2% secara year on year (yoy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspor Jepang dari industri yang mengandalkan tenaga listrik besar, seperti – baja, otomotif, elektronik – diperkirakan akan terpukul terkait dengan dihentikannya produksi beberapa pabrik dan turunnya kepercayaan pasar. Di sisi lain, impor Jepang, terutama bahan bakar untuk mengkompensasi hilangnya tenaga nuklir akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tarik ke dalam negeri, sebagai mitra dagang terbesar, gempa Jepang akan memberi dampak pada perekonomian Indonesia, khususnya melalui jalur perdagangan dan keuangan. Di sisi perdagangan, kita melihat kebutuhan energi Jepang akan meningkat dalam jangka pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah tsunami, Jepang menandatangani kesepakatan tambahan impor LPG sebesar 150.000 ton dari Rusia, dan 500.000 ton dari Korea Selatan. Dari sisi ini, Indonesia tentu dapat melihat peluang akan meningkatnya ekspor LPG ke Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di jangka menengah, saat dilakukannya rekonstruksi, kebutuhan akan alat-alat listrik dan alat dukung konstruksi diperkirakan ikut meningkat. Namun di sisi lain, impor Indonesia dari Jepang juga akan terpengaruh. Produksi otomotif, baja, dan elektronik Jepang, diperkirakan akan terganggu, setidaknya hingga akhir tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita tidak hanya perlu melakukan antisipasi ataupun meributkan dampak radiasi reaktor nuklir Jepang ke Indonesia. Namun yang tak kalah penting juga adalah bagaimana kita bisa mengantisipasi dampak ekonomi dari bencana yang terjadi di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Junanto Herdiawan&lt;br /&gt;Ekonom di Kantor Perwakilan BI Tokyo&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4212027412252485913?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4212027412252485913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4212027412252485913' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4212027412252485913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4212027412252485913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/04/sebelum-terkena-bencana-tsunami-11.html' title='Menghitung Tsunami Ekonomi Jepang'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6818754879695485606</id><published>2011-03-24T19:01:00.002+07:00</published><updated>2011-03-24T19:05:21.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisis Nuklir Fukushima'/><title type='text'>Meneropong Ekonomi Jepang Pascatsunami</title><content type='html'>Sebagaimana dimuat di &lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2011/03/22/13340838/Meneropong.Ekonomi.Jepang.Pascatsunami"&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski situasi di Jepang masih kritis karena isu meluasnya radiasi dari reaktor nuklir Fukushima, upaya menghitung kerugian ekonomi mulai dilakukan oleh banyak pihak. Dalam beberapa hari ini, kami sempat berdiskusi dengan para analis di Tokyo untuk membahas dampak bencana terhadap ekonomi Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadi penting, karena Jepang adalah mitra dagang terbesar Indonesia dengan pangsa 17% dan perdagangan senilai 25 miliar dollar AS. Oleh karenanya, apa yang terjadi di Jepang pada gilirannya akan berdampak pada ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terlalu dini untuk menghitung secara lengkap data ekonomi dari bencana kali ini. Namun kita perlu membedakan dua krisis yang menimpa Jepang, yaitu bencana gempa-tsunami dan krisis reaktor nuklir Fukushima. Gempa dan tsunami memang menghancurkan Jepang. Namun, dari sisi ekonomi, upaya rekonstruksi atau pembangunan kembali akan mendorong lagi aktivitas perekonomian Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, krisis reaktor nuklir Fukushima kemungkinan dapat menjadi masalah bagi ekonomi Jepang apabila dampaknya meluas. Keterbatasan pasokan listrik akibat berhentinya reaktor nuklir Fukushima dapat menggangu keberlangsungan industri Jepang. Selain itu, masalah radiasi yang dikabarkan mulai menyebar ke produk makanan dan air minum di Jepang, dapat mengakibatkan gangguan pada perekonomian Jepang apabila tidak segera diatasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terkena tsunami, ekonomi Jepang telah menyimpan masalah serius. Mereka menderita penyakit 3D, yaitu Depression, Deflation, dan Demographic. Ekonominya mengalami Depresi dan terjebak dalam Deflasi yang berkepanjangan, sementara populasinya menua (Demografi). Saat terkena tsunami, mereka mendapat derita dua tambahan “D” lagi, yaitu Disaster dan Destruction. Gabungan 5D tersebut membawa masalah besar yang berujung pada penyakit persisten ke 6 yang selama ini menggayuti ekonomi Jepang, yaitu DEBT (Utang). Lengkaplah Jepang menderita penyakit 6D. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai masalah tersebut, bagaimana Jepang dapat bangkit dari krisis? Apabila dilihat dari sisi ekonomi, banyak yang membandingkan bencana gempa tsunami kali ini dengan gempa di Kobe tahun 1995. Saat itu Jepang begitu cepat pulih dan dampak bencananya tidak besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat gempa kali ini, sumbangan wilayah Miyagi yang terkena gempa, terhadap PDB Jepang, jauh lebih kecil dibandingkan Kobe. Miyagi Prefektur “hanya” menyumbang 1.7% dari total PDB Jepang. Angka ini lebih kecil dibandingkan Kobe dengan sumbangan sebesar 2% dari total PDB. Kobe juga merupakan wilayah industri yang memiliki pelabuhan besar dunia, dengan sumbangan 4% dari PDB Jepang. Dengan indikator tersebut, beberapa pengamat memperkirakan gempa kali ini berdampak lebih sedikit pada pertumbuhan ekonomi Jepang dibanding Kobe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang kita tidak boleh lupa adalah bahwa gempa kali ini memiliki eksposur dan skala yang lebih besar dari Kobe. Selain itu, yang lebih parah lagi adalah, saat Gempa Kobe tidak terjadi masalah dengan pasokan listrik di Jepang. Krisis nuklir di Fukushima yang terjadi setelah gempa 2011 ini, telah mengakibatkan Jepang mengalami krisis listrik. Sebagai informasi, reaktor nuklir Fukushima 1 dan 2 menyumbang sekitar 24% tenaga listrik bagi Jepang. Akibat ditutupnya reaktor tersebut, Jepang mengalami krisis energi listrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan energi listrik tersebut akan berdampak langsung pada industri yang menyerap banyak tenaga listrik, seperti industri baja dan otomotif. Akibat tidak langsungnya terjadi pada industri turunannya, seperti spare parts dan perlengkapan lainnya, yang ikut tutup karena industri hulunya tutup. Pemadaman bergilir juga dilakukan bukan hanya di wilayah yang terkena gempa, namun pada sekitar 13 prefektur, yang menyumbang sekitar 42% dari PDB Jepang, dan menjadi basis industri terkemuka Jepang, seperti Sony, Toyota, Nippon Steel, dll. Dalam skenario terburuk, apabila keseluruhan industri tersebut akan mengurangi kapasitas operasinya hingga beberapa minggu pascabencana, dampaknya ke PDB diperkirakan cukup signifikan. Ini artinya, ekonomi Jepang akan melemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harapan terletak pada upaya pembangunan kembali Jepang pascabencana. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan kembali Jepang diperkirakan melebihi 200 miliar dollar AS. Bahkan ada yang mengatakan hingga 500 miliar dollar AS. Angka ini selain muncul dari klaim asuransi, juga dari biaya pembangunan infrastruktur, seperti jembatan, jalan raya, dan bangunan. Hal ini dapat menahan perlambatan ekonomi Jepang dalam jangka menengah panjang. Total biaya rekonstruksi ini akan lebih besar lagi kalau memperhitungkan biaya pemulihan wilayah di sekitar reaktor nuklir Fukushima. Saat krisis reaktor Three Mile Islands saja, biaya yang muncul hampir mencapai 1 miliar dollar AS untuk pembersihan radiasi selama 14 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bencana tersebut, tahun ini Jepang akan memasuki double dip recession, atau kembali lagi masuk ke zona resesi, dengan pertumbuhan negatif pada triwulan I dan triwulan II 2011, setelah juga mengalami kontraksi ekonomi sebesar 0.3% pada triwulan IV-2010. Dampak negatif bencana akan dirasakan sepenuhnya pada tahun 2011, terkait dengan kekurangan energi listrik dan rantai distribusi yang terganggu. Selanjutnya, pada tahun 2012 hingga 2016, Jepang diperkirakan akan melakukan rekonstruksi seluruh daerah yang terkena gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat dari sisi Neraca Pembayaran, ekspor Jepang dari industri yang mengandalkan tenaga listrik besar, seperti – baja, otomotif, elektronik – dan konsumsi diperkirakan akan terpukul terkait dengan dihentikannya produksi beberapa pabrik dan turunnya kepercayaan pasar. Di sisi lain, impor Jepang, terutama terkait dengan bahan bakar untuk mengkompensasi hilangnya tenaga nuklir akan meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ke depan, akan sangat tergantung pada bagaimana Jepang mengatasi dampak ekonomi bencana ini. Apakah Jepang akan mengoptimalkan industrinya di luar negeri, dan mencari alternatif sumber energi secara cepat, akan sangat memengaruhi pemulihan mereka. Apabila Jepang mampu secara cepat mengganti sumber energi listriknya, maka dampak negatif ekonominya dapat dikurangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi berbagai perkembangan tersebut, Indonesia perlu berhitung dan melihat dampak dari bencana Jepang. Dampak bencana Jepang akan sampai ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan keuangan. Dalam jangka pendek, Jepang pasti akan membutuhkan alternatif pengganti energi. Kemungkinan terbesar adalah mereka akan mengimpor LNG secara besar-besaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kemungkinan besar dalam jangka menengah, sektor industri, perbankan, dan keuangan Jepang, akan memfokuskan operasi pada rekonstruksi pascabencana. Di satu sisi, hal ini akan meningkatkan permintaan bahan-bahan listrik, alat-alat konstruksi, dan kebutuhan material lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ujungnya, kita tidak hanya perlu melakukan antisipasi ataupun meributkan dampak radiasi reaktor nuklir Jepang ke Indonesia. Namun yang tak kalah penting juga adalah bagaimana kita bisa mengantisipasi dampak ekonomi dari bencana yang terjadi di Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Tokyo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6818754879695485606?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6818754879695485606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6818754879695485606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6818754879695485606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6818754879695485606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/03/meneropong-ekonomi-jepang-pascatsunami.html' title='Meneropong Ekonomi Jepang Pascatsunami'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1052490080519565272</id><published>2011-03-24T18:56:00.002+07:00</published><updated>2011-03-24T19:01:10.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisis Nuklir Fukushima'/><title type='text'>Mengapa Saya (Masih) Bertahan di Tokyo</title><content type='html'>Sebagaimana dimuat di &lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2011/03/19/19350966/Mengapa.Saya.Masih.Bertahan.di.Tokyo"&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis nuklir acapkali menimbulkan ketakutan. Saat bom atom pertama diciptakan, hingga nuklir ditemukan, manusia berada dalam ketakutan yang konstan. Ini yang dulu dikatakan oleh filsuf Hans Jonas sebagai “heuristik ketakutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis reaktor nuklir Fukushima 1 terjadi, saya juga dirambati oleh rasa takut itu. Jarak reaktor nuklir Fukushima dengan Tokyo hanya sekitar 200km. Dalam pikiran saya, sekiranya terjadi hal terburuk, kota Tokyo akan diterjang radiasi nuklir dalam hitungan jam. Makin hari, krisis juga terlihat makin tereskalasi, dan seolah tak terkendali. Berbagai ledakan dan lepasan radioaktif terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, media massa terus menerus memberitakan suasana yang mencekam. Saat dikatakan radiasi telah mencapai kota Tokyo, saya makin dilingkupi rasa takut. Keluarga di rumah, anak-anak yang masih kecil, dan terutama dampak radiasi yang mengerikan, menjadi alasan saya untuk takut. Belum lagi ditambah puluhan telpon dan sms dari kerabat di tanah air, yang pesannya sama, “Pulang sekarang juga, keadaan makin bahaya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa makin menyulut kepanikan. Hal itu turut dirasakan di Tokyo, khususnya para warga negara asing. Gelombang eksodus warga asing meningkat. Bandara Narita penuh oleh warga asing yang ingin pulang ke negaranya. Saya mencoba menghubungi sesama kolega warga asing di Tokyo. Rekan dari Perancis, Italia, Jerman, dan negara Eropa lainnya sudah mengungsi. Saat saya telpon kantor mereka, banyak yang sudah di luar Tokyo. Sementara kolega dari Cina, saat saya hubungi sudah mengungsi ke selatan. Hanya satu kolega dari Korea Selatan yang masih bertahan dan tetap bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar apabila saya panik melihat kondisi seperti itu. Haruskah saya ikut lari, mengikuti kepanikan ratusan manusia lainnya. Haruskah saya panik, meninggalkan sahabat-sahabat Jepang saya di kantor, yang berulangkali meyakinkan saya bahwa keadaan aman. Haruskah saya mengungsi, semata hanya karena mempercayai apa yang dimuat di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat ucapan PM Inggris Lloyd George tentang kepanikan di pasar keuangan, “financiers in panic do not make a pretty sight”. Dalam kepanikan kita kerap tak bisa berpikir jernih. Sayapun kemudian mencoba melihat keadaan di kota Tokyo. Hampir tidak ada tanda-tanda kepanikan di wajah orang Jepang. Mereka melakukan aktivitas seperti biasa. Aktivitas berjalan normal tanpa ada yang berubah signifikan. Kalaupun ada yang berbeda adalah karena pasokan listrik yang berkurang, sehingga terjadi penghematan listrik di banyak tempat, termasuk pengurangan operasi kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pekan lalu, rekan-rekan analis Jepang bahkan masih mengajak diskusi, menelpon, seperti keadaan normal. Saya juga menerima telpon dari beberapa perusahaan dan bank Jepang yang mengatakan bahwa investor Jepang masih akan melakukan investasi di Indonesia. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka tidak panik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya tanya, jawabnya adalah karena mereka percaya pada pemerintahnya. Orang Jepang percaya bahwa pemerintah Jepang akan melakukan yang terbaik dan selalu memikirkan rakyatnya. Jangankan untuk krisis nuklir, saat gempa dan seluruh transportasi mati di Tokyo saja, tiba-tiba di stasiun sudah dibagikan selimut dan air putih gratis. Beberapa vending machine otomatis gratis. Makanan juga tiba-tiba keluar entah dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Jepang sudah siap dengan berbagai kemungkinan. Apalagi untuk krisis nuklir, sangat tidak mungkin apabila pemerintah belum memikirkan kondisi terburuk. Alhasil, orang Jepang bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Meski mereka juga pastinya waswas dengan perkembangan yang terjadi, tapi itu tidak ditunjukkan. Setiap bertemu, mereka saling mengobarkan semangat sesama untuk membangun kembali Jepang. Sama sekali tidak ada kepanikan seperti yang digambarkan di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat saya, mas Kunta, kandidat PhD Nuklir di Jepang, yang mengatakan bahwa keadaan tak seburuk yang diberitakan media. Saya sempat ikut dalam pertemuan darurat nuklir di KBRI Tokyo, yang dipimpin oleh Dubes RI untuk Jepang, M Lutfi. Dari diskusi yang juga dihadiri para ahli nuklir tadi, kami berkeyakinan bahwa kondisi sampai saat ini masih aman, dan KBRI belum perlu melakukan evakuasi pada warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mahasiswa nuklir tersebut, kami menyebutnya “The Nuclear Boys”, diberi ruang kerja di KBRI Tokyo untuk terus memantau dan melakukan update pada warga Indonesia akan kondisi reaktor nuklir Fukushima. Mereka akan memberikan sinyal alert sekiranya kita perlu melakukan evakuasi, yang menurut mereka sangat kecil kemungkinannya terjadi di Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seperti ikut kuliah nuklir saat mengikuti penjelasan para nuclear boys ini. Menurut mereka, apa yang dilakukan pemerintah Jepang saat ini sudah sesuai dengan prosedur pengamanan reaktor nuklir, karena reaktor nuklir dibangun dengan mempersiapkan keadaan terburuk yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada reaktor Fukushima ini dapat dikatakan apes. Rencananya reaktor ini akan ditutup pada bulan April 2011, karena usianya yang sudah lama (40 tahun). Namun siapa nyana, sebelum ditutup malah terkena tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah berusia 40 tahun, reaktor Fukushima ini tetap menganut prinsip dasar pengelolaan reaktor nuklir yang dikenal dengan istilah 3C, yang berarti Control, Cool, dan Contain. Dalam kondisi apapun, termasuk bencana, reaktor nuklir harus selalu dapat di –Control. Dan fungsi Control ini terbukti bekerja baik. Hal ini terbukti saat gempa terjadi, seluruh reaktor berhenti (shutdown), yang mengurangi terjadinya risiko kebocoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhenti, reaktor ini membutuhkan langkah pendinginan (cooling). Langkah ini sebenarnya dapat dilakukan secara otomatis dengan pompa listrik yang akan menyirami reaktor dengan air laut. Sayangnya, tsunami menghajar alat otomatis tersebut. Akibatnya proses pendinginan gagal. Inilah yang saat ini diributkan dan diberitakan di media. Inilah juga yang sedang dilakukan dan diperjuangkan oleh Jepang. Mereka berusaha mendinginkan reaktor tersebut. Langkah pendinginan itu mensyaratkan beberapa ledakan untuk mengurangi tekanan. Jadi ledakan-ledakan tersebut bukan tak terkendali, namun memang bagian dari proses pendinginan. Risikonya memang ada pelepasan radiasi ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pendinginan gagal, bahan radioaktif yang berbahaya masih tersimpan dalam tabung pengamannya (reactor vessel). Inilah fungsi C ketiga, atau Contain tadi. Bahan radioaktif berbahaya di reaktor Fukushima, tersimpan baik dalam berbagai lapisan tabung pengaman. Hal ini berbeda dengan reaktor nuklir Chernobyl yang tidak memiliki vessel pengaman dan tidak didinginkan dengan air, melainkan dengan graphite yang justru memicu api. Reaktor Chernobyl juga digunakan untuk keperluan militer, sementara Fukushima untuk pembangkit energi. Oleh karena itu, di Chernobyl, material yang digunakan berbeda, materinya berbeda, dan cara penangannya juga berbeda. Jadi, bencana Chernobyl tidak mungkin terjadi di Fukushima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai radiasi yang terjadi, bahan yang saat ini dilepaskan di udara adalah jenis cesium 137 dan iodine 131. Keduanya terbawa udara dan tertiup angin sampai di Tokyo. Namun semakin jauh zat ini dari pusatnya, ia semakin terurai dan tidak berbahaya. Inilah yang menjadikan pemerintah Jepang membuat radius evakuasi sepanjang 30 km. Sementara mereka mengatakan bahwa kota Tokyo masih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, radiasi di daerah Shinjuku Tokyo sekitar 0.089 microsievert (satuan pengukur radiasi). Sebagai perbandingan, angka radiasi itu kurang lebih sama dengan radiasi kalau kita makan 4 butir pisang. Jauh lebih kecil dari radiasi kalau kita naik pesawat terbang, ataupun bekerja di depan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai alasan yang sangat rasional tersebut, saya belum melihat alasan mengapa harus melakukan evakuasi dari Tokyo saat ini. Masyarakat Jepang tetap bekerja, dan kitapun harus tetap bekerja. Beberapa kerabat dan teman yang khawatir dengan kondisi kami, saya sarankan untuk sementara berhenti melihat televisi atau media yang kerap “lebay” dalam memberitakan keadaan di Jepang, khususnya terkait dengan krisis nuklir Fukushima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pemerintah Jepang memang terletak pada upaya komunikasi mereka yang kurang baik. Orang Jepang terkenal hebat dalam perencanaan dan pelaksanaan, namun kerap memiliki masalah dengan komunikasi. Hal ini yang menyebabkan terjadinya banyak ketidakjelasan dalam penanganan krisis nuklir kali ini. Persis seperti saat krisis rem blong Toyota lalu, di mana mereka sangat lama dalam melakukan respons. Hal ini mungkin terkait juga dengan budaya mereka yang selalu ingin semuanya serba pasti sebelum berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, berdasarkan berbagai informasi tadi, dan juga melihat kegigihan orang-orang Jepang, ketangguhan rekan PPI, kesabaran rekan KBRI, dan teman Indonesia lain di Jepang, saya melihat memang belum ada alasan untuk melakukan evakuasi saat ini. Semoga keadaan ke depan bisa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2011/03/19/19350966/Mengapa.Saya.Masih.Bertahan.di.Tokyo"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1052490080519565272?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1052490080519565272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1052490080519565272' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1052490080519565272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1052490080519565272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/03/mengapa-saya-masih-bertahan-di-tokyo.html' title='Mengapa Saya (Masih) Bertahan di Tokyo'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-7304045482601037343</id><published>2011-03-13T14:27:00.003+07:00</published><updated>2011-03-13T14:38:42.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merasakan Gempa Terburuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsunami Jepang'/><title type='text'>Merasakan Gempa Terburuk di Jepang</title><content type='html'>Sebagaimana dimuat di &lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2011/03/12/13285410/Merasakan.Gempa.Terburuk.di.Jepang"&gt;Kompas.com, 12 Maret 2011&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-1kHfcVWuT_Q/TXx0YAYmd3I/AAAAAAAAAbw/B_sTBjrgwd4/s1600/gempa%2Bjepang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1kHfcVWuT_Q/TXx0YAYmd3I/AAAAAAAAAbw/B_sTBjrgwd4/s400/gempa%2Bjepang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583465593801439090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu tahun tinggal di Jepang, saya sering merasakan gempa. Hampir setiap bulan, Jepang diguncang gempa. Oleh karenanya, saya mulai terbiasa oleh gempa sporadis yang berulangkali terjadi. Biasanya saya akan tetap diam dan menunggu hingga gempa berlalu. Warga Jepang juga terbiasa dengan gempa. Mereka selalu terlihat tenang, setiap gempa mengguncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, gempa kemarin (11/3) sungguh beda. Itu bukan gempa biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat guncangan pertama terjadi, saya merasakan getaran yang hebat. Tak lama, lemari di ruang kerja saya jatuh terbalik dan buku-buku bertebaran. Saat itu saya sedang berada di kantor yang berlokasi di lantai 9 sebuah gedung di daerah Marunouchi, Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung berdiri dan bertanya pada rekan kantor yang warga Jepang. Mulanya mereka mengatakan untuk tenang, namun saat guncangan makin besar, mereka juga panik. Kalau warga Jepang sudah panik, artinya gempa ini serius. Ketika getaran semakin keras, kami bertahan di bawah meja dan melihat ruangan kantor porak poranda. Selain lemari, papan tulis, gantungan jaket, dan buku-buku, ambruk dan berhamburan ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran tidak berhenti namun justru bertambah kencang. Debu-debu mulai berjatuhan dari langit-langit ruang kerja. Saat itu, kami mulai panik. Namun di tengah kepanikan, saya kagum dengan kesigapan, standard operation procedure, dari pengelola gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat guncangan pertama terjadi, pengeras suara langsung mengumumkan bahwa saat ini terjadi gempa yang cukup keras. Kita diminta untuk tetap bertahan di ruangan. Hal ini bagi saya agak berat, sebab sudah pernah beberapa kali merasakan gempa di gedung tinggi Jakarta. Dan yang dilakukan saat itu adalah, kita berhamburan keluar melalui pintu darurat. Namun hal itu justru dilarang di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan mengatakan bahwa berada di luar gedung saat gempa justru lebih berbahaya. Kami diminta untuk bertahan di dalam. Gedung sudah dirancang untuk tahan gempa. Mudah memang mengatakannya, namun kalau anda berada pada posisi yang secara konsisten diguncang dan dibanting selama bermenit-menit, yang terbersit tentu pikiran untuk segera keluar dari gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir dua jam, guncangan tidak berhenti. Keras, reda, kemudian kembali dibanting-banting lagi. Bukan hanya gerakan dari kiri ke kanan, namun juga diguncang dari atas ke bawah. Kami bertahan di bawah meja saat guncangan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai di kantor kami secara sigap langsung membagikan makanan, air minum, mempersiapkan senter dan peluit. Itu memang standar penanganan gempa di gedung-gedung tinggi Jepang. Saat pertama kali berkantor, saya juga sudah diingatkan untuk selalu menyediakan berbagai keperluan standar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat guncangan semakin keras, pikiran saya tentu tertuju ke keluarga di rumah. Apalagi saat itu anak saya sedang berada di sekolah. Namun saya lebih tenang kalau anak di sekolah, karena sekolah di Jepang telah memiliki standar penanganan gempa, dan anak-anak sudah dilatih menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya diberikan perangkat gempa dari sekolah, berupa tutup kepala yang selalu harus dipasang di bangkunya setiap hari, baik saat terjadi maupun tidak terjadi gempa. Mereka juga dilatih bagaimana kalau terjadi gempa, ke mana harus berkumpul, dan bagaimana sekolah mengontak orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak kelurahan juga telah memeringati tentang kemungkinan terjadinya gempa besar ini sejak tahun lalu. Mereka sudah antisipasi akan terjadi gempa besar, namun tidak dapat memastikan kedatangannya. Hal yang dilakukan adalah secara rutin berlatih menghadapi gempa. Di sekolah, di rumah, dan di perkantoran, kami dilatih untuk menghadapi gempa. Di setiap perumahan juga tersedia pengeras suara dan sirene yang menandakan gempa, serta apa yang perlu kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi tersebut, saya merasa lebih tenang akan kondisi keluarga.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, pengeras suara di gedung berbunyi kembali dan mengatakan bahwa seluruh lift dimatikan, para penghuni gedung diminta menjauh dari tempat berbahaya, jangan menyalakan api, dan tetap berada di ruangan. Diingatkan pula bahwa gempa susulan masih akan terus terjadi. Petugas-petugas gedung juga melakukan inspeksi ke setiap ruangan untuk memastikam keamanan gedung dan penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada di gedung sekitar 4 jam hingga pengumuman mengatakan boleh keluar. Namun, saat berhasil keluar gedung, seluruh layanan kereta api dan bis kota dihentikan. Pemerintah kota mengambil langkah antisipatif demi keamanan penumpang. Penduduk Tokyo pun tumpah ruah di jalan, berdesakan di stasiun, karena tidak bisa pulang. Kebanyakan pekerja di Tokyo tinggal di luar kota dan menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi mereka. Berhentinya kereta api, berarti terputusnya hubungan dengan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena udara musim dingin begitu menggigil, sekitar 5 derajat, dan jalan kaki tidak mungkin, maka sebagian mereka menginap di kantor. Akibatnya banyak convenience store (kombini) diserbu orang untuk sekedar mendapatkan roti atau onigiri (nasi kepal Jepang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik dari gempa di Jepang adalah perkara kesiapan pemerintah dan warganya dalam menghadapi bencana. Meski panik, mereka terlihat tenang dalam menyikapi bencana. Prosedur dan latihan bertahun-tahun membentuk ketenangan tersebut. Selain itu, budaya memikirkan orang juga patut dicontoh. Saat pulang semalam, meski jalanan padat oleh mobil, masyarakat menyerbu supermarket untuk makanan, warga mencari taksi untuk kembali pulang, mereka tetap melakukannya dengan tertib dan antri secara teratur. Di jalanan, meski macet total, tapi tidak terlihat ada yang menyerobot, bahkan menyalakan klakson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa dan bencana alam memang tak bisa ditolak. Korban juga tak dapat dihindari. Gempa saat ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah gempa di Jepang. Namun mereka telah mempersiapkan kedatangan gempa ini jauh-jauh hari. Malang tentu tak dapat ditolak, tapi bagaimana kita menyikapi bencana tersebut menjadi penting. Dengan persiapan yang matang dan antisipasi yang baik, meski terdapat korban, jumlahnya bisa diminimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan bila Jepang tidak mempersiapkan diri, termasuk mempersiapkan ketahanan bangunannya. Korbannya mungkin bukan hanya akibat tsunami, tapi ditambah dengan akibat reruntuhan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, gempa susulan masih terjadi beberapa kali. Mudah-mudahan keadaan bisa lebih baik di sini, dan kita bisa mengambil pelajaran. Mohon doanya dari rekan kompasianer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-7304045482601037343?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/7304045482601037343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=7304045482601037343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7304045482601037343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7304045482601037343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2011/03/merasakan-gempa-terburuk-di-jepang.html' title='Merasakan Gempa Terburuk di Jepang'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1kHfcVWuT_Q/TXx0YAYmd3I/AAAAAAAAAbw/B_sTBjrgwd4/s72-c/gempa%2Bjepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-5157191313781627050</id><published>2010-12-20T09:40:00.003+07:00</published><updated>2010-12-20T13:33:16.968+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sepak bola dan krisis global'/><title type='text'>Wajah Tampan dan Tribalisme Sepak Bola</title><content type='html'>Saya adalah pecinta teater dan drama. Di Gelora Bung Karno semalam, sebuah drama kembali terjadi. Tim nasional Indonesia melaju ke Final piala AFF. Gegap gempita penontonpun meledak riuh. Lewat internet, saya melihat bahwa sepak bola adalah sebuah teater yang mampu menerabas batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak bola memang lebih dari sekedar olah raga. Bukan hanya para pecinta bola, namun banyak pula mereka yang tak paham sepak bola, malam itu ikut bersorak riang menyaksikan tim nasional Indonesia. Mulai dari semangat nasionalisme,  lambang garuda di dada, merah putih di lapangan, teknik permainan, hingga sekedar menyaksikan wajah tampan para pemain muda. Banyak alasan. Tapi itu semua adalah penanda bahwa nasionalisme dan kebangsaan masih nyata di sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik segala tekhnik permainan, hingga wajah tampan pemain, pertandingan sepak bola selalu memberi kita banyak makna.  Sebelum menonton sepak bola tadi malam, saya terlibat diskusi dengan seorang kawan tentang krisis ekonomi di Eropa. Kami berbicara mengenai krisis ekonomi global yang telah tiga tahun berjalan. Tak banyak kita memperoleh jawab. Tapi siapa sangka bahwa pemandangan di Gelora Bung Karno semalam bisa menjelaskan krisis global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuh rendah penonton di lapangan menunjukkan bahwa sepak bola adalah jawaban mengapa globalisasi gagal. Sepak bola adalah jawaban mengapa krisis bisa terjadi. Sepak bola mengatakan bahwa globalisasi menyimpan kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum krisis terjadi, Franklin Foer pernah menulis sebuah buku berjudul “How Soccer Explains The World”. Menurutnya, sepak bola bisa menjelaskan dunia, baik dari sisi politik, budaya, sosial, dan ekonomi, di era globalisasi ini. &lt;br /&gt;Teori globalisasi mengatakan bahwa dunia semakin datar. Batas negara bisa diterabas dengan menyatunya ekonomi dunia. Muncullah ide penyatuan mata uang, perjanjian dagang, hingga berbagai kerjasama multilateral dan bilateral. Kemudian lahirlah Uni Eropa, WTO, AFTA, APEC, G20, dan kerjasama lain yang mensamarkan batas-batas negara. Uni Eropa bahkan telah menyatukan mata uangnya menjadi Euro. Di ASEAN sendiri, muncul diskusi untuk membuat mata uang bersama ASEAN.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas negara diterabas karena kekuatan modal tak mengenal nasionalisme. Bagi modal, tujuan utamanya adalah keuntungan. Modal kemudian merasuk ke dalam pikiran para pengambil keputusan, oligarki perusahaan, dan para kapitalis, untuk dapat menyediakan ruang lebih luas bagi berkembang biaknya modal. Globalisasi adalah jawaban dari ambisi modal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pada ujungnya manusia tetap tak bisa diperbudak oleh modal. Seberapapun derasnya arus globalisasi, semangat tribalisme kesukuan tetap ada.  Hal inilah yang menjadi hambatan bergulirnya globalisasi. Dan di sepak bola, kita melihat jawaban akan fenomena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris misalnya, kalau bicara negara, mereka memakai bendera Union Jack, atau menyebut diri dengan United Kingdom. Tapi saat tiba di sepak bola, mereka punya empat bendera, Scotland, England (St. George’s Cross), Wales, dan (Northern) Ireland.  Semangat kesukuan, tribalisme, dan nasionalisme masing-masing wilayah, tetap tak bisa dipersatukan oleh kekuatan apapun, termasuk kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita melihat sepak bola Indonesia, yang saat ini muncul adalah nasionalisme. Pemandangan di GBK semalam menunjukkan bahwa nasionalisme masih hidup. Berhadapan dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, emosi kebangsaan muncul lebih tinggi dari emosi regionalisme. Menghadapi Malaysia di final nanti, banyak yang bukan lagi sekedar melihat sebagai sepak bola. Emosi dan sentimen bangsa ikut mewarnai pertandingan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Franklin Foer menyebut hal ini dengan semangat tribalisme yang masih hidup. Setiap negara masih memiliki nilai-nilai itu. Menurutnya, sepak bola muncul  "to defend the virtues of old-fashioned nationalism", sebagai cara  "a way to blunt the return of tribalism".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat  inilah yang selalu menjadi ganjalan dari harapan penyatuan modal yang didengung-dengungkan oleh para birokrat, kapitalis, dan oligarki perusahaan.  Di satu sisi, kapitalisme bicara soal penyatuan modal dan bergesernya batas negara. Tapi di sisi lain, sepakbola justru membangkitkan nasionalisme, etnisitas, dan batas negara, yang justru diperangi oleh globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa sepakbola juga besar karena globalisasi. Sepak bola adalah juga industri. Para pemain tampan di bintang iklan, kaos adidas, nike, dan merek-merek global, mewarnai sepak bola. Korporasi global juga membesarkan sepak bola melalui beragam promosi. Bursa transfer pemain antar benua terus terjadi, seolah menjadi penanda bahwa sepak bola adalah bisnis global. Tapi di keping mata uang yang sama, sepak bola adalah juga soal nasionalisme, keyakinan, bahkan agama, bagi sebagian orang. Ada hal-hal yang tak terbeli oleh modal global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada krisis ekonomi di Eropa, saat ini mulai muncul kembali semangat tribalisme atau nasionalisme masing-masing negara Eropa. Mereka menuntut pembubaran mata uang Euro, dan kembali pada mata uang masing-masing. Mata uang adalah kebanggaan nasional mereka. Menurut mereka, Euro dianggap menjadi salah satu penyebab krisis.  Kembali pada kebanggaan nasional, seperti kembali pada identitas tim nasional, adalah jawaban keluar dari krisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis global juga menunjukkan bahwa masing-masing negara saat ini sibuk mempertahankan dirinya sendiri. Mereka tidak peduli lagi soal penyatuan negara, kerjasama perdagangan, ataupun globalisasi. Hal terpenting saat ini adalah menyelamatkan ekonomi masing-masing. Cina menuduh Amerika, demikian pula sebaliknya. Negara berkembang menuduh negara maju, demikian pula sebaliknya. Muncullah apa yang dinamakan “currency war” atau “perang mata uang”.  Forum seperti APEC dan G-20 tak mampu sepenuhnya mengatasi semangat nasionalisme masing-masing negara anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Friedman pernah mengatakan bahwa “The World is Flat”. Tapi krisis global telah membalik itu semua. Kini, dunia tak lagi datar, “The World is Round Again”. Dunia terpilah-pilah dalam batas-batas dan nasionalisme masing-masing negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepak bola menunjukkan bahwa semangat nasionalisme senantiasa bergelora di diri para pendukung tim. Globalisasi tak mampu merenggut semangat itu. Dan di situlah, globalisasi menemukan kelemahan. Kini, dunia menjadi tidak rata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sepakbola.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-5157191313781627050?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/5157191313781627050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=5157191313781627050' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5157191313781627050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5157191313781627050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/12/wajah-tampan-dan-tribalisme-sepak-bola.html' title='Wajah Tampan dan Tribalisme Sepak Bola'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-8740076097516781842</id><published>2010-04-18T11:23:00.003+07:00</published><updated>2010-04-18T11:25:45.596+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peranan Wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Naoko Yamazaki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Astronot Mama'/><title type='text'>Yamazaki, sang Astronot Mama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qJlAirwhI/AAAAAAAAAWc/dDaj9fath_g/s1600/yamazaki01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qJlAirwhI/AAAAAAAAAWc/dDaj9fath_g/s320/yamazaki01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461328767033786898" /&gt;&lt;/a&gt; Beberapa hari ini, media massa di Jepang memuat berita tentang Naoko Yamazaki. Ia adalah astronot perempuan Jepang yang mampu membetot perhatian publik. Kesuksesannya adalah sebuah fenomena, karena Yamazaki adalah juga seorang ibu rumah tangga. Dalam kultur masyarakat Jepang, tak banyak ibu rumah tangga yang bisa meraih sukses seperti dirinya. Meski Jepang adalah negara modern, pandangan terhadap kaum perempuan masih tradisional. Nilai yang masih dipegang adalah bahwa kaum perempuan itu “konco wingking”(teman di belakang) yang tugas utamanya mengurus rumah dan anak. Oleh karena itu, fokus pemberitaan tentang Yamazaki bukan tentang perannya di ruang angkasa, namun lebih pada perannya dalam kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamazaki, wanita berusia 39 tahun, yang kini bertugas sebagai insinyur stasiun ruang angkasa, harus meninggalkan putrinya yang baru berusia 7 tahun, bernama Yuki, dan suaminya, Taichi, yang secara sukarela meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus anak dan rumah. Taichi meninggalkan pekerjaannya sebagai insinyur perancang software untuk secara “full time” mengurus rumah dan mendukung karir istrinya. Keduanya telah menikah selama 11 tahun, tepat sesaat setelah Yamazaki terpilih dalam program astronot Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi di Jepang berulangkali menayangkan Taichi, sang suami, sedang mencuci beras untuk makan malam dan mencuci pakaian, sebuah tugas yang sangat aneh untuk pria di Jepang. Media massa kemudian menjuluki Yamazaki sebagai “Mom Astronaut”, julukan yang tidak membuatnya senang, karena kurangnya apresiasi media pada sang suami. Dalam sebuah wawancara, Yamazaki mengatakan bahwa selama 11 tahun ini, ia tak mungkin mencapai karir yang sukses tanpa dukungan suami. Ia menempatkan suaminya tetap sebagai kepala keluarga yang sangat ia hormati. Meski dalam praktiknya, ia mengakui tak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qJrL2BU5I/AAAAAAAAAWk/6Ek67pE6e0U/s1600/yamazaki02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qJrL2BU5I/AAAAAAAAAWk/6Ek67pE6e0U/s320/yamazaki02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461328873146897298" /&gt;&lt;/a&gt; Kisah Yamazaki ini membangkitkan kesadaran tentang semakin meningkatnya peranan perempuan dalam kehidupan masyarakat. Kaum perempuan, pada ujungnya, memiliki kesetaraan derajat dengan kaum pria. Kalau melihat pada kehidupan ekonomi, kaum perempuan di Jepang memang bukan kaum yang terpinggirkan. Hak sosial, politik, maupun kesehatan (biasanya dilihat dari angka kematian ibu yang melahirkan), semuanya sama, bahkan lebih baik dari kaum pria. Namun dalam peranan mereka di pekerjaan dan perusahaan, nilai-nilai tradisional kerap masih dipegang oleh banyak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan di Indonesia yang memiliki Kementerian Pemberdayaan Perempuan, maka peranan perempuan di Indonesia bisa dikatakan jauh lebih baik. Banyak sudah perempuan Indonesia yang sukses dan memiliki peranan sama dengan kaum pria. Bukan hanya astronot perempuan yang dulu pernah kita miliki, namun kita juga memiliki Presiden dari kaum perempuan. Di bidang ekonomi, kita melihat Menteri Keuangan yang perempuan terbukti tangguh dan disiplin dalam melakukan pembenahan di jajarannya, termasuk menjaga ketahanan fiskal negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dilihat dari kehidupan sosial secara umum, memang kaum perempuan Indonesia masih terpinggirkan. Dari jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, maka penduduk perempuan miskin (16,72%) lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki (16,61%). Kalau kita merinci menurut rumah tangga, maka rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan, jumlahnya makin bertambah dari tahun ke tahun. Kemiskinan di Indonesia sangat lekat dan dekat dengan perempuan. Di sisi lain, dana BLT yang diterima dari Pemerintah sebagian besar diterima oleh laki laki, karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki sebagai subjeknya. Tidak mengherankan jika perempuan di Indonesia identik dengan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendefinisikan kaum perempuan memang sebuah hal yang sulit dan senantiasa menjadi perdebatan filsafat sepanjang zaman, mulai dari pemikir perempuan seperti Simone de Beauvoir, Kristeva &amp; Irigaray, hingga Julia Kristeva, situasi kaum Perempuan kerap menjadi situasi problematik dan bukan afirmatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang jelas adalah bahwa bangsa ini tentu tak bisa berjalan tanpa perempuan. Dalam penentuan kebijakan makroekonomi, kaum ibu memiliki peran yang lebih besar dari kaum bapak. Andai para ibu rumah tangga mogok saja dalam sehari, atau berhenti membeli satu jenis barang secara serempak (yang sering terjadi), maka bermasalahlah perekonomian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semakin banyak perempuan Indonesia yang maju dan menjadi “Yamazaki-Yamazaki” di ruang angkasa, maupun di panggung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berakhir pekan. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-8740076097516781842?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/8740076097516781842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=8740076097516781842' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8740076097516781842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8740076097516781842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/yamazaki-sang-astronot-mama.html' title='Yamazaki, sang Astronot Mama'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qJlAirwhI/AAAAAAAAAWc/dDaj9fath_g/s72-c/yamazaki01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4452728639119216668</id><published>2010-04-18T11:20:00.003+07:00</published><updated>2010-04-18T11:22:49.276+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harga Tanah Jepang'/><title type='text'>Jangan Beli Tanah, Harganya Turun Looh ...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIzCXjMDI/AAAAAAAAAWM/Z2ckgRfa_Xc/s1600/tokyo-sky-view.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIzCXjMDI/AAAAAAAAAWM/Z2ckgRfa_Xc/s320/tokyo-sky-view.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461327908530499634" /&gt;&lt;/a&gt; Orang tua kita dulu sering berkata, kalau punya rejeki, belilah tanah. Tanah adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan, karena harganya akan terus naik. Uang hasil jual tanah bisa buat biaya kuliah anak-anak di masa depan. Tapi itu kisah di Indonesia. Di Jepang, pesan itu tidak sepenuhnya benar. Harga tanah di Jepang justru terus turun seiring dengan pusaran deflasi yang berkepanjangan. Membeli tanah di saat-saat sekarang ini bisa berarti rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meledaknya &lt;em&gt;bubble&lt;/em&gt; harga asset di tahun 90-an masih meninggalkan luka yang dalam pada ekonomi Jepang. Lingkaran setan turunnya harga barang dan jasa mengakibatkan harga tanah di Jepang terus turun. Sebaliknya, harga tanah yang terus turun mengakibatkan harga barang dan jasa turun. Begitu terus berputar-putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Ginza di Tokyo, dahulu terkenal sebagai daerah termahal sedunia. Harga tanah dan permintaannya tinggi. Tapi kini, harga tanah di Ginza turun sekitar 25% hingga 26% secara rata-rata tahunan (y-o-y). Data dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transport, dan Turisme Jepang menyebutkan bahwa tekanan deflasi telah menyeret harga properti semakin ke bawah. Nilai properti di Jepang secara umum turun 4,6% (y-o-y) pada Januari 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qI6vNMZqI/AAAAAAAAAWU/Ug8jR0riWNY/s1600/japan-land-prices.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qI6vNMZqI/AAAAAAAAAWU/Ug8jR0riWNY/s320/japan-land-prices.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461328040825743010" /&gt;&lt;/a&gt;Secara umum, harga tanah di Tokyo, Nagoya, dan Osaka, turun 5% dibandingkan tahun lalu. Indikator fundamental real estate Jepang juga menunjukkan penurunan yang drastis dalam beberapa tahun belakangan ini. Nilai investasi tanah dari perusahaan-perusahaan di Jepang telah turun sebesar 56% sejak tahun 2008. Di sisi lain, perbankan di Jepang menahan diri untuk tidak memberikan kredit karena ketidakpastian di masa depan, meski suku bunga kebijakan sudah mendekati nol persen. Masyarakat juga menahan diri untuk membeli tanah karena ekspektasi akan terus turunnya harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan kemudian diberikan pada Bank of Japan untuk terus menjalankan tugasnya memerangi deflasi. Namun, Gubernur Bank of Japan mengatakan bahwa upaya menekan deflasi tidak bisa ditangani hanya oleh bank sentral melalui kebijakan moneter. Saat ini suku bunga kebijakan sudah mepet di angka 0 persen dan Bank of Japan telah mengucurkan dana sebesar 20 triliun Yen ke pasar keuangan. Secara teori, mekanisme moneter melalui jalur harga asset memang dapat dilakukan oleh kebijakan moneter dengan memengaruhi perubahan harga asset dan kekayaan masyarakat, yang selanjutnya berdampak pada pola pengeluaran investasi dan konsumsi. Apabila bank sentral melakukan kebijakan moneter yang ekspansif, maka hal tersebut akan mendorong penurunan suku bunga, dan pada gilirannya menaikkan harga asset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, nampaknya kenyataan tak semudah itu. Kebijakan makroekonomi yang diyakini oleh banyak kalangan tentang kekuatan yang dimiliki bank sentral perlu direnungkan kembali. Kekuatan bank sentral memiliki batas. Bank sentral bukanlah “pesulap dengan tongkat ajaibnya” yang bisa membalikan keadaan dengan mudah lagi. Pada akhirnya, kebijakan fiskal, struktural, maupun regulasi di sistem keuangan menjadi kelindan yang sangat dibutuhkan. Amalgamisasi berbagai kebijakan itu, dan bukan saling menyalahkan, menjadi kunci keluar dari krisis. Untuk itu, dibutuhkan inovasi dan keberanian menempuh langkah yang sulit ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya harga tanah di Jepang hanyalah sebuah gejala tentang masalah besar yang masih dihadapi oleh perekonomian secara makro, baik di Jepang, maupun pengelolaan makroekonomi secara global. Sudah saatnya kita melakukan perenungan kembali akan kebijakan makroekonomi yang diyakini selama ini. Semoga kita bisa menarik pelajaran dari hal tersebut. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4452728639119216668?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4452728639119216668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4452728639119216668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4452728639119216668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4452728639119216668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/jangan-beli-tanah-harganya-turun-looh.html' title='Jangan Beli Tanah, Harganya Turun Looh ...'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIzCXjMDI/AAAAAAAAAWM/Z2ckgRfa_Xc/s72-c/tokyo-sky-view.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-3691148435209786192</id><published>2010-04-18T11:17:00.002+07:00</published><updated>2010-04-18T11:19:34.075+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gangster Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Yakuza'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Four Finger Economy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><title type='text'>Yakuza dan Gangster di Ekonomi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIQFSygrI/AAAAAAAAAWE/RHmtIv76_Ug/s1600/yakuza.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 274px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIQFSygrI/AAAAAAAAAWE/RHmtIv76_Ug/s320/yakuza.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461327308020417202" /&gt;&lt;/a&gt; Peranan gangster dalam perekonomian adalah rahasia yang terjaga baik (&lt;em&gt;the worst-kept secret&lt;/em&gt;) dan sulit diungkap selama ratusan tahun. Membutuhkan keberanian dan risiko yang besar untuk membongkar kiprah mereka. Para gangster mampu mengisi celah yang selama ini tidak disentuh para pengambil kebijakan. Mereka juga mampu menyatu dan menjalin hubungan dengan masyarakat, birokrat, militer, politisi, serta memberi peran di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, istilah “&lt;em&gt;four finger economy&lt;/em&gt;” mengacu pada peranan Yakuza dalam perekonomian Jepang. Yakuza, gangster Jepang yang bercirikan tattoo sekujur tubuh dan memiliki tangan berjari empat, telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat Jepang. Di masa lalu, mereka adalah para ronin (samurai tak bertuan) yang menguasai dunia hitam. Peranannya di zaman modern terus berkembang, mulai dari sindikat kejahatan, pemerasan, judi, narkoba, hingga penjualan senjata. Krisis ekonomi global saat ini menjadi peluang bagi para Yakuza untuk mengembangkan usahanya di sektor finansial. Mulai dari aksi pencucian uang melalui berbagai perusahaan, hingga peranan mereka di sektor UMKM atau masyarakat kecil, sebagai “lintah darat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski secara nominal beberapa indikator ekonomi di Jepang menunjukkan kemajuan, secara riil, ekonomi Jepang masih lemah. Dilema yang dihadapi oleh ekonomi Jepang adalah deflasi yang berkepanjangan. Hal itu mengakibatkan ekonomi Jepang bagai tubuh “kurang darah”, alias tak bergairah. Akibatnya, banyak perusahaan Jepang yang merugi bahkan ditutup. Ruginya Japan Airlines, munculnya kasus Toyota dan Honda, hanya puncak dari gunung es masalah yang dihadapi ekonomi Jepang. Pengangguran masih tinggi, dan banyak perusahaan yang terpaksa harus mem-PHK karyawannya. Data terakhir dari Pemerintah Jepang menunjukkan bahwa perekonomian Jepang masih berada dalam pusaran krisis, angka pertumbuhan triwulan IV-2009 tumbuh lebih rendah dari prediksi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang menyebabkan perseteruan antara pemerintah dan Bank of Japan (bank sentral Jepang) saat ini. Pemerintah, melalui Menteri Keuangan, Naoto Kan, menekan Bank of Japan untuk bertindak cepat membawa Jepang keluar dari deflasi. Di sisi lain, Gubernur Bank of Japan, Shirakawa, mengatakan bahwa permasalahan deflasi bukan soal moneter, namun bagaimana pemerintah memperbaiki sektor industri dan memperbaiki struktur penyaluran kredit ke masyarakat. Kebijakan moneter telah optimal dan bukan solusi untuk keluar dari masalah saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank of Japan telah menurunkan suku bunga hingga mendekati nol persen. Bank of Japan juga telah menggelontorkan dana lebih dari 20 triliun Yen ke pasar agar tercipta permintaan. Namun yang terjadi, uang tersebut kembali masuk ke bank sentral. Rumah tangga tidak mau meminjam, industri tidak mau meminjam, dan bank tidak mau meminjamkan, karena keyakinan akan masa depan ekonomi yang belum membaik. Mengatasi hal ini, pemerintah Jepang terus menerus menambah utangnya untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Jepang saat ini menjadi salah satu negara penghutang terbesar di dunia. Lembaga rating internasional seperti S&amp;P bahkan mengancam untuk menurunkan rating pemerintah Jepang. Dalam kondisi seperti ini, Pemerintah memojokkan bank sentral yang kurang tanggap. Keduanya terus berseteru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesunya ekonomi, dan perseteruan antara pengambil kebijakan, memberi ruang bagi Yakuza untuk bermanuver. Macetnya saluran antara perbankan dan industri serta rumah tangga, difasilitasi oleh Yakuza. Mereka masuk ke kehidupan riil masyarakat, memberi pinjaman, memberi perlindungan, dan memasok kebutuhan masyarakat, serta jaminan keamanan. Masyarakat yang membutuhkan dana karena “kepepet” juga akhirnya tenggelam ke lembah hitam, masuk dalam jeratan utang para Yakuza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya di kalangan bawah, di perusahaan raksasa Jepang, peran Yakuza juga menjadi “perbincangan”. Menurut pemberitaan di harian The Japan Times, peranan Yakuza dalam perusahaan besar Jepang tak pernah terungkap dan selalu menjadi perdebatan. Proses intermediasi perbankan yang macet, penciptaan kredit yang gagal, dan birokrat saling menyalahkan, adalah rentetan yang memberi peluang bagi bisnis para Yakuza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Indonesia? Seberapa jauh para gangster masuk dalam dunia finansial? Peranan gangster dalam ekonomi Indonesia juga sebuah rahasia yang tersimpan baik selama puluhan tahun. Tak pernah terungkap dan hanya menjadi pembicaraan di warung kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala pemerintah, bank sentral, dan politisi saling menyalahkan, kala kekuatan formal tidak optimal, gangster akan selalu melihat celah untuk mengambil peranan. Saya mencoba mengutip kata Mario Puzzo, ”Behind every great fortune, there is a crime..”. Di balik kekayaan yang luar biasa, biasanya tersimpan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan negeri ini dihindari dari kejahatan. Ngeri ah ….. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-3691148435209786192?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/3691148435209786192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=3691148435209786192' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3691148435209786192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3691148435209786192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/yakuza-dan-gangster-di-ekonomi.html' title='Yakuza dan Gangster di Ekonomi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qIQFSygrI/AAAAAAAAAWE/RHmtIv76_Ug/s72-c/yakuza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-9141277036760887099</id><published>2010-04-18T11:03:00.005+07:00</published><updated>2010-04-18T11:12:39.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demo Kenaikan Gaji'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salary Man'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Jepang'/><title type='text'>Salary Man Menuntut Kenaikan Gaji</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGBcIGRAI/AAAAAAAAAVs/mq5KPkMR-Po/s1600/demo-ginza6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGBcIGRAI/AAAAAAAAAVs/mq5KPkMR-Po/s320/demo-ginza6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461324857428296706" /&gt;&lt;/a&gt; Demonstrasi menuntut kenaikan gaji tak hanya terjadi di negeri kita. Di negara maju seperti Jepang, tuntutan kenaikan gaji kerap terjadi. Alasannya macam-macam, tapi salah satunya tentu untuk menuntut kehidupan yang lebih baik. Beberapa waktu lalu, di daerah Ginza, saya melihat dengan serombongan kaum pekerja Jepang (biasa disebut Salary Man) yang berteriak-teriak dan menyanyikan yel-yel untuk menuntut kenaikan gaji. Para salary man itu merasakan semakin beratnya kehidupan di Jepang, secara khusus di kota besar seperti Tokyo, dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di Jepang memang semakin dirasakan sulit, apalagi sejak krisis global melanda. Perekonomian Jepang saat ini masih lesu dan geraknya didorong terutama oleh besarnya stimulus pemerintah. Pidato dari Gubernur Bank of Japan di awal tahun 2010 mengatakan bahwa ekonomi Jepang masih belum memiliki momentum yang tepat bagi pemulihan yang berkelanjutan. Hal ini berarti, dalam jangka pendek, sampai dengan semester I-2010, perekonomian Jepang masih akan lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGSBFlhEI/AAAAAAAAAV8/iaIafBNfOos/s1600/demo-ginza-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGSBFlhEI/AAAAAAAAAV8/iaIafBNfOos/s320/demo-ginza-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461325142227780674" /&gt;&lt;/a&gt;Kondisi pasar tenaga kerja di Jepang juga masih menyimpan masalah. Angka pengangguran yang meningkat mencapai lebih dari 5% pada triwulan IV-2009 telah menjadikan kehidupan di Jepang semakin sulit. Di kota Tokyo, Pemerintah menyediakan penampungan bagi lebih dari 800 orang pengangguran sampai dengan pekerjaan bisa didapatkan. Hal ini berdampak pada besarnya subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah Jepang untuk memberikan penampungan bagi para pencari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan pekerja, gaji yang rendah dan pas-pasan menjadi salah satu masalah. Kala perusahaan Jepang menghadapi persaingan ketat di pasar global, mereka mulai memangkas jumlah karyawan dan menghemat gaji. Hal ini menambah jumlah pengangguran dan mempersulit kehidupan para pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tantangan tersebut memang menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintahan Yukio Hatoyama. Namun masalah politik juga masih menghantui kubu Hatoyama terkait dengan skandal suap di partainya DPJ. Masalah ekonomi politik ini juga telah menurunkan popularitas pemerintahan Hatoyama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGGUhj7iI/AAAAAAAAAV0/wVQYdeg4iIs/s1600/demo-ginza-3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGGUhj7iI/AAAAAAAAAV0/wVQYdeg4iIs/s320/demo-ginza-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461324941286960674" /&gt;&lt;/a&gt; Dengan berbagai masalah tersebut, tentu tak heran bila kita melihat mulai munculnya demonstrasi di jalan-jalan. Namun bedanya, demonstrasi di Jepang dilakukan secara santun dan jauh dari sikap anarkis. Meski mereka mengkritik pemerintah dengan berbagai kebijakannya, kepentingan orang lain tetap mereka perhatikan. Salah satu contohnya adalah bagaimana mereka menjaga agar tidak menghalangi penyebrang jalan. Apabila terdapat zebra cross, para pendemo memisahkan diri untuk memberi jalan pada penyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan rasa dan kesulitan hidup memang kadang kerap membuat kita kalang kabut. Namun bagaimana ia diungkapkan tanpa menyulitkan orang lain, apalagi hingga mengacaukan kestabilan negara, menjadi pelajaran bagi kita. Mudah-mudahan kita bisa belajar mengungkap rasa dengan cara yang makin hari makin santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-9141277036760887099?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/9141277036760887099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=9141277036760887099' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9141277036760887099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9141277036760887099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/salary-man-menuntut-kenaikan-gaji.html' title='Salary Man Menuntut Kenaikan Gaji'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qGBcIGRAI/AAAAAAAAAVs/mq5KPkMR-Po/s72-c/demo-ginza6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-3292233166877988338</id><published>2010-04-18T10:59:00.003+07:00</published><updated>2010-04-18T11:02:38.885+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Deflasi di Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Jepang'/><title type='text'>Repotnya Kalau Harga Turun Terus</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qELMqLvuI/AAAAAAAAAVc/ttoiXZMdV8g/s1600/uniqlo1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qELMqLvuI/AAAAAAAAAVc/ttoiXZMdV8g/s320/uniqlo1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461322826051731170" /&gt;&lt;/a&gt; “Apa yang bisa naik tapi tak bisa turun?”. Teka teki iseng itu sering diungkap di negeri kita. Dan Jawaban yang kita dengar adalah harga-harga. Kita seolah terbiasa dengan kenaikan harga. Ya, kenaikan harga yang terus menerus, apalagi tidak terkendali, memang menyulitkan kehidupan masyarakat. Namun, penurunan harga yang terus menerus, dan tidak terkendali, juga menyulitkan kehidupan. Berbeda dengan di negara kita yang menghadapi masalah dengan kenaikan harga (inflasi), Jepang justru menghadapi masalah dengan penurunan harga (deflasi). Jadi, teka teki di atas tentu tidak berlaku di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ada istilah bahwa Jepang adalah negara yang terkenal mahal biaya hidupnya. Tapi deflasi yang terjadi di Jepang, telah mengubah paradigma itu. Seorang economist Jepang, Noriko Hama, dalam essaynya tentang deflasi mengatakan bahwa kompetisi dari para produsen untuk menurunkan harga (yasuuri kyoso) telah “menghancurkan masyarakat”. Kalau kita sekarang berkeliling berbagai pusat perbelanjaan di Jepang, akan terlihat dengan nyata bahwa perang pemotongan harga terjadi dengan besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah fenomena yang menjadi pembicaraan saat ini adalah toko retail pakaian yang bernama UNIQLO. Toko ini terkenal menjual barang dagangannya dengan harga rendah. Celana jeans di Uniqlo, rata-rata berharga 900 yen atau sekitar Rp90.000. Baju kerja, kaus, dan pakaian dalam, rata-rata dijual lebih rendah dari Rp100.000. Dengan kualitas yang cukup baik, Uniqlo menyerang pangsa pasar pakaian di Jepang yang terkenal mahal. Kompetisi harga rendah yang ekstrim (gekiyasu) bukan hanya terjadi di bisnis pakaian. Muncul juga supermarket dan toko-toko yang menamakan dirinya 100 yen Shop (&lt;em&gt;Hyaku En Shop&lt;/em&gt;). Toko itu menawarkan semua barang dengan harga sekitar 100 yen atau Rp 10.000. Mereka memberi tagline pada dagangannya, bahwa dengan 100 yen, anda bisa hidup di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qEReOGysI/AAAAAAAAAVk/75g-Gk5zKJM/s1600/100-yen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qEReOGysI/AAAAAAAAAVk/75g-Gk5zKJM/s320/100-yen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461322933845019330" /&gt;&lt;/a&gt;Di bisnis makanan, restoran Yoshinoya yang terkenal dengan beef bowlnya juga ikut-ikutan memotong harga. Kalau dulu satu porsi beef bowl dihargai 580 yen atau sekitar Rp58 ribu, kini diturunkan menjadi 380 yen atau sekitar Rp38 ribu. Perang penurunan harga terjadi pada bisnis makanan cepat saji di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan ekonom terjadi perbedaan pendapat dan saling menyalahkan. Sebagian menyalahkan para retailer ini yang menurunkan harga terlalu ekstrim sehingga pusaran deflasi semakin parah. Tapi para retailer membela diri. Mereka menyalahkan rendahnya daya beli masyarakat sebagai faktor lesunya ekonomi. Artinya, walaupun harga sudah diturunkan, pembelian tetap tidak meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak krisis melanda, ekonomi Jepang memang dilanda kelesuan. Pasar domestik mengecil dan daya beli menurun. Deflasi bisa jadi penanda akan lesunya perekonomian. Apabila harga-harga terus turun, tentu produsen tidak memiliki insentif untuk berproduksi, pengangguran meningkat, dan ekonomi bertambah lesu. Upaya meningkatkan daya beli menjadi program dari pemerintahan Hatoyama, PM Jepang yang baru. Kebijakan memberi lebih banyak uang pada generasi muda menjadi target yang akan dicapai dalam beberapa tahun ke depan. Sayangnya, jumlah generasi muda ini terus menurun. Ujungnya, Jepang juga menggalakkan program “banyak anak, banyak rejeki”, agar generasi muda semakin banyak dan daya beli bisa meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inflasi ataupun deflasi terbukti menyulitkan kehidupan masyarakat secara umum. Berbeda dengan Jepang, kita memiliki keunggulan di sisi daya beli. Saat krisis ekonomi melanda, ekonomi Indonesia terbukti masih bergairah dan tetap tumbuh karena daya beli masyarakat yang masih kuat. Hal ini sebenarnya yang menjadi kekuatan ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis global. Permasalahannya adalah bagaimana agar daya beli masyarakat tetap dapat dijaga dan inflasi dapat dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah mengendalikan inflasi itu, diamanatkan kepada bank sentral. Di Jepang, tugas ini dipikulkan pada Bank of Japan, yang sudah memotong suku bunga hingga 0,1% untuk mendorong ekonomi, meski belum juga berhasil sepenuhnya. Di Indonesia, tugas mengendalikan inflasi dipikulkan pada Bank Indonesia yang menjaga suku bunga pada tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inflasi atau deflasi adalah musuh yang dihadapi bersama dalam kehidupan. Banyak pihak mungkin tidak menyadari secara langsung arti inflasi atau deflasi. Namun saat gejala itu terjadi, dampaknya dirasakan pada kehidupan. Hal itulah yang saat ini  dirasakan di Jepang, ataupun di Indonesia pada masa krisis moneter lalu, saat inflasi meroket drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-3292233166877988338?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/3292233166877988338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=3292233166877988338' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3292233166877988338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3292233166877988338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/repotnya-kalau-harga-turun-terus.html' title='Repotnya Kalau Harga Turun Terus'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qELMqLvuI/AAAAAAAAAVc/ttoiXZMdV8g/s72-c/uniqlo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2849014109099494673</id><published>2010-04-18T10:52:00.004+07:00</published><updated>2010-04-18T10:59:16.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EPA Indonesia Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suster di Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><title type='text'>Suster Pahlawan di Jepang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qCYgbIhUI/AAAAAAAAAVM/UWQz3hPpuM4/s1600/hakone-kbri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qCYgbIhUI/AAAAAAAAAVM/UWQz3hPpuM4/s200/hakone-kbri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461320855672358210" /&gt;&lt;/a&gt;Dibandingkan dengan Filipina, kemampuan bangsa kita dalam menghargai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih jauh dari optimal. Padahal para TKI adalah pahlawan devisa dalam arti sebenarnya. Kalau kita melihat struktur Neraca Pembayaran Indonesia, akan terlihat bahwa penghasilan TKI adalah salah satu elemen pemasukan yang berpotensi besar mendukung ketahanan ekonomi kita. Kalau diperbandingkan, Tenaga Kerja Filipina mampu menyumbang devisa sebesar hampir 20 milyar dollar AS dalam setahun. Sementara di Indonesia, sumbangan TKI belum sampai 7 milyar dollar AS. Oleh karena itu, upaya menghargai peranan para TKI di luar negeri dan meningkatkan kompetensi mereka adalah juga prasyarat kestabilan makroekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, langkah KBRI Tokyo patut dikagumi. Pekan lalu saya diajak oleh KBRI untuk mendatangi pusat pelatihan para perawat dari Indonesia yang akan dipekerjakan di seluruh Jepang. Pusat pelatihan itu terletak di kota Hakone, perfektur Kanagawa, atau sekitar 2 jam perjalanan dari kota Tokyo. Program pelatihan perawat ini adalah bagian dari kesepakatan EPA (Economic Partnership Agreements) antara pemerintah Jepang dan Indonesia. Ada sekitar 316 perawat dari seluruh Indonesia yang ikut serta dalam pelatihan. Selama 3 bulan di sana, mereka dididik bahasa Jepang, sebelum kemudian disebar untuk bekerja di berbagai Rumah Sakit di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi perawat di luar negeri, apalagi Jepang, tidak mudah. Mereka dituntut memiliki pengalaman yang sarat, plus ketrampilan bahasa tekhnis keperawatan. Oleh karena itu, para perawat dapat dikategorikan sebagai pekerja yang berketrampilan (skilled workers). Perawat ini berbeda dengan pada umumnya TKI Indonesia yang tergolong unskilled workers dan bekerja di sektor rumah tangga. Skilled workers memiliki ketrampilan dan tentu, penghasilan yang lebih tinggi. Hal ini pada ujungnya tentu akan menyumbang devisa yang lebih besar bagi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qCc-ca4sI/AAAAAAAAAVU/7Ahdfc3jsQA/s1600/hakone-kbri-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qCc-ca4sI/AAAAAAAAAVU/7Ahdfc3jsQA/s200/hakone-kbri-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461320932450296514" /&gt;&lt;/a&gt;Kunjungan KBRI ke Hakone selain untuk membantu penyelesaian dokumen-dokumen, juga memberikan mereka informasi tentang perlindungan hukum dan peran KBRI sebagai pengayom para Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Sungguh mengagumkan melihat para pejabat KBRI seperti Bp Abas Ridwan, atase bidang ekonomi, dan Bp Amir Radjab, atase bidang konsuler, yang begitu akrab dengan para TKI dan sepenuh hati membantu keperluan mereka. Bahkan tanpa segan-segan, mereka turun tangan berdiskusi, langsung menulis, dan menandatangani paspor para perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya reaching out, keluar, dan membuka diri seperti yang dilakukan KBRI Tokyo itu tentu membawa wajah teduh bagi para perawat. Berbagai upaya ini memang telah dilakukan oleh KBRI Tokyo sejak lama. Bahwa KBRI bukan sebuah tempat angker bagi masyarakat Indonesia, namun juga rumah bersama bagi masyarakat Indonesia yang ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun langkah KBRI saja tidaklah cukup. Peranan KBRI hanya sebatas dalam menjalankan fungsi diplomatiknya. Di hulu, membangun kompetensi para tenaga kerja juga harus dilakukan. Berbagai langkah, seperti menyaring tenaga kerja yang kompeten dan handal di tanah air, menciptakan tenaga terdidik, hingga masalah perlindungan hukum, membutuhkan sinergi lintas departemen dan juga elemen bangsa lainnya. Dari sisi perbankan, upaya mempermudah aliran pembayaran uang ke tanah air (remitansi) juga sangat dibutuhkan para TKI. Hal ini agar mereka tidak menjadi korban para calo ataupun kejahatan lainnya saat tiba di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai langkah tersebut, apabila diseriusi, bisa jadi sebuah pilar kuat bagi kestabilan makroekonomi Indonesia. Hal itu telah terbukti di Filipina. Saat krisis global 2008 lalu, tingkat penilaian premi risikonya tetap rendah, sementara Indonesia dinilai rawan (angka CDS Indonesia mencapai 1000 – atau risiko tinggi bagi investasi). Para investor menilai risiko Filipina lebih rendah dari Indonesia, karena mereka memiliki keterjaminan aliran dana dari tenaga kerja sebesar 15-20 milyar dollar AS selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, jalan masih panjang untuk membangkitkan peran para pahlawan devisa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2849014109099494673?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2849014109099494673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2849014109099494673' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2849014109099494673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2849014109099494673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/suster-pahlawan-di-jepang.html' title='Suster Pahlawan di Jepang'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qCYgbIhUI/AAAAAAAAAVM/UWQz3hPpuM4/s72-c/hakone-kbri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2510188300361087576</id><published>2010-04-18T10:49:00.004+07:00</published><updated>2010-04-18T10:52:06.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Junanto Herdiawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aging Population di Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Jepang'/><title type='text'>Banyak Anak Banyak Rejeki, Dorong Ekonomi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qBsAWfHCI/AAAAAAAAAU8/TmPxsKxKPQM/s1600/japan-babies-impactlabcom.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qBsAWfHCI/AAAAAAAAAU8/TmPxsKxKPQM/s320/japan-babies-impactlabcom.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461320091148688418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Majalah The Economist dalam laporannya tahun 2009 pernah menulis tentang Indonesia. Disebutkan di sana bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia di masa depan. Salah satu potensi kekuatan Indonesia adalah faktor demografi. Besarnya jumlah penduduk berusia produktif yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang tak tertandingi di negara kawasan, baik oleh Cina ataupun Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melongok ke Jepang, semakin mahalnya biaya hidup, pendidikan, dan meningkatnya angkatan kerja wanita, menjadikan tingkat kelahiran di Jepang menurun drastis. Total rasio kelahiran di Jepang terus anjlok dari 1,57 di tahun 1989 menjadi 1,37 di tahun 2008. Angka ini jauh di bawah rasio pertumbuhan penduduk yang dapat mendukung populasi yang berkesinambungan, yaitu 2,1. Sebuah lembaga riset di Jepang mengatakan bahwa populasi Jepang akan menciut sepertiga pada tahun 2050, dan pada tahun 2105 tinggal tersisa sekitar 44 juta orang Jepang di dunia. Jumlah penduduk usia produktif, antara 15-64 tahun, hanya tinggal separuh dari yang ada sekarang pada tahun 2055.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan angka kelahiran yang rendah, dalam 20-30 tahun ke depan, Jepang akan kehilangan peranannya sebagai kekuatan ekonomi dunia. Jepang bahkan bisa dikategorikan sebagai decaying country, atau negara yang menuju kepunahan. Hal ini juga terjadi di Cina. Kebijakan “satu anak” yang diterapkan selama beberapa tahun ini, telah menyusutkan jumlah angkatan kerja produktif di Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qBxEWwFoI/AAAAAAAAAVE/j_53faFBhXI/s1600/japan-fertility-japanfocus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qBxEWwFoI/AAAAAAAAAVE/j_53faFBhXI/s320/japan-fertility-japanfocus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461320178122888834" /&gt;&lt;/a&gt;Secara ekonomi, jumlah penduduk yang menyusut sungguh tidak menguntungkan. Jumlah tenaga produktif dan terpelajar merupakan salah satu kekuatan ekonomi sebuah negara. Bukan hanya di Cina dan Jepang, beberapa negara Eropa (Jerman, Swedia, Perancis) juga menghadapi masalah yang serius di bidang kependudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jepang, sejak krisis global melanda, masalah kependudukan ini semakin membuat ekonomi Jepang terhempas dalam jurang krisis. Upaya PM Jepang yang baru, Yurio Hatoyama, untuk mengangkat ekonomi Jepang, menghadapi jalan terjal. Menurunnya jumlah penduduk berkorelasi pula pada semakin rendahnya permintaan domestik. Berbeda dengan Indonesia yang permintaan domestik menguasai 60% dari pertumbuhan ekonomi, di Jepang, permintaan domestik sangat rendah. Selain kultur orang Jepang yang gemar menabung, jumlah penduduk mudanya yang notabene konsumtif terus menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, di awal tahun 2010, pemerintah Hatoyama mengumumkan berbagai program pemulihan ekonomi , untuk mendorong pertumbuhan hingga mencapai 2 persen pada 2020. Salah satu program pemerintah Jepang adalah mendorong terciptanya permintaan domestik. Dan strategi yang dilakukan adalah mendorong angka kelahiran. Jepang memberi subsidi besar-besaran bagi pasangan muda yang berniat memiliki anak. Pemerintah juga akan menambah tempat penitipan anak (child care center) di berbagai gedung perkantoran, agar para ibu yang bekerja tidak khawatir untuk memiliki anak. Pemerintah juga akan memberikan tunjangan sebesar 26.000 Yen (sekitar Rp2,6 juta) per anak setiap bulan. Berbagai program mendorong keluarga di Jepang agak “punya anak” terus dilakukan. Pepatah orang tua kita dulu, “Banyak Anak, Banyak Rejeki” nampaknya menjadi valid di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi kependudukan pada ekonomi di berbagai negara maju tersebut memberi pelajaran bagi ekonomi Indonesia. Hal yang sebaliknya justru terjadi pada ekonomi kita. Jumlah penduduk kita besar, terutama mereka yang memiliki usia produktif. Tak heran, bila The Economist menyebutkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang disebut majalah Economist baru sebatas potensi, belum menjadi aksi. Syarat menjadikan potensi tersebut menjadi aksi tidaklah mudah. Ketika ekonomi semakin bertumbuh dan canggih, ia membutuhkan penduduk yang memiliki skills atau ketrampilan tinggi yang semakin beragam. Dengan demikian, tuntutan untuk melakukan investasi besar-besaran di bidang pendidikan adalah sebuah keharusan. Pemerintah perlu fokus dan serius membangun masa depan bangsa melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk besar, namun tidak memiliki kultur tinggi dan pendidikan yang memadai, hanya akan menjadi beban bagi sebuah negara. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari ekonomi Jepang. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2510188300361087576?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2510188300361087576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2510188300361087576' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2510188300361087576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2510188300361087576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2010/04/banyak-anak-banyak-rejeki-dorong.html' title='Banyak Anak Banyak Rejeki, Dorong Ekonomi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/S8qBsAWfHCI/AAAAAAAAAU8/TmPxsKxKPQM/s72-c/japan-babies-impactlabcom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-3216060665104882358</id><published>2009-12-01T06:09:00.001+07:00</published><updated>2009-12-01T06:12:20.430+07:00</updated><title type='text'>Badai Century Menghantam Ekonomi</title><content type='html'>posted on &lt;a href="http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id148705.html"&gt;Bisnis Indonesia 26 November 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan perekonomian di negara maju yang relatif tahan terhadap isu di luar ekonomi, perekonomian Indonesia terbukti masih rentan terhadap berbagai isu. Hal ini terbukti saat kasus Bank Century semakin bergulir bagai badai yang menghantam ekonomi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil audit investigatif BPK, hak angket Bank Century di DPR, yang berjalin kelindan dengan berlarut-larutnya kasus Bibit-Chandra, membawa pemulihan ekonomi Indonesia seolah-olah berhenti di tempat. Program 100 hari pemerintah seolah-olah raib ditiup angin. Acara Rembuk Nasional (National Summit) yang memuat gagasan-gagasan besar tentang ekonomi Indonesia ke depan, seolah-olah termarginalkan dari ruang-ruang diskusi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelaku ekonomi, khususnya investor asing, mulai bertanya tentang kasus hukum yang mencuat dikaitkan dengan pemulihan ekonomi. Sebenarnya apabila kita melihat berbagai indikator ekonomi makro, tak dapat dipungkiri bahwa ekonomi Indonesia memang telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia bahkan telah disandingkan dengan China dan India, sebagai flavour of the day oleh para investor asing. Kita melihat bahwa konsumen di Indonesia sudah mulai bangkit dan membeli. Hal ini tecermin dari kuatnya tingkat konsumsi kita yang tumbuh rata-rata 5% dalam beberapa tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat juga ekspor kita terus meningkat seiring dengan pulihnya ekonomi dunia dan membaiknya pertumbuhan ekonomi di negara mitra dagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi krisis global di tahun 2008, ekonomi Indonesia terbukti mampu melaluinya dengan baik. Kebijakan makroekonomi yang berhati-hati telah menahan perlambatan lebih jauh dari perekonomian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi stabilitas sistem keuangan, sebenarnya penanganan kasus Bank Century di tahun 2008 yang relatif tidak menimbulkan guncangan di pasar keuangan, dapat dikatakan sebuah keberhasilan otoritas dalam meredam gejolak lebih lanjut dari dampak krisis. Sayangnya, penanganan kasus itu menyisakan persoalan hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan mendasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat secara lebih detail, ekonomi kita memang masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Kita belum melihat perbaikan yang berarti di bidang investasi. Belum banyak investor yang mau memberikan komitmennya pada ekonomi Indonesia di jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para investor masih menunggu (wait and see) kalau ditanya tentang investasi yang berjangka panjang. Hal itu terlihat dari jumlah investasi yang jumlahnya menurun dari 11,7% pada 2008, menjadi sekitar 3% sampai dengan triwulan III-2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, investasi adalah bukti nyata yang menggambarkan komitmen investor pada ekonomi Indonesia. Kita mungkin bisa menyalahkan krisis global dan lemahnya ekonomi dunia, yang menjadi penyebab turunnya jumlah investasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dibandingkan dengan negara kawasan yang masih bisa menarik investasi, potensi dan besarnya ekonomi Indonesia seharusnya bisa menarik investasi riil lebih banyak agar peningkatan produksi dapat berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan ekonomi kita ke depan adalah bagaimana dapat membangun komitmen dari para investor dan pelaku pasar utama. Tanpa komitmen jangka panjang, akibatnya adalah, ekonomi kita bisa 'terlihat' bergairah, tetapi pergerakannya lebih banyak ditopang oleh para petualang kapital sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi asing di SBI dan SUN yang jumlahnya mencapai hampir US$4,5 miliar menjadi indikator masuknya dana asing di pasar keuangan kita. Para pemilik modal datang ke negeri ini untuk menanam dalam penempatan portofolio jangka pendek, dan tergiur dengan keuntungan sesaat yang saat ini menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau diajak bicara tentang perspektif yang lebih jauh, dapat dilihat yield SUN jangka panjang (di atas 15 tahun) yang masih tinggi. Hal ini menunjukkan persepsi mereka tak seindah yang terlihat di jangka pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada galibnya, aliran dana asing jangka pendek tersebut tidaklah salah sepenuhnya. Sepanjang kepercayaan bisa terus dibangun, dana itu akan tetap mengendap di pasar keuangan kita, dan syukur-syukur bisa beralih pada penempatan atau investasi jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala adverse selection dari para investor seperti itu, saat ini masih menguntungkan bagi perekonomian kita. Kita melihat bahwa nilai tukar dan indeks saham masih stabil. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa gejala saat ini bukanlah pilar yang kuat dalam mendukung kemajuan ekonomi kita yang berkelanjutan. Persepsi dan confidence para pemilik modal ini sangat rawan apabila terjadi gangguan, seperti permasalahan hukum maupun apabila ada policy inconsistency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi policy inconsistency, pihak pemerintah dan Bank Indonesia berulangkali menegaskan kepada para pelaku pasar bahwa tidak akan melakukan banyak perubahan dalam pengelolaan makroekonomi yang ada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi penegakan hukum, apabila berbagai permasalahan hukum yang ada saat ini berlarut larut, dapat dipastikan para investor akan semakin menunda komitmen mereka dalam jangka panjang. Dan bukan itu saja, dana jangka pendek yang ada saat ini juga dikhawatirkan akan ikut keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu menyadari bahwa pilar ekonomi kita saat ini masih belum kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi tahun 2010 nanti, tantangan terbesar adalah memfokuskan kebijakan dan kegiatan ekonomi pada pilar yang lebih kokoh, yaitu sektor produksi. Upaya membangun kekuatan ekonomi domestik, menarik investasi riil, ikut serta dalam global chain production sebagai pemerkayaan ekspor kita, dan upaya membangun industri, adalah langkah strategis yang membutuhkan kerja sama dan kepercayaan tinggi dari para pelaku ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga perlu terus menambah daya respons sisi suplai guna menyeimbangkan respons di sisi permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kasus Bank Century menuntut penyelesaian yang tepat dan adil. Permasalahan hukum harus diproses secara hukum, permasalahan politik juga harus diproses secara politik, sementara permasalahan teknis perbankan kiranya diselesaikan dengan mekanisme perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai ada campur aduk dalam penyelesaiannya, yang menjadikan masalah menjadi semakin complicated dan berlarut-larut. Secara umum tentu pengungkapan kasus Bank Century ini ditunggu oleh masyarakat agar prosesnya menjadi transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan dana sebesar Rp6,7 triliun tentu mengundang ingin tahu banyak kalangan. Namun, hal yang perlu diingat adalah bahwa penyelesaian kasus ini jangan sampai mengorbankan hal lain yang lebih penting, yaitu pembangunan ekonomi. Semakin lama dan komplikatif kasus ini bergulir, maka ongkos ekonominya akan semakin mahal dan berdampak pada turunnya kepercayaan pelaku pasar. Akibatnya, ekonomi Indonesia akan terus tertatih-tatih dan semakin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Junanto Herdiawan&lt;br /&gt;Peneliti Ekonomi Madya Bank Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-3216060665104882358?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/3216060665104882358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=3216060665104882358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3216060665104882358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3216060665104882358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/12/badai-century-menghantam-ekonomi.html' title='Badai Century Menghantam Ekonomi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1195402627522484656</id><published>2009-10-05T15:18:00.001+07:00</published><updated>2009-10-05T15:19:57.387+07:00</updated><title type='text'>Nasib Kelam Pimpinan Bank Sentral</title><content type='html'>Tulisan ini dimuat juga di &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/13/05205895/nasib.kelam.pimpinan.bank.sentral"&gt;Harian Kompas, 13 Agustus 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SrQtNJQSkeI/AAAAAAAAANY/u3Vo7zwkBIw/s1600-h/mengadili+gub+BI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382977158460379618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 171px; CURSOR: hand; HEIGHT: 242px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SrQtNJQSkeI/AAAAAAAAANY/u3Vo7zwkBIw/s400/mengadili+gub+BI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengadilan terhadap unsur pimpinan bank sentral jarang terjadi di negeri lain. Namun, di Indonesia terjadi dari masa ke masa. Bank Indonesia tak pernah bisa dilepaskan dari lipatan kepentingan demi kepentingan, baik politik maupun ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di balik pengadilan pimpinan Bank Indonesia (BI) yang telah dibukukan ini menarik untuk dibaca. Perubahan rezim Soekarno ke Soeharto, misalnya, membawa korban, yaitu diadilinya Jusuf Muda Dalam. Kemudian, pada perubahan dari rezim Soeharto ke zaman Reformasi terjadi penggantian mendadak terhadap Soedradjad Djiwandono. Selanjutnya, pada zaman Reformasi, korbannya adalah Syahril Sabirin atas kasus Bank Bali. Tidak cukup sampai di sini, terakhir adalah Burhanuddin Abdullah untuk kasus aliran dana BI.&lt;br /&gt;Selain pemimpin nomor satu di bank sentral, hampir semua anggota Dewan Gubernur BI juga ikut diadili. Mereka adalah Aulia Pohan, Maman Soemantri, Bunbunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan, mengapa BI selalu berada dalam konstelasi politik dan ekonomi yang kisruh? Buku ini mencoba mencari jawabannya. Ditulis oleh mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang merupakan hasil perenungannya selama hampir satu setengah tahun menjalani proses hukum di balik tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menarik karena bukan hanya bercerita mengenai kasus yang menimpa Burhanuddin. Bukan pula semata berisi pembelaan sebagaimana yang biasa ditulis banyak pejabat dari balik tahanan. Namun, buku ini justru berupaya memaknai konstelasi bank sentral di tengah kepentingan ekonomi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menghadapi badai&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam bukunya, Burhanuddin mengakui bahwa tak banyak orang yang paham dengan tugas dan fungsi dari bank sentral. Padahal, peran bank sentral diibaratkan seperti jantung yang memompa darah bagi tubuh manusia. Uang beredar serta jumlah dan fungsinya adalah darah yang pergerakannya diatur oleh bank sentral. Perekonomian akan berjalan secara dinamis dan bugar apabila peredaran uangnya tidak mengalami hambatan (hal 9). Tugas bank sentral dengan demikian sangat strategis dalam menjaga kestabilan perekonomian suatu negara.&lt;br /&gt;Setelah menguraikan peran bank sentral dalam perekonomian pada bab 1 dan bab 2, Burhanuddin kemudian menceritakan kembali kasus aliran dana BI. Dalam menulis, ia melakukan perbandingan dengan beberapa kasus yang pernah terjadi, baik di dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis ekonomi menimpa, berbagai cara yang biasa digunakan dalam kondisi normal belum tentu dapat bekerja dengan baik. Sebagaimana Burhanuddin menulis, ”Upaya untuk keluar dari badai atau menghindari hantaman karang-karang itu bisa jadi tidak berarti sama sekali kalau orang tidak pernah mau tahu seperti apa badai yang terjadi atau bahkan tidak percaya ada badai. Cara pandang, pikiran, dan ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai segala upaya untuk keluar dari badai adalah untuk situasi dan kondisi yang normal. Tentu keduanya sulit bertemu” (hal 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora ini digunakan Burhanuddin Abdullah saat menjelaskan kasus aliran dana BI, termasuk kebijakan BLBI pada masa lampau. Saat krisis tahun 1998, keadaan begitu kacau. Aturan- aturan hukum normal tidak berjalan. Saat itu perlu sebuah keberanian untuk melakukan penyelamatan terhadap ekonomi nasional. Ia menulis, ”Bantuan likuiditas adalah kebijakan yang lumrah pada masa krisis. Dan itu mampu menyelamatkan perekonomian kita untuk tidak rontok lebih jauh. Apabila dalam pelaksanaannya kemudian ada yang disalahgunakan, tentu bukan kebijakannya yang harus dipermasalahkan, tetapi penyalahgunaannya yang harus ditindak secara tegas dan pasti” (hal 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan aliran dana BI, hal serupa perlu dipertimbangkan. Saat kebijakan itu diambil pada tahun 2003, ada empat permasalahan utama yang dihadapi perekonomian Indonesia. Pertama, kredibilitas kebijakan Pemerintah dan BI yang rendah karena terlalu bergantung pada IMF. Kedua, kebijakan moneter kurang efektif dengan tingkat inflasi yang tinggi. Ketiga, kondisi perbankan yang belum solid. Dan, keempat, persoalan BLBI yang belum selesai sehingga menyebabkan kebijakan bank sentral tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Bank Indonesia sebagai bank sentral juga tidak dapat bekerja secara optimal karena amandemen Undang-Undang Bank Indonesia terkatung-katung dalam waktu yang lama. Kepentingan politik yang beraneka ragam menyebabkan proses amandemen itu berlarut-larut (hal 95).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itu, Burhanuddin menyadari bahwa BI tidak akan mampu bekerja secara optimal. Apalagi untuk menghadapi kondisi ekonomi dan politik yang pada saat itu sedang sulit. Dalam pandangan Burhanuddin, Dewan Gubernur BI telah mengambil langkah strategis dengan itikad baik untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dimaksud, yaitu dengan melakukan langkah-langkah diseminasi kepada stakeholders BI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan tersebut terbukti memberikan hasil positif berupa membaiknya kredibilitas BI yang kemudian mampu mendorong perekonomian ke arah yang lebih baik. Ironisnya, kebijakan itu jugalah yang pada kemudian hari dipermasalahkan sebagai pelanggaran hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelajaran berharga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada bagian penutup, Burhanuddin mencatat pelajaran yang dapat dipetik dari konstelasi bank sentral dalam kehidupan politik ekonomi nasional. Salah satunya adalah perlunya mengkaji arah bentuk dan sifat hubungan antara BI dengan lembaga pemerintah dan lembaga negara lain. Terutama yang cocok dengan sejarah dan tradisi pengelolaan ekonomi kita. Selain itu, perlu dipikirkan kembali proses rekrutmen anggota Dewan Gubernur BI. Proses saat ini adalah melalui fit and proper test di DPR. Cara ini rawan dengan politik uang serta proses dukung- mendukung berdasarkan partai politik dan kepentingan. Inilah yang kemudian diduga Burhanuddin rawan untuk ”pemerasan” oleh DPR (hal 271).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini sungguh mengasyikkan karena Burhanuddin menulis dengan gaya bahasa yang ringan. Kalaupun ada kekurangan dari buku ini adalah kesan yang bercampur aduk antara suasana hati, proses hukum yang formal, dan arsip pengadilan yang panjang. Namun, hal itu tidak mengurangi kenikmatan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus hukum memang bisa dipandang dari berbagai sudut. Kala benar dan salah menjadi relatif, upaya menceritakan keduanya dari berbagai sudut pandang jadi menarik. Namun, satu pelajaran dari kasus ini adalah sikap berani mengambil risiko saat terjadi krisis demi kepentingan rakyat yang lebih luas. Sebuah sikap yang tak bisa dilakukan setiap orang.&lt;br /&gt;Menarik apa yang disampaikan Emha Ainun Nadjib dalam kata pengantar buku ini, ”Penjara negara tidak lagi bisa diidentikkan dengan kesalahan. Dan kebebasan tidak berarti kebenaran. Yang lebih absolut lagi, penjara negara tidak sama dengan neraka, dan surga tidak pula bisa disamakan dengan sesuatu yang ada di luar penjara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Junanto Herdiawan Peneliti Ekonomi&lt;/em&gt;; Bekerja di Bank Sentral&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1195402627522484656?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1195402627522484656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1195402627522484656' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1195402627522484656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1195402627522484656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/10/nasib-kelam-pimpinan-bank-sentral.html' title='Nasib Kelam Pimpinan Bank Sentral'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SrQtNJQSkeI/AAAAAAAAANY/u3Vo7zwkBIw/s72-c/mengadili+gub+BI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4546625842844273021</id><published>2009-09-30T22:23:00.003+07:00</published><updated>2009-09-30T22:26:47.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bilateral Swap Arrangement'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arus Modal Asing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Indonesia'/><title type='text'>Arus Modal Asing : Antara Benci dan Rindu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;sebuah tulisan lama di Harian Republika&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 11 Juni 2007&lt;br /&gt;Arus Modal Asing: Antara Benci dan Rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Junanto Herdiawan, Peneliti Ekonomi Bank Indonesia (BI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya modal asing ke Tanah Air dalam beberapa pekan ini seolah membangkitkan sense deja ju dalam diri kita masing-masing. Apalagi, tahun ini bertepatan dengan 10 tahun krisis ekonomi yang menimpa negeri. Masih segar dalam ingatan kita bahwa salah satu pemicu krisis saat itu adalah terjadinya penarikan dana besar-besaran (sudden capital reversal), dari dana masuk secara besar-besaran menjadi dana keluar secara besar-besaran. Kini, kita dihadapkan kembali pada derasnya aliran modalasing ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bulan Mei 2007, aliran modal asing yang masuk tersebut terus meningkat jumlahnya hingga mencapai sekitar 17 miliar dolar AS. Dana tersebut ditempatkan ke berbagai outlet rupiah seperti SBI, SUN, dan pasar saham. Derasnya aliran dana itu seolah menggedor kesadaran kita pada pengalaman saat krisis lalu. Penarikan dana besar-besaran saat itu kemudian menimbulkan gejolak dengan dampak penularan yang sangat menekan pasar uang dan ekonomi nasional. Kalau ada perilaku "membebek" saat aliran dana tersebut masuk maka perilaku serupa juga akan terjadi saat dana itu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Bank dalam laporannya, ''Addressing the Social Impact of the Crisis in Indonesia 1998'', menulis bahwa perubahan aliran dana luar negeri swasta di Indonesia berjumlah sekitar 22 miliar dolar AS selama setahun, dari aliran masuk 12 miliar dolar AS pada 1997 menjadi aliran keluar 10 miliar dolar AS pada 1998. Leo Gough dalam bukunya Asia Meltdown mengatakan bahwa Asia, yang semula diharapkan menjadi miracle, dalam waktu singkat berubah menjadi chaos, krisis, atau meltdown.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal asing yang saat itu dielu-elukan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, dalam sekejap berubah menjadi sumber krisis multidimensi. Kitapun teringat lirik lagu "Benci Tapi Rindu" yang didendangkan Diana Nasution. Kau datang dan pergi/Sesuka hatimu /Oh... kejamnya dikau/ Teganya dikau padaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akankah berulang?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masuknya aliran modal ke kawasan regional saat ini dipengaruhi oleh masih berlangsungnya kelebihan likuiditas global dan menariknya imbal hasil investasi di kawasan regional. Sementara di sisi domestik, kita melihat bahwa berlanjutnya perbaikan fundamental perekonomian menjadi faktor penting dalam menarik masuknya modal asing tersebut yang pada gilirannya mendukung penguatan nilai tukar rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman krisis, derasnya arus modal asing tersebut perlu kita cermati secara seksama. Hal ini agar kita dapat mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terulangnya krisis serupa. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengingat kembali, mengapa pada tahun 1997 lalu terjadi pembalikan modal secara tiba-tiba. Untuk itu, marilah kita membandingkan berbagai indikator ekonomi utama saat ini dengan saat tahun 1997 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai indikator menunjukkan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi tahun 1997. Dari aspek politik, saat ini kita tidak melihat terdapat gejolak yang signifikan seperti yang terjadi di tahun 1997. Sementara dari aspek ekonomi, kondisi fundamental makroekonomi dewasa ini juga jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut tercermin dari beberapa indikator ekonomi seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, kondisi transaksi berjalan yang surplus, cadangan devisa yang tinggi, sistem nilai tukar mengambang, kondisi fiskal yang sehat, dan kondisi perbankan yang relatif lebih baik. Stabilitas makroekonomi Indonesia saat ini terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi terus berlangsung, laju inflasi semakin rendah, dan kondisi fiskal sehat. Sementara itu, transaksi berjalan mencapai surplus dalam beberapa tahun terakhir sehingga mencapai 9,6 miliar dolar AS pada akhir tahun 2006 dibanding defisit 5,2 miliar dolar AS pada akhir tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadangan devisa kita juga terus bertambah secara signifikan dan pada akhir April 2007 mencapai 49,3 miliar dolar AS serta terus meningkat menjadi 50,3 miliar dolar AS pada awal Mei, dibanding sekitar 20 miliar dolar AS pada tahun 1997. Dari sisi kebijakan nilai tukar, dianutnya sistem nilai tukar mengambang saat ini juga memberikan keuntungan berupa rendahnya tekanan langsung pada cadangan devisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi institusi, kondisi perusahaan khususnya institusi keuangan nasional juga lebih baik dibanding dengan kondisi pada tahun 1997. Kita melihat berbagai upaya penguatan sendi-sendi kelembagaan, finansial, dan operasional telah dilakukan. Perbaikan kondisi permodalan, penerapan risk management, dan konsistensi penerapan prinsip kehati-hatian bank, telah menjadi fokus perhatian dalam proses penguatan industri perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membangun garis-garis pertahanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita menyadari bahwa kondisi yang baik saat ini saja tak cukup untuk membuat modal asing itu betah berlama-lama di negeri kita. Kita memerlukan langkah lanjutan agar dana tersebut dapat bertahan dan mengalir ke sektor riil yang lebih berjangka panjang. Untuk itu, manajemen pengelolaan perekonomian nasional yang berhati-hati perlu terus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian dalam mengelola anggaran pemerintah dan neraca pembayaran Indonesia juga menjadi hal yang penting. Selain itu, upaya memperbaiki iklim investasi juga perlu terus dilakukan. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia perlu terus memfasilitasi kegiatan perekonomian nasional dengan melakukan review aturan-aturan yang terkait dengan industri perbankan guna mendorong penyaluran kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, &lt;em&gt;second line of defence&lt;/em&gt; yang perlu dipertajam guna mengantisipasi apabila terjadi pembalikan modal secara mendadak adalah mempererat kerja sama regional dengan negara-negara lain di kawasan. Secara regional, kita telah memiliki perjanjian Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan beberapa negara (Cina, Jepang, dan Korea) yang jumlahnya mencapai 12 miliar dollar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah, kata Nietzche, adalah sebuah ingatan yang disimpan dalam kesadaran kolektif dan mengendap dalam kenangan. Belajar dari pengalaman sejarah itu, kita berharap dengan upaya antisipasi yang kita dilakukan, krisis tahun 1997 tidak akan terulang lagi di negeri ini. Selain itu kita juga berharap agar para pelaku pasar, investor asing, dan pemilik dana, lebih meyakini kondisi fundamental perekonomian Indonesia saat ini yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1997. Bila aliran modal asing tadi dapat bersifat produktif dan terus berlama-lama di Tanah Air maka kita yakin perekonomian Indonesia dapat tumbuh secara berkualitas dan berkesinambungan. ( )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4546625842844273021?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4546625842844273021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4546625842844273021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4546625842844273021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4546625842844273021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/09/arus-modal-asing-antara-benci-dan-rindu.html' title='Arus Modal Asing : Antara Benci dan Rindu'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2790597634840249264</id><published>2009-09-04T22:19:00.005+07:00</published><updated>2009-09-04T22:35:01.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertumbuhan Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celana Dalam'/><title type='text'>Celana Dalam dan Kesehatan Ekonomi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqEyxo3jovI/AAAAAAAAANE/_5k28Vbm7GM/s1600-h/celana+dalam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377635258422502130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 132px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqEyxo3jovI/AAAAAAAAANE/_5k28Vbm7GM/s200/celana+dalam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Seberapa sering anda membeli Celana Dalam? Meski buat beberapa orang, Celana Dalam itu sifatnya personal, dalam ekonomi tak ada yang personal. Secara agregat, Celana Dalam bisa jadi indikator akan kondisi perekonomian suatu negara. Berita di Washington Post beberapa hari lalu menulis mengenai Celana Dalam dan Resesi Ekonomi di AS. Hasil survey menunjukkan bahwa kaum pria membeli 3 hingga 4 celana dalam selama satu tahun. Saat krisis ekonomi melanda, pembelian Celana Dalam Pria merosot drastis. Rupanya, membeli Celana Dalam secara rutin bukan hanya baik bagi kesehatan diri, tapi juga baik bagi kesehatan ekonomi suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teorinya seperti ini : dalam keadaan krisis, pada umumnya orang akan memotong pengeluarannya. Mereka hanya akan mempertahankan konsumsi kebutuhan pokok, dan mengurangi biaya-biaya lainnya, seperti biaya hiburan, berlibur, belanja dll. Celana Dalam termasuk ke dalam kebutuhan dasar manusia yang ikut dipotong. Dalam kondisi krisis, lebih baik tidak beli celana dalam daripada tidak membeli makanan. Akhirnya penjualan Celana Dalam pun mulai merosot. Ini menjadi indikasi bahwa ekonomi berada dalam tekanan serius.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, ada sebuah Indeks yang dinamakan Indeks Celana Dalam Pria atau &lt;em&gt;Men’s Underwear Index&lt;/em&gt; yang pada tahun 2008 lalu mencatat penurunan drastis setelah sebelumnya selalu mencatat pertumbuhan positif sejak tahun 2003. Namun memasuki pertengahan 2009, indeks Celana Dalam pria di Amerika Serikat menunjukkan perlambatan penurunan. Bahkan pada tahun 2010 diprediksi akan mulai menunjukkan tanda pembalikan ke atas. Masyarakat mulai kembali membeli Celana Dalam. Hal ini sungguh melegakan dan menjadi secercah cahaya akan berakhirnya resesi di Amerika.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana di Indonesia? Apakah Celana Dalam bisa menjadi patokan berakhirnya krisis? Pembalikan ekonomi di AS tentu akan membawa dampak pada perbaikan ekonomi di dalam negeri. Namun sejak kasus “Kolor Ijo” di Bekasi beberapa waktu lalu, kisah tentang Celana Dalam di negeri ini masih berputar hanya di sekitar urusan perut. Meski demikian, kalau melihat pada indikator-indikator konvensional, krisis ekonomi nampaknya hampir berlalu. Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II-2009 tercatat masih tumbuh positif di angka 4% dan diprediksi selama 2009 akan berada pada tingkat sekitar 4%. Di tahun 2010, pertumbuhan ekonomi akan mulai pulih dan diperkirakan dapat mencapai 5%.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan Celana Dalam, sebagai proxy dapat dilihat perbaikan pada penjualan ritel selama triwulan II-2009. Sektor perdagangan, yang menjadi salah satu sektor terbesar penyumbang pertumbuhan pada ekonomi Indonesia, juga tumbuh membaik. Keyakinan konsumen, dan keyakinan dunia usaha akan ekonomi Indonesia ke depan, semakin menunjukkan perbaikan. Hal itu tercermin dari membaiknya hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Perbaikan keyakinan tersebut pada gilirannya mendorong geliat aktivitas sektor-sektor ekonomi. Di triwulan III-2009 ini, perbaikan ekonomi akan menyebabkan angka pertumbuhan pada triwulan III mampu melebihi prediksi semula sebesar 3,9%.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apakah perbaikan ini akan terus berlangsung? Kemampuan kita menggunakan momentum menjadi hal yang teramat penting dalam situasi pembalikan ekonomi yang sedang terjadi saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, cobalah cek lemari pakaian anda. Kapan terakhir kali anda membeli Celana Dalam?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selamat berakhir pekan. Salam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2790597634840249264?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2790597634840249264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2790597634840249264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2790597634840249264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2790597634840249264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/09/celana-dalam-dan-kesehatan-ekonomi.html' title='Celana Dalam dan Kesehatan Ekonomi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqEyxo3jovI/AAAAAAAAANE/_5k28Vbm7GM/s72-c/celana+dalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-5893737908026366981</id><published>2009-09-04T04:32:00.003+07:00</published><updated>2009-09-04T04:38:15.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='risiko sistemik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengawasan Bank'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Century'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Indonesia'/><title type='text'>Ada Duri di Balik Century</title><content type='html'>&lt;em&gt;If you borrow 100 dollar, you are at the mercy of the bank&lt;/em&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;But if you borrow 1 million dollar, the bank is at your mercy …. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqA2KciomOI/AAAAAAAAAM0/WINKhX8lHl4/s1600-h/bail+out+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377357508168423650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqA2KciomOI/AAAAAAAAAM0/WINKhX8lHl4/s200/bail+out+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Metafor di atas menunjukkan bahwa perbankan adalah bisnis yang penuh komplikasi. Masalah yang dihadapi bukan melulu soal tekhnis keuangan, tapi juga soal kepercayaan dan psikologi publik. Istilah “risiko sistemik” pada perbankan misalnya, kerap terjalin kusut dengan salah kaprah. Adakah sebenarnya risiko sistemik itu? Atau itu hanya istilah semantik yang digunakan politisi dalam menutupi kepentingannya? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kasus bailout lembaga keuangan di Amerika Serikat dan Eropa, atau sejarah krisis sepanjang zaman, menunjukkan bahwa “risiko sistemik” adalah hal yang inheren dalam dunia keuangan. Itu adalah sebuah risiko akan terjadinya instabilitas di pasar keuangan yang dapat merambat ke sektor riil. Saat krisis terjadi, kepercayaan masyarakat runtuh. Saat itu, umumnya Pemerintah turun tangan mem-bail out sistem keuangan, meski misalnya, kesalahan seperti penerbitan subprime mortgage, dilakukan oleh para pemilik bank.&lt;br /&gt;Kegalauan itu pula yang mengemuka dalam kasus penyelamatan Bank Century. Kita perlu membedakan antara penyelamatan Century karena risiko sistemik dengan kejahatan perbankan yang dilakukan pemilik bank. Sayangnya, isu politis telah bercampur baur dengan isu tekhnis. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Permasalahan penyelamatan bank, kejahatan perbankan, kebijakan pengawasan, hingga langkah penyelesaian, simpang siur dalam wacana publik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Bank Century Diselamatkan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Banyak pendapat mengatakan bahwa Bank Century adalah bank kecil. Penutupannya dinilai lebih baik daripada penyelamatannya. Lantas, mengapa pada saat itu (akhir 2008) Bank Century tidak ditutup saja? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab hal itu, ada baiknya kita melihat pada kontekstualisasi saat peristiwa itu terjadi. Terlepas dari permasalahan yang terjadi di Bank Century, pada akhir 2008, Indonesia sedang terkena imbas krisis global yang luar biasa dahsyatnya. Saat itu, Bank Century menghadapi “sakratul maut”. Pilihannya adalah menutup bank itu atau menyelamatkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apabila melihat pada dampaknya di sektor riil dan jumlah nasabahnya, Bank Century sebenarnya termasuk ke dalam low impact bank. Jumlah nasabahnya pun hanya 65.000 orang. Artinya, apabila ada permasalahan, menutup bank ini memiliki dampak kecil ke sektor riil dan nasabah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu hanyalah satu parameter dalam mempertimbangkan penutupan suatu bank. Beberapa parameter lain perlu menjadi pertimbangan, khususnya apabila melihat apakah penutupan bank itu membawa “risiko sistemik”. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Parameter pertama adalah melihat bagaimana dampak penutupan Bank Century pada bank lain. Dilihat dari parameter itu, Bank Indonesia memandang imbasnya sangat besar. Data pada waktu itu menunjukkan bahwa ada beberapa bank yang memiliki eksposur besar di Bank Century. Artinya, dana bank-bank tersebut akan “nyangkut” di Bank Century melalui fasilitas Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Beberapa bank akan mengalami masalah likuiditas. Akibatnya, rasio kecukupan modalnya (CAR) akan anjlok. Kalau CAR suatu bank anjlok, bank tersebut langsung masuk ICU, atau pengawasan khusus BI. Masalah tidak berhenti di situ, karena efeknya akan berantai ke bank-bank lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Parameter lain yang menjadikan Bank Century sistemik pada waktu itu, adalah imbasnya ke pasar modal, baik pada saham maupun obligasi. Belum lagi menghitung imbasnya pada sistem pembayaran antar bank, dan ditambah “trauma” masyarakat apabila mendengar sebuah bank “ditutup”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kondisi ekonomi saat itu sungguh berada dalam posisi clear and present danger. Bangkrutnya Lehman Brothers dan ditutupnya lebih dari 50 bank di Amerika, belum termasuk di Eropa, telah menimbulkan “kengerian” yang luar biasa di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sistem keuangan Indonesia saat itu mengalami tekanan hebat. Kepercayaan publik terhadap perbankan merosot drastis. Hal itu dapat dilihat pada dana perbankan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang biasanya mencapai Rp 200 triliun, tiba-tiba menyusut hingga “hanya” Rp 89 triliun. Itu artinya, masyarakat beramai-ramai menarik dananya dari perbankan dalam jumlah besar. Untuk menutupi kebutuhan itu, perbankan mencairkan dana mereka di SBI.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Indikator kepanikan masyarakat juga dilihat dari anjloknya dana deposito masyarakat di bank. Menyikapi penarikan ini, bank melakukan perang suku bunga, guna menghindari penarikan lebih lanjut. Di Pasar Uang Antar Bank (PUAB), bank-bank besar mulai menahan dana dan enggan saling meminjamkan pada bank yang membutuhkan. Akibatnya, bank kecil dan menengah mengalami kesulitan likuiditas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Kondisi pasar uang saat itu, sungguh amat tegang.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqA2ztQusZI/AAAAAAAAAM8/XqiWEPM15z8/s1600-h/CDS.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377358217031365010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 131px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqA2ztQusZI/AAAAAAAAAM8/XqiWEPM15z8/s200/CDS.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di sisi lain, ada indikator risiko gagal kredit yang dinamakan CDS (Credit Default Swap). Ini adalah indikator yang berlaku internasional untuk melihat risiko kegagalan suatu negara dalam membayar kewajibannya. Makin tinggi indeksnya, makin tinggi risikonya. Saat itu, CDS Indonesia melonjak dari angka 200 basis point (bps) menjadi 1400 bps. Risiko gagal Indonesia saat itu sungguh tinggi. Hal ini kemudian diikuti oleh penarikan dana asing yang mencapai sekitar 6 miliar dollar AS. Nilai tukar rupiah pun ikut tertekan. Masyarakat makin resah dan panik. Sebagian menarik simpanannya dan menukar ke dollar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penutupan bank, dalam kontekstualisasi keadaan seperti di atas, akan menyebabkan kondisi semakin tidak terkendali. Masyarakat merosot kepercayaannya pada bank. Trauma penutupan 16 bank di tahun 1998 masih jelas membayang dan menjadikan mereka gelisah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari sisi ini, diperlukan sebuah professional judgement, atau executive decision yang berani. Tentu dengan segala risikonya. Bank Century pun diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Duri di balik penyelamatan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun di balik aksi penyelamatan itu, ada duri yang harus dipisahkan. Itulah kejahatan perbankan yang dilakukan oleh manajemen Bank Century. Secara diam-diam, manajemen Bank Century melakukan praktik-praktik kejahatan yang amat busuk. Beberapa praktik yang dilakukan antara lain adalah surat berharga senilai 11 juta dollar AS yang tak bisa dicairkan, letter of credit (L/C) fiktif senilai 100 juta dollar AS, pemalsuan bank note senilai 18 juta dollar AS, serta beberapa kredit fiktif lainnya bernilai jutaan dollar AS. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan perbankan seperti itu harus ditindak secara tegas. Oleh karena itu, langkah BPK untuk menuntaskan audit investigatif terhadap dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh Bank Century, ataupun permasalahan dalam penyimpangan pengucuran dana, perlu dilakukan secara serius.Di sini kita perlu melihat secara proporsional antara penyelamatan, pengawasan, dan kejahatan. Kebijakan penyelamatan, adalah sebuah langkah yang berani dan dinilai tepat untuk menghindari kegagalan lebih besar pada sistem keuangan Indonesia. Namun, apabila dalam pelaksanaan penyelamatan itu terdapat penyimpangan, ataupun kejahatan pada perbankan, maka yang perlu diusut tuntas adalah kejahatannya, dan bukan pada kebijakan penyelamatannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saat puluhan bank ditutup di Amerika Serikat dan Eropa, perbankan di Indonesia justru solid di tengah guncangan krisis. Lebih dari 130 bank di Indonesia kondisinya sehat dan stabil dengan tingkat kesehatan yang baik. Bahwasanya dalam kondisi itu, ada satu atau dua bank yang sakit karena berbagai sebab, tentu memprihatinkan kita. Namun kiranya pandangan proporsional perlu diberikan pula pada berhasilnya pengawasan di 130 bank yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mudah-mudahan kita bisa berpikir jernih dalam melihat kasus Bank Century. Mudah-mudahan kita tidak terseret pada diskusi semantik tentang risiko sistemik, apalagi isu-isu politis yang membelokkan isu sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salam. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-5893737908026366981?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/5893737908026366981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=5893737908026366981' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5893737908026366981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5893737908026366981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/09/ada-duri-di-balik-century.html' title='Ada Duri di Balik Century'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SqA2KciomOI/AAAAAAAAAM0/WINKhX8lHl4/s72-c/bail+out+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-5109093146927122496</id><published>2009-09-02T11:19:00.002+07:00</published><updated>2009-09-02T11:22:31.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Neraca Pembayaran Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pariwisata Malaysia'/><title type='text'>Malaysia Tetap Negara Favorit Kita</title><content type='html'>Nasionalisme kadang hadir dalam wajah ganda. Pemahamannya pun berupa makna. Di satu sisi, kita bisa saja berkata cinta produk dalam negeri. Namun di sisi lain, kita sekaligus pecinta produk luar negeri.  Di satu sisi, kita mengecam penjiplakan budaya kita. Tapi di sisi lain, kita dengan mudahnya menjiplak budaya asing. Pun demikian halnya dalam menyikapi kasus klaim Malaysia atas budaya kita. Meski banyak yang menghujat dan mengecam Malaysia, terkait dengan iklan pariwisatanya, bangsa kita tetap menjadikan Malaysia tujuan pelancongan. Iklan pariwisata Malaysia yang ditayangkan, sanggup membetot hati para pelancong negeri ini untuk selalu berkunjung ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Triwulan II-2009 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia,  jumlah WNI yang bepergian ke luar negeri meningkat 13%, menjadi 1,3 juta orang. Ke mana mereka pergi?  Daerah favorit turis Indonesia adalah Singapura (44%) dan Malaysia (25%), kemudian diikuti oleh Australia (6%), Thailand (4%), dan Amerika Serikat (4%). Dana yang dikeluarkan oleh para turis itu, atau dana yang keluar dari Indonesia untuk perjalanan itu adalah sebesar 1,2 miliar dollar AS. Itu artinya, selama triwulan II-2009, ada dana sebesar 1,2 miliar dollar AS yang dibelanjakan penduduk Indonesia di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Singapura, Malaysia adalah negara favorit tujuan wisata pelancong WNI. Jumlah wisatawanpun meningkat setiap waktu. Iklan turisme, penerbangan murah, menjadi perangsang turis Indonesia untuk melancong ke Malaysia. Tamasya ke Malaysia juga sangat mudah dan mengasyikkan.  Infrastruktur, akomodasi, transportasi, hingga kemudahan papan penunjuk jalan menjadikan wisata ke Malaysia sangat menyenangkan. Kesiapan infrastruktur transportasi memungkinkan pengunjung memiliki banyak pilihan untuk melakukan mobilitas, mulai dari kereta komuter, monorail, ERL, taksi, bus, hingga sepeda motor.  Meski tak banyak dibanding negeri kita, Malaysia memberikan pula pilihan wisata. Mulai dari mandi matahari di pantai Pulau Redang, bersnorkeling dalam kejernihan air Pulau Langkawi, merasakan manisnya strawberry di Dataran Tinggi Cameron, hingga menguji adrenalin di Genting Highlands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya meningkatkan pariwisata sebagai tulang punggung pendapatan, dilakukan dengan sangat serius oleh Pemerintah Malaysia. Dari sebelumnya, menempati posisi ke-16 penghasil devisa, kini pariwisata Malaysia adalah 5 besar penyumbang devisa negeri itu. Dalam setahun, penghasilan Malaysia dari sektor pariwisata mencapai 14 miliar dollar AS, atau dua kali lipat Indonesia, yang “hanya” 7 miliar dollar AS. Pilihan tempat wisata, keanekaragaman hayati, alam, dan keindahan budaya, yang dimiliki Indonesia, ternyata tidak otomatis mampu mendatangkan turis. Bahkan turis Indonesiapun  masih memilih untuk berlibur ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data Neraca Pembayaran, Malaysia …. memang truly Asia. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-5109093146927122496?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/5109093146927122496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=5109093146927122496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5109093146927122496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5109093146927122496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/09/malaysia-tetap-negara-favorit-kita.html' title='Malaysia Tetap Negara Favorit Kita'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2538849839100999516</id><published>2009-08-13T21:56:00.007+07:00</published><updated>2009-08-13T22:16:36.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Termos Jeruk Mbak Ani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Termos Kopi Mbak Ani'/><title type='text'>Rahasia Kebugaran Mbak Ani</title><content type='html'>(&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/08/05/rahasia-kebugaran-mbak-ani/"&gt;Diposting pula di Kompasiana&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQrMfXM6lI/AAAAAAAAAMs/d3eL0pm1gtU/s1600-h/mbakani-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369464149309712978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQrMfXM6lI/AAAAAAAAAMs/d3eL0pm1gtU/s200/mbakani-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi mereka yang pernah mengikuti proses penyusunan APBN di DPR tentu akan merasakan betapa panjang dan melelahkannya proses itu. APBN harus dibahas terlebih dahulu dengan Komisi XI DPR RI. Setelah itu dibawa ke Panitia Anggaran. Dari situ, dibahas dalam Panitia Kerja, sebelum akhirnya dibawa kembali ke Rapat Paripurna Panitia Anggaran. Prosesnya bisa memakan waktu lebih dari satu bulan dengan rapat marathon hingga dini hari. Perdebatan dan perbedaan kepentingan sangat mewarnai proses pembagian anggaran. Apalagi kalau sudah sampai pada pembagian anggaran ke dalam kantong Departemen atau sektor tertentu, prosesnya sangat alot dan melelahkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit rekan-rekan dari Pemerintahan yang jatuh sakit dalam proses panjang itu. Mulai dari flu hingga badan meriang. Namun, bagi Mbak Ani, atau Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, proses itu dijalaninya dengan selalu riang dan bugar. Berbagai pertanyaan yang tajam, kritis, dan kadang ngeyel tetap dilayaninya dengan senyum. Hingga akhir pembahasan, Mbak Ani tetap tampil ceria. Padahal pekerjaannya bukan hanya rapat di DPR, melainkan juga setumpuk pekerjaan di Pemerintahan. Apa rahasianya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQqe-6CLAI/AAAAAAAAAMc/H_UmIpeIebk/s1600-h/mbakanijeruk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369463367503326210" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQqe-6CLAI/AAAAAAAAAMc/H_UmIpeIebk/s200/mbakanijeruk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari hasil pengamatan dan bincang-bincang dengan para ajudan, memang mbak Ani selalu menjaga kebugarannya. Selain itu, ada satu hal yang selalu dibawa ajudan setiap mbak Ani ikut sidang di DPR, dan itu adalah dua botol termos. Sebelum mbak Ani datang, termos sudah meluncur lebih dahulu dibawa ajudan. Termos mencari posisi di depan meja Mbak Ani. Kalau bahan Rapat boleh saja ketinggalan, karena staf mbak Ani pasti membawakan. Tapi termos ini jangan sampai ketinggalan, demikian menurut Ajudan. Meski di ruang rapat disediakan minuman atau makanan, termos favorit mbak Ani tetap hadir mendampingi. Ajudan biasanya meletakkan dengan hati-hati, memutar tutupnya untuk mengecek kesegaran isinya, dan mempersiapkan gelas di samping termos tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apa isi kedua termos itu? Termos pertama berisi “Sari Jeruk Segar Dingin”. Sementara termos kedua berisi “Kopi”. Kata ajudan, mbak Ani sendiri yang memeras jeruk dan membuat kopi itu setiap pagi. Jeruk segar dingin memang penuh kelezatan dan mengandung vitamin C yang baik untuk tubuh. Sari jeruk dingin ini diperas khusus, dan bukan diambil dari sirup. Mbak Ani bisa membedakan mana sirup dan mana jeruk asli. Seperti Miss Universe yang selalu tampil segar dalam iklan vitamin C, maka mbak Ani juga tampil segar dengan Sari Jeruk Dinginnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQqwH1tTGI/AAAAAAAAAMk/FJQQIVBd4vE/s1600-h/mbakanikopi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369463661958876258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQqwH1tTGI/AAAAAAAAAMk/FJQQIVBd4vE/s200/mbakanikopi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lantas, kenapa kopi? Karena kopi mengandung zat kafein yang mampu membuat kita tahan kerja lebih lama. Menurut penelitian, efek positif dari kafein antara lain: menambah kecepatan berpikir dan inspirasi, menyembuhkan rasa ngantuk dan kelelahan, peningkatan sensor stimuli dan reaksi motorik. Kopi juga bermanfaat bagi kecantikan karena mampu mengangkat sel kulit mati dan menggantikannya dengan yang baru. Bahkan kini juga mulai dikenal luluran kopi di berbagai salon kecantikan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di atas kedua termos tersebut ditempeli label, supaya mbak Ani tidak tertukar kalau mau minum. Sebab, mbak Ani tidak minum keduanya secara random. Kalau dicermati, bila keputusan rapat menyenangkan hati dan sesuai dengan perkiraan, biasanya mbak Ani mengambil sari Jeruk. Tapi bila rapat kelihatan bakal deadlock dan panjang, ia membuka termos kopi. Dengan kebugaran seperti itu, nampaknya mbak Ani masih akan tetap bugar lima tahun ke depan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selamat mencoba jeruk dan kopi. Salam. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2538849839100999516?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2538849839100999516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2538849839100999516' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2538849839100999516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2538849839100999516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/08/rahasia-kebugaran-mbak-ani.html' title='Rahasia Kebugaran Mbak Ani'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQrMfXM6lI/AAAAAAAAAMs/d3eL0pm1gtU/s72-c/mbakani-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-9115486681777217976</id><published>2009-08-13T21:46:00.007+07:00</published><updated>2009-08-13T21:55:19.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sandal Jepit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Indonesia'/><title type='text'>Sandal Jepit dan Ekonomi Indonesia</title><content type='html'>(&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/08/10/sandal-jepit-dan-ekonomi-indonesia/"&gt;Diposting juga di Kompasiana&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQn7OMj0zI/AAAAAAAAAME/ynwuZc7YwSQ/s1600-h/sandal+jepit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369460554109014834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQn7OMj0zI/AAAAAAAAAME/ynwuZc7YwSQ/s200/sandal+jepit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gedung pencakar langit di ibukota tak selalu berarti kementerengan. Di balik ruangan dingin ber-AC, wallpaper nan indah, sampai penampilan para pekerja yang mentereng, selalu ada hakikat asali dari diri kita. Setidaknya itulah yang terjadi di kantor saya. Saat hari beranjak siang di kantor, pemandangan para pekerja yang tampil mentereng, perlahan mulai berubah.&lt;br /&gt;Sebut saja namanya Dewi. Ia rekan kerja saya yang cantik dan manis. Penampilannya tipe wanita karir. Baju bermerek, busana stylish, parfum semerbak, dan sepatu berhak tinggi mengkilat. Ia lulusan S-2 dari universitas ranking teratas di Amerika. Pengetahuannya jangan diragukan. Pengalaman dan pergaulannya luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saat bekerja di kantor, Dewi selalu menggunakan sandal jepit. Sambil bersandal jepit, Dewi bekerja, menerima telpon, dan melakukan analisis pasar dengan tajam. Di sekitar Dewi, banyak para pekerja kantor yang secara diam-diam atau terang-terangan, juga memakai sandal jepit. Sepatu berhak tinggi dan mengkilat diparkir di bawah meja. Saya sendiri selalu menggunakan sandal jepit. Baik untuk sholat ataupun untuk bekerja, sandal jepit memang nyaman. Kalau mau jujur, lihatlah di kolong-kolong meja para eksekutif di kantor mewah. Hampir dipastikan kita menemukan sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandal jepit, selain memberi kenyamanan adalah juga sebuah kejujuran. Sandal jepit adalah sebuah nilai tradisional yang dimiliki bangsa kita untuk berontak terhadap hegemoni sepatu. Sandal jepit merupakan makna “Ada” bagi kita. Eksistensi kita tercermin dari kenyamanan kita dengan sandal jepit. Memakai sandal jepit, berarti juga mengakui hakikat bangsa ini yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa agraris dan maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu, nenek moyang kita tidak pernah memakai sepatu. Mereka ke sawah ataupun melaut, tanpa beralas kaki (nyeker). Sepatu masuk ke negeri ini dibawa oleh para penjajah Belanda. Sepatu modern baru ditemukan di wilayah Eropa pada tahun 1800-an. Sejak saat itu, para petinggi pribumi mulai mengenal sepatu. Tapi rakyat kebanyakan, masih nyeker.&lt;br /&gt;Sebagai penganut chaos theory, ataupun web of life dari Fritjof Chapra, saya kerap mengaitkan berbagai fenomena menarik pada kondisi ekonomi bangsa. Dari sandal jepit saya berpikir, di balik kemajuan dan kemewahan mall-mall, di balik kata pembangunan gedung mewah dan teknologi, sesungguhnya kita ini bangsa yang rindu pada kekuatan asali bangsa, yaitu bangsa agraris dan maritim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQoQ-38XGI/AAAAAAAAAMM/U8Cf6XVyIHc/s1600-h/grafik+export.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369460927953132642" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 149px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQoQ-38XGI/AAAAAAAAAMM/U8Cf6XVyIHc/s200/grafik+export.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat kekuatan ekspor bangsa Indonesia, hampir didominasi oleh ekspor komoditas alam dan hasil bumi. Dalam beberapa triwulan ini, ekspor CPO dan batubara tumbuh meningkat seiring dengan membaiknya permintaan internasional (Grafik). Dulu, ekspor beras, karet, dan minyak bumi, menjadi kekuatan bangsa ini. Berbeda dengan Korea Selatan atau Jepang, yang kekuatan ekspor negaranya terletak pada industri semikonduktor, otomotif, dan produk komunikasi, bangsa kita masih tradisional dan “hanya” mengekspor hasil bumi. Meski kelihatan tradisional, tapi itulah hakikat dan jati diri bangsa ini. Upaya mengingkarinya sama dengan memakai sepatu mengkilat dan berhak tinggi. Hanya terlihat mentereng, tapi hati kecil berontak dan mencari kembali sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, upaya penguatan industri, jatah anggaran pemulihan ekonomi, kiranya perlu fokus pada industri yang menjadi kekuatan bangsa ini, seperti pertanian, pertambangan, dan maritim. Sektor kelautan adalah sektor yang kerap terpinggirkan, meski bangsa Indonesia adalah bangsa maritim dengan mottonya yang terkenal dulu “Di Laut Kita Jaya”. Namun kini, sektor itu belum jadi “jagoan”. Coba tengok keberpihakan pemerintah pada pengembangan sektor kelautan yang masih minim. Fokus industri maritim masih belum optimal. Selain itu, rencana anggaran Departemen Kelautan dan Perikanan 2010 juga turun menjadi Rp 3,1 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,4 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sandal jepit, mungkin kini saatnya kita jujur pada diri kita. Bahwa kita ini pada hakikatnya adalah bangsa petani dan nelayan. Basis industri kita adalah usaha kerakyatan atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kita bukan bangsa yang sophisticated dengan hiruk pikuk pasar keuangan dan tekhnologi, semikonduktor, otomotif, dan perangkat komunikasi. Kita adalah bangsa petani dan nelayan. Upaya mensofistikasi industri dan tekhnologi, ada baiknya diarahkan pada industri pertanian, pertambangan, dan kelautan. Thailand tidak malu dengan hakikat diri tersebut, dan telah membuktikan bahwa bangsa petani dan umkm juga bisa berkiprah di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sandal jepit di kantor, kita memahami arti “Ada”. Dengan demikian, kita tak perlu lagi bingung untuk memulai dari mana membangun basis kekuatan ekonomi kita. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-9115486681777217976?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/9115486681777217976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=9115486681777217976' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9115486681777217976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9115486681777217976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/08/diposting-juga-di-kompasiana-gedung.html' title='Sandal Jepit dan Ekonomi Indonesia'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQn7OMj0zI/AAAAAAAAAME/ynwuZc7YwSQ/s72-c/sandal+jepit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2587841122458260632</id><published>2009-08-13T21:27:00.003+07:00</published><updated>2009-08-13T21:39:00.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teror Bom'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Indonesia'/><title type='text'>Ekonomi Indonesia Pasca Teror Bom</title><content type='html'>&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/07/20/ekonomi-indonesia-pasca-teror-bom/"&gt;Diposting pula di Kompasiana&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri, teror bom Ritz Carlton dan JW Marriot tanggal 17 Juli 2009 lalu akan membawa persepsi negatif bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Baru saja, beberapa pekan lalu, IMF mengeluarkan outlook yang positif tentang Indonesia. Dan baru saja, ekonomi Indonesia dipuji dalam berbagai fora internasional. Namun, semua itu seolah sirna dengan terjadinya bom. Kejadian itu dikhawatirkan dapat menghapus prestasi di bidang ekonomi yang telah diraih secara susah payah selama 4 tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ekonomi Indonesia akan terpengaruh oleh ledakan bom tersebut? Dalam jangka pendek mungkin akan ada dampaknya. Dampak bom terhadap ekonomi kemungkinan akan dirasakan dalam 2-3 bulan mendatang. Apabila kita melihat pada data perkembangan kejadian terorisme di Indonesia, dampak langsungnya adalah pada penurunan PDB, secara khusus pada subsektor pariwisata yang ditunjukkan oleh menurunnya jumlah wisatawan manca negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari grafik terlihat, setiap terjadi bom, jumlah wisatawan manca negara yang datang ke Indonesia langsung menurun. Meski dampak kasus Bom Bali dan Jakarta tidak sama, karena Bali adalah daerah wisata, keduanya kita perbandingkan dalam satu grafik untuk mempermudah. Usai Bom Bali 2002, Bom Marriot 2004, Bom Kedubes Australia 2004, dan Bom Bali jilid II 2005 (tanda panah), pertumbuhan di sektor pariwisata Indonesia turun drastis. Tahun 2005 misalnya, terjadi penurunan pada subsektor perhotelan dan pariwisata dari sekitar 8% menjadi 6%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQksWqpTjI/AAAAAAAAAL0/VGrVXEanh5c/s1600-h/dampakbom2005.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369457000149765682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 220px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQksWqpTjI/AAAAAAAAAL0/VGrVXEanh5c/s320/dampakbom2005.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun apabila dilihat secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru terlihat mampu bertahan dari dampak ledakan bom. Setelah ledakan Bom Bali Oktober 2002 misalnya, PDB triwulan IV-2002 memang turun drastis menjadi 2,61% dibanding triwulan sebelumnya. Sektor pariwisata turun 0,9%. Namun di awal 2003, PDB sudah dapat tumbuh kembali 2,04%, termasuk sektor pariwisata tumbuh 0,47%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ledakan bom Marriot Agustus 2003 dan ledakan bom di kedutaan Australia September 2004, terjadi hal serupa. PDB turun pada triwulan III-2003 dan Triwulan III-2004 turun menjadi 3,97% dan 5,10%. Namun PDB kembali tumbuh pada triwulan IV-2003 dan Triwulan IV-2004 menjadi 4,95% dan 6,65%. Secara umum, bahkan pertumbuhan ekonomi kita berangsur membaik dari tahun 2003 hingga 2005, dari 4,9%. 5,1%, dan 5,6%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar uang, ketahanan ekonomi relatif lebih baik. Nilai tukar rupiah pada umumnya akan berfluktuasi usai serangan bom. Namun relatif kembali stabil dalam waktu cepat. Hal sama terjadi pada IHSG. Di sisi moneter, kemampuan Bank Indonesia meredam dampak moneter dari kejadian bom juga cukup baik. Perkembangan uang beredar dapat dikendalikan stabil, dan inflasi juga terkendali sebesar 5,06% dan 6,4% pada tahun 2003 dan 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data di atas, ekonomi Indonesia terbukti relatif tahan terhadap guncangan bom. Meski sempat mengalami gangguan dalam jangka pendek, penyesuaian berlangsung cukup cepat. Pesimisme biasanya muncul dari kalangan pengusaha dan investor asing. Namun melihat sampai saat ini pertumbuhan investasi belum terlalu optimal di negeri ini, mudah-mudahan dampak ke depan tidak terlalu parah. Pengalaman di atas memberi kita sedikit optimisme dalam melihat kinerja ekonomi Indonesia ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekonomi secara umum memang bukan ditentukan oleh faktor sentimen semata, namun juga oleh faktor fundamental. Keduanya harus saling mengisi. Kemampuan kita menyeimbangkan antara faktor fundamental dan sentimen sungguh penting untuk menjaga keberlangsungan ekonomi kita ke depan. Mudah-mudahan, kabinet yang tinggal beberapa bulan ini masih dapat bekerja secara optimal dalam menyikapi guncangan. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2587841122458260632?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2587841122458260632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2587841122458260632' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2587841122458260632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2587841122458260632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/08/ekonomi-indonesia-pasca-teror-bom.html' title='Ekonomi Indonesia Pasca Teror Bom'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQksWqpTjI/AAAAAAAAAL0/VGrVXEanh5c/s72-c/dampakbom2005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2125878089725910472</id><published>2009-08-13T21:09:00.006+07:00</published><updated>2009-08-13T21:40:49.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pahlawan Devisa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKI'/><title type='text'>Pahlawan yang Takut Pulang ke Negerinya Sendiri</title><content type='html'>(&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/07/11/pahlawan-yang-takut-pulang-ke-negeri-sendiri/"&gt;Diposting juga di Kompasiana&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang dari Korea Selatan beberapa waktu lalu, saya duduk bersebelahan dengan seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bernama Herry. Ia telah bekerja di Korea Selatan lebih dari tiga tahun, tepatnya di wilayah Chungduk, pada sebuah pabrik bahan kimia. Di pabrik itu, bekerja lebih dari 100 orang Indonesia. Selama bekerja, mereka diperlakukan secara baik, hidup terjamin, dan penghasilannya bisa dikirimkan secara rutin ke kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bekerja 3 tahun, Herry ingin pulang ke kampungnya di Cimahi untuk mengurus beberapa dokumen. Sepanjang jalan, ia minta bantuan saya agar bisa turun bersama di terminal penumpang biasa. Ia minta saya untuk mengajaknya sebagai kawan dalam rombongan. Ketika saya tanyakan kenapa, ia hanya berkata takut untuk turun di Terminal khusus TKI. Ia khawatir mendapat perlakuan seperti teman-temannya, yang sampai harus keluar uang banyak sebelum sampai ke kampungnya. Birokrasi dan transportasi di luar bandar membuatnya takut. Entah benar atau tidak, tapi saya menangkap ketakutan di wajahnya. Padahal dalam pikiran saya, terminal khusus TKI seharusnya mempermudah para TKI ini. Saya mencoba meyakinkannya, tapi ia tak yakin juga. Mungkin karena saya sendiri juga tidak yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari pesawat, saya melihat spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Sebuah slogan yang sangat menyejukkan hati. Tentu saja hati saya, bukan hati mas Herry. Baginya, slogan tak ada arti tanpa aksi. Karena ia tetap ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan apa yang ditakutkan Herry hanya sebuah ketakutan belaka. Sebab nasib seperti Herry ini sungguh memiriskan. Mereka yang bekerja dan menopang kekuatan ekonomi negeri ini, harus mengalami nasib yang tidak menguntungkan. Belum lagi nasib TKI kita di negeri lain yang harus mengalami siksaan dan cobaan hidup. Kebanggaan dan harga diri mereka sebagai TKI kurang dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQgJbWGnoI/AAAAAAAAALk/gJsmgd_r4uo/s1600-h/remitansifilipina.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369452002063851138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQgJbWGnoI/AAAAAAAAALk/gJsmgd_r4uo/s200/remitansifilipina.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seminggu sebelumnya, saya terlibat diskusi hangat bersama rekan dari Bangko Sentral Ng Pilipinas (Bank Sentral Filipina). Kami bertukar cerita mengenai kondisi ekonomi, secara khusus tentang ketahanan eksternal perekonomian. Di Filipina, pendapatan dari tenaga kerja yang bekerja di luar negeri (TKI) menjadi salah satu pilar terbesar yang menopang kekuatan ekonomi. Dalam setahun, pendapatan remitansi mereka mencapai hampir 17 miliar dollar AS. Mereka juga dengan bangga menyebutkan negara mereka berbasis pada “Overseas Workers Remittances”. Kalau melihat website Bank sentralnya, data Remitansi menjadi bagian dari pilar Neraca Pembayarannya. Di sisi lain, Tenaga Kerja mereka juga memiliki kebanggaan dan dihargai di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat krisis melanda tahun 2008 lalu, hal yang paling menggalaukan kita adalah meningkatnya risiko Indonesia. Salah satu indikator yang digunakan adalah Currency Default Swap (CDS). Ini adalah peringkat risiko yang menunjukkan kerentanan suatu negara dalam memenuhi kewajibannya, khususnya kewajiban Luar Negeri. Hal yang memprihatinkan adalah, Filipina dianggap lebih baik dari Indonesia. Mereka memiliki level CDS yang lebih rendah. Bila CDS Indonesia saat krisis sempat mencapai hampir 800 bps, maka Filipina hanya berada di level lebih rendah dari 350 bps. Artinya, risiko “default” negeri kita, jauh lebih besar dari Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membuat Filipina lebih kokoh adalah pemasukan devisa yang pasti dari pekerja mereka di luar negeri, yaitu sebesar 17 miliar dollar AS. Pendapatan ini tidak terganggu oleh krisis karena mereka bekerja di bidang-bidang tugas yang tidak terkena dampak krisis, seperti kesehatan dll. Sebaran pekerja mereka di luar negeri pun tidak hanya terkonsentrasi di AS saja.&lt;br /&gt;Sementara di Indonesia, penghasilan dari TKI yang tercatat di Neraca pembayaran kita “hanya” sekitar 6-7 milliar dollar AS. Belum banyak memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQgwo4pQ3I/AAAAAAAAALs/1tV1C8-1J7E/s1600-h/CDS.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369452675713287026" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 131px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQgwo4pQ3I/AAAAAAAAALs/1tV1C8-1J7E/s200/CDS.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tentu banyak perbedaan antara TKI Indonesia dan Filipina. Kompetensi mereka, kemampuan berbahasa dan skill, yang semuanya terkait dengan keseriusan, keteguhan Pemerintah, dan paradigma kita dalam menjadikan TKI sebagai sumber devisa. Hal ini butuh lebih dari sekedar slogan. Selain itu, harga diri dan kebanggaan mereka sebagai TKI perlu diangkat. Dan pada ujungnya, kesiapan kita untuk “legowo” dan bangga sebagai bangsa TKI perlu ada. Karena mereka memang adalah, pahlawan devisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2125878089725910472?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2125878089725910472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2125878089725910472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2125878089725910472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2125878089725910472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/08/pahlawan-yang-takut-pulang-ke-negerinya.html' title='Pahlawan yang Takut Pulang ke Negerinya Sendiri'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SoQgJbWGnoI/AAAAAAAAALk/gJsmgd_r4uo/s72-c/remitansifilipina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2542152416813794209</id><published>2009-07-12T09:03:00.004+07:00</published><updated>2009-08-13T21:43:24.443+07:00</updated><title type='text'>Indonesia Masih Paling Bahagia</title><content type='html'>(&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/06/19/indonesia-masih-negara-paling-bahagia/"&gt;Diposting juga di Kompasiana&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gemuruh politik, makin sulitnya hidup, serta tingginya kemiskinan dan pengangguran, Indonesia masih termasuk dalam bangsa yang paling bahagia sedunia. Hasil penelitian Prof. Ronald Inglehart (2008) dari Michigan University menunjukkan hal tersebut. Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang pas-pasan, ternyata bukan jaminan negara kita tidak bisa bahagia. Penelitian ini mengonfirmasi apa yang pernah dimuat oleh Majalah Time pada tahun 2004 tentang “The Science of Happiness” yang memuat kesimpulan sama, bahwa Indonesia memang negara bahagia. (Artikel terkait “&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/02/10/negara-paling-bahagia-sedunia/" target="_blank"&gt;Negara Paling Bahagia Sedunia&lt;/a&gt;“).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Ingelhart melakukan survey data sejak tahun 1981 hingga 2007 pada hampir 90% dari populasi dunia dan mencakup lebih dari 52 negara. Survey itu dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup penduduk dunia. Kedua faktor tersebut dihitung dalam sebuah komposit yang dinamakan Subjective Well Being (SWB). Kebahagiaan adalah tujuan utama semua orang di dunia ini. Berbagai cara ditempuh, berbagai ilmu dilahirkan, dan berbagai kebijakan dikeluarkan, untuk menjawab pencarian itu. Kebahagiaan tentu berbeda dengan kesenangan. Orang yang senang belum tentu orang yang bahagia. Pleasure is different with Happiness, demikian ungkap para filsuf. Kahneman (2004) mengatakan bahwa berpesta, bermain, shopping, rekreasi, dan kegiatan hedonistik lainnya hanya mengakibatkan kesenangan. Sementara, hubungan kesenangan dengan kebahagian terbukti lemah. Banyak orang mengatakan bahwa salah satu sumber kebahagiaan adalah memiliki anak. Namun kegiatan membesarkan anak, jauh dari kegiatan hedon. Mulai dari mengganti popok, bangun tengah malam, mengajar anak, dan lain sebagainya membutuhkan pengorbanan yang tidak menyenangkan. Toh, memiliki anak tetap menjadi sumber kebahagiaan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa yang membuat Indonesia menjadi negara bahagia di dunia. Penelitian Inglehart menunjuk pada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kebahagiaan. Ada 3 faktor yaitu, pembangunan ekonomi, demokratisasi, dan kebebasan sosial. Beberapa faktor lain yang berdampak pada kebahagiaan adalah kepercayaan pada Tuhan dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi menjadi salah satu faktor dalam mencapai kebahagiaan. Pembangunan ekonomi yang berkesinambungan memberikan masyarakat pilihan hidup yang lebih banyak. Namun hubungannya dalam membuat bahagia ternyata paling lemah. Beberapa negara yang memiliki GDP tinggi memang cenderung bahagia. Namun sekelompok negara, seperti negara Amerika Latin, dan juga Indonesia, memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi, meski GDP-nya rendah. Amartya Sen kemudian menyebutkan unsur lainnya, yaitu demokratisasi dan kebebasan sosial. Ini adalah kunci dalam mencapai kebahagiaan. Pembangunan ekonomi yang tidak memuat unsur kebebasan, hanya akan meningkatkan kepuasan hidup, namun belum tentu meningkatkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Inglehart tersebut menarik untuk kita cermati. Meski Indonesia banyak dilanda oleh krisis di berbagai segi, kemampuan meningkatkan kebahagiaan adalah sisi lain. Kita perlu menyadari bahwa pembangunan ekonomi yang hanya berfokus pada pertumbuhan memang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, fokus pembangunan tak cukup hanya diarahkan pada angka-angka pertumbuhan, mengingat lemahnya hubungan dalam mencapai kebahagiaan. Unsur-unsur nonekonomi dan kultural memegang peranan penting dalam menggapai kebahagiaan. Kemampuan negara menjamin kebebasan berpendapat dan terlaksananya proses demokratisasi, menjadi salah satu ukuran kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, sampai kapan kebahagiaan ini bertahan? Nampaknya ini menjadi tantangan kita dan para pemimpin kita ke depan. Bahwa pembangunan ekonomi tak akan pernah cukup. Pemimpin harus mampu menjamin kebahagiaan warganya. Untuk itu, mereka perlu memahami esensi kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa negara, kebahagiaan juga menjadi tujuan. Kalimat terkenal dalam Deklarasi Independen Amerika adalah, “Life, liberty, and the pursuit of happiness “.Sementara di Indonesia, kalimat terkenal di pembukaan UUD 45 kita adalah, “… Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Prof Inglehart tentu masih bisa diperdebatkan. Apakah kebahagiaan di negeri ini menjadi tujuan, atau justru alat untuk bertahan hidup. Kalau hidup sudah sulit dan tidak bahagia, repot bukan. Oleh karenanya, di sini saya tidak akan bertanya, apakah kita benar-benar sudah bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kata guru saya, “Ask yourself whether you are happy. Then you stop being happy”.&lt;br /&gt;Ketika kita bertanya, apakah kita bahagia, maka pada saat itu kita berhenti menjadi bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2542152416813794209?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2542152416813794209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2542152416813794209' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2542152416813794209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2542152416813794209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/07/indonesia-masih-paling-bahagia.html' title='Indonesia Masih Paling Bahagia'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6340716241445920561</id><published>2009-05-26T21:46:00.005+07:00</published><updated>2009-08-13T21:45:08.224+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='neoliberal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Boediono'/><title type='text'>Boediono dan Neoliberalisme</title><content type='html'>(&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/05/18/pak-boed-yang-saya-kenal-bukan-seorang-neoliberal/"&gt;Posting di Kompasiana&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ShwDE_qlccI/AAAAAAAAALU/_qIWm4hNpMA/s1600-h/pak+boed.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340146642498974146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ShwDE_qlccI/AAAAAAAAALU/_qIWm4hNpMA/s200/pak+boed.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perkenalan saya dengan pak Boediono mungkin tak terlalu lama. Namun dalam beberapa bulan terakhir, saya kerap kali bertemu dan berdiskusi dengan pak Boed, baik dalam rapat formal, maupun sekedar ngobrol-ngobrol ringan. Persis sebagaimana cerita orang, ia adalah orang yang hati-hati dan irit dalam berbicara. Demikian pula dalam pemikiran ekonomi, ia sungguh penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya tidak membahas pemikiran ekonomi Pak Boed, ataupun bermaksud mendukung dan membela pak Boed, namun lebih fokus pada sebuah isu yang selama ini ditudingkan kepadanya, yaitu sebagai agen Neoliberalisme. Sebelum menyimpulkan apakah pak Boed itu seorang neolib atau bukan, hal terpenting bagi kita adalah memahami apa itu ”binatang” neoliberalisme. Hal ini mengingat dalam beberapa waktu belakangan, kata ”Neoliberalisme” kerap digunakan secara longgar dan terlalu mudah disematkan pada berbagai kesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi yang mengenal pak Boed, baik dari sisi moral maupun profesional, tudingan neolib akan terasa salah alamat. Secara moral, kepentingan kekuasaan dan uang bukan menjadi ciri pak Boed. Secara profesional, pandangan ekonominya justru lebih banyak bicara dari sisi kerakyatan, bukan seperti yang didengungkan selama ini tentang neoliberal.&lt;br /&gt;Memahami neoliberalisme, tak cukup hanya melihat dari sisi tekhnis ekonomi, namun juga perlu dipahami fondasi filosofinya. Secara fondasi filosofi, neoliberalisme sering disalahartikan secara longgar. Seolah-olah kapitalisme dan pasar bebas itu adalah neoliberalisme. Seolah-olah mereka yang mengikuti petuah IMF dan World Bank, otomatis adalah seorang neoliberalis. Padahal tidak selamanya begitu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Neoliberalisme juga kerap diciutkan pada trio deregulasi-liberalisasi-privatisasi. Trio kebijakan tersebut memang merupakan motor dari kebijakan ekonomi neoliberal. Namun, tidak semua bentuk deregulasi-liberalisasi-privatisasi merupakan agenda neoliberal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Neoliberalisme memiliki makna lebih luas dari itu semua. Ia adalah radikalisasi dari kapitalisme dan prinsip pasar bebas ke seluruh bidang kehidupan manusia. Penganut neolib, bukan sekedar melihat persoalan dalam statistik ekonomi belaka, melainkan sudah membangun ideologinya tentang ekonomi pasar pada kehidupan manusia dan pengaturan masyarakat. Dalam pandangan seorang neolib, hubungan manusia dipandu oleh prinsip transaksi laba rugi yang berlaku dalam ekonomi pasar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pandangan ini bermula dari pecahan Mazhab Freiburg, yaitu mazhab Chicago, yang disponsori oleh Friedrich von Hayek dan Milton Friedman. Dalam salah satu artikelnya, Friedman mengatakan, ”Kapitalisme adalah prasyarat kebebasan politik”. Gary Becker, salah seorang ekonom Mazhab Chicago kemudian mengatakan’”ekonomi memberikan semesta pendekatan paling komprehensif untuk memahami semua perilaku manusia”. Dari sini, berkembanglah kodrat manusia sebagai mahluk ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Manusia kemudian diwujudkan dalam sosok makhluk pengusaha, yang memandang segala sesuatunya sebagai perusahaan yang mencetak laba. Mulai dari tanah, pendidikan, kesehatan, hingga kehidupan sosial, hubungannya adalah seberapa besar ia bisa mencetak laba. Menurut B. Herry Priyono, dalam pandangan Neolib, tidak ada kesehatan, yang ada bisnis rumah sakit. Tidak ada pendidikan, yang ada bisnis sekolah, bukan pasien melainkan konsumen pengobatan. Bukan guru, melainkan penjual pelajaran. Pada akhirnya tak ada lagi perbedaan antara ekonomi pasar (market economy) dan masyarakat pasar (market society).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Krisis ekonomi global yang terjadi, menunjukkan betapa neoliberalisme bekerja dengan dahsyat dan mengutamakan syahwat laba. David Harvey menulis bahwa neoliberalisme adalah juga berarti finansialisasi segalanya, yang ditujukan untuk mencetak laba. Tak heran, terjadi bubble yang luar biasa radikal di pasar keuangan negara industri maju. Kapital telah tercerabut dari faktor produksi tenaga kerja dan sumber daya alam. Kapital telah menguasai ekonomi di semua sektor, mengatur kehidupan masyarakat, bahkan pada relasi antar manusia yang melihat seseorang dari seberapa besar ia memiliki kapital.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi para penganut neolib, tak cukup hanya ada prinsip pasar pada barang/jasa ekonomi, melainkan harus berada pada seluruh aspek kehidupan. Pasar adalah segalanya, tak boleh ada yang lain.&lt;br /&gt;Dari sini, kita kembali pada pertanyaan, apakah pak Boed memercayai radikalisasi pasar tersebut. Inti dari ”agama” Neolib dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan, ”Apakah pak Boed percaya bahwa ekonomi dan finansial adalah satu-satunya jawaban bagi penciptaan tatanan di negeri ini?”. Bila ia percaya, maka ia seorang Neolib, bila tidak, tentu ia bukan Neolib.&lt;br /&gt;Untuk itu, ada baiknya kita membaca dan mengikuti beberapa pemikirannya. Dalam pidato awal tahun 2009 di hadapan para bankers yang berjudul “Hidup di tengah Krisis”, Pak Boed justru menyampaikan bahwa ekonomi kita perlu kembali ke akarnya, perbankan kita perlu “back to basic”, dan kehidupan masyarakat tak ditentukan melulu dari sisi pasar. Ia mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Salah satu pelajaran yang paling mendasar dari krisis ini adalah pentingnya bagi kita untuk kembali ke khittah, “back to basics”. Marilah kita lihat mengapa demikian. Krisis yang kita hadapi sekarang ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari perkembangan sektor keuangan yang lepas dari akarnya yaitu kegiatan ekonomi riil. Perkembangan yang luar biasa dari sektor keuangan di banyak negara selama lebih dari satu dasawarsa terakhir bersumber dari perkembangan inovasi produk keuangan dan inovasi kelembagaan keuangan yang juga luar biasa.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dalam kesempatan tersebut, pak Boed juga mengemukakan pentingnya peranan UMKM sebagai basis fundamental ekonomi Indonesia. Untuk itu, skema kredit kepada UMKM perlu didukung penyalurannya.&lt;br /&gt;Selain itu, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di UGM, Pak Boed mengatakan pentingnya peran Pemerintah dalam mendorong proses pembangunan yang mensejahterakan rakyat, serta memberi perhatian khusus pada pentingnya pendidikan melalui proses belajar mengajar yang efektif. Ekonomi bukanlah semata mata jawaban bagi terwujudnya sebuah tatanan. Ragam hubungan manusia bisa dikategorikan dalam hubungan kultural, politik, legal, sosial, estetik, spritiual dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Tentu saja tulisan ini merupakan simplifikasi dari cerita dan sejarah panjang neoliberalisme. Namun, dari berbagai deskripsi di atas kiranya kita dapat menyimpulkan apakah seseorang Neolib atau bukan. Dan selanjutnya, kita juga bisa menerka-nerka, adakah di antara pengelola negeri ini yang sebenarnya justru agen Neolib. Saya serahkan sepenuhnya kepada anda. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6340716241445920561?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6340716241445920561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6340716241445920561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6340716241445920561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6340716241445920561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/05/boediono-dan-neoliberalisme.html' title='Boediono dan Neoliberalisme'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ShwDE_qlccI/AAAAAAAAALU/_qIWm4hNpMA/s72-c/pak+boed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-3355929017711108389</id><published>2009-04-16T21:53:00.003+07:00</published><updated>2009-04-16T22:00:05.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rupiah'/><title type='text'>Rupiah dan Rapuhnya Sayap Kupu-Kupu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SedHOVmZgvI/AAAAAAAAAKE/LtzA4-QzYsI/s1600-h/rupiah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 116px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SedHOVmZgvI/AAAAAAAAAKE/LtzA4-QzYsI/s200/rupiah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325303396030841586" /&gt;&lt;/a&gt;Rupiah yang makin menguat dalam dua pekan terakhir ini menimbulkan H2C (Harap Harap Cemas) dari para pelaku pasar. Di satu sisi, penguatan Rupiah ditanggapi positif karena menunjukkan kepercayaan pasar yang membaik. Namun di sisi lain, banyak pihak yang khawatir apabila penguatan tersebut terjadi terlalu cepat. Risiko yang mungkin terjadi adalah pembalikan arah dan dampak negatifnya ke ekspor Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas, sampai kapan Rupiah akan terus menguat? Dan apakah penguatan itu perlu dihambat? Pertanyaan ini tentu masih memburu jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pekan lalu Rupiah berlari kencang, menguat lebih dari 5% dalam sepekan, dari Rp11.380 per dollar AS menuju Rp10.750 per dollar AS pada akhir pekan ini (16/4). Rupiah bahkan mencatat sebagai mata uang terbaik di wilayah regional, atau yang paling menguat dibanding mata uang lain. Kecepatan penguatan itu dipicu oleh perkembangan sentimen yang membaik, di pasar global maupun domestik. Di pasar global, rencana stimulus fiskal pemerintah China, dan perbaikan ekonomi di Jepang, telah memicu sentimen positif di pasar regional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam negeri, pelaksanaan pemilu yang damai telah meningkatkan selera risiko (risk appetite) para pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Saat ini,  Indonesia dianggap sebagai negara yang “paling menarik” di Asia Tenggara, baik di sisi ekonomi maupun politik. Kalau dibandingkan dengan Singapura yang mencatat prospek pertumbuhan negatif hingga 9%,  atau Thailand yang masih dilanda ketidakpastian politik, Indonesia memang terlihat lebih “sexy”.  Rupiahpun diburu oleh para pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya imbal hasil surat-surat berharga di negara maju, maupun di negara tetangga, telah mendorong investor membeli surat-surat berharga rupiah.  Akibatnya, dana asing berebut untuk berpindah ke Indonesia. Dalam dua pekan ini, pelaku asing mencatat inflow di seluruh instrumen rupiah, baik itu SBI, SUN, ataupun Saham. Tengoklah kondisi pasar obligasi yang ikut membaik dan stabil dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya. Turunnya BI Rate sebesar 25 bps pada bulan ini juga turut mendorong membaiknya pasar SUN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar saham, dana asing yang masuk senilai lebih dari Rp 140 milyar telah membantu menstabilkan likuiditas di pasar saham. Di pasar valas sendiri, saat ini terjadi kelebihan pasokan valas seiring dengan masuknya dana asing ke Indonesia. Rupiah, dengan sendirinya, terus menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SedHGp3ikYI/AAAAAAAAAJ8/5F6d-CK8JEY/s1600-h/rupiah2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 116px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SedHGp3ikYI/AAAAAAAAAJ8/5F6d-CK8JEY/s200/rupiah2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325303264032493954" /&gt;&lt;/a&gt; Bagi penganut aliran sentimental, yaitu mereka yang percaya pada kekuatan sentimen, berbagai perkembangan tersebut tentu menggembirakan. Dalam hitungan singkat, rupiah seperti mendapatkan “berkah” dari berbagai perkembangan situasi. Namun bagi penganut aliran fundamental, yaitu mereka yang percaya pada kekuatan struktur fundamental ekonomi, penguatan yang cepat seperti ini perlu diwaspadai. Hal ini karena penguatan Rupisah saat ini masih didorong oleh masalah sentimen, atau belum menyentuh pada perbaikan fundamental. Secara fundamental, belum ada perbaikan berarti pada ekonomi Indonesia. Prospek ekonomi ke depan juga masih akan melambat. Perekonomian Indonesia juga diproyeksikan akan mengalami penurunan pertumbuhan. Oleh karenanya, penguatan rupiah saat ini perlu diwaspadai dan dicermati secara hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Sentimen ini ibarat rasa benci dan rindu. Bisa sewaktu waktu muncul cinta, terutama kalau perasaan sedang senang. Tapi, bisa juga sewaktu-waktu muncul benci. Apalagi kalau mendengar isu-isu buruk. Begitu sentimen memburuk, benci datang tiada ampun. Rupiah bisa melemah lagi sewaktu-waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perekonomian yang terintegrasi dengan dunia global seperti saat ini, mustahil memang menghilangkan masalah sentimen. Oleh karenanya, selain memperbaiki fundamental ekonomi kita secara riil, faktor sentimen juga perlu dijaga dan dicermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pertanyaannya tentu bukan apakah penguatan Rupiah ini perlu dihambat atau tidak, namun bagaimana agar penguatan ini bisa memberi manfaat dan kesinambungan bagi ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya kita untuk terus menjaga momentum yang sedang baik saat ini. Sentimen positif harus dijaga dan dikawal terus. Apabila Indonesia bisa terus mempertahankan stabilitas ekonomi dan politik, maka kurs rupiah akan terus menguat hingga akhir tahun. Ekonomipun akan stabil. Namun, apabila proses politik yang terjadi saat ini menimbulkan gejolak, bukan mustahil kepercayaan akan luntur kembali. Dan seperti biasa, rakyat akan jadi korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal inilah yang kiranya perlu dipikirkan oleh para petinggi parpol, maupun calon presiden, agar dalam menjalankan hasrat politiknya tetap juga mampu menjaga kestabilan. Tanpa kestabilan politik, ekonomi Indonesia masih serapuh sayap kupu-kupu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-3355929017711108389?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/3355929017711108389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=3355929017711108389' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3355929017711108389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/3355929017711108389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/04/rupiah-dan-rapuhnya-sayap-kupu-kupu.html' title='Rupiah dan Rapuhnya Sayap Kupu-Kupu'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SedHOVmZgvI/AAAAAAAAAKE/LtzA4-QzYsI/s72-c/rupiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4486144943512321880</id><published>2009-04-04T11:48:00.005+07:00</published><updated>2009-04-04T11:52:33.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kapitalisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adam Smith'/><title type='text'>Menakar Dosa Nabi Adam dan Adam Smith</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/Sdbmvp1Cz5I/AAAAAAAAAJk/ugxx91SZxXo/s1600-h/new+world+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 158px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/Sdbmvp1Cz5I/AAAAAAAAAJk/ugxx91SZxXo/s200/new+world+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320693716141395858" /&gt;&lt;/a&gt; Sebelum pertemuan G-20 dilangsungkan, Presiden Perancis Nikolas Sarkozy mengadakan sebuah simposium yang bertema “New World, New Capitalism” pada bulan Januari di Paris. Pertemuan itu juga dimotori oleh mantan PM Inggris, Tony Blair, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel. Di sana dibahas sebuah isu sentral tentang sistem ekonomi dunia yang berlaku saat ini. Krisis Global memang telah membuat kita merenungkan dosa-dosa dari kapitalisme dan pasar bebas. Keserakahan model Wall Street diduga muncul akibat dari sistem kapitalisme dan pasar bebas yang menjadi akar dari krisis keuangan global sekarang. Pertanyaannya adalah, perlukah kita mencari model kapitalisme baru? Atau mengamini hancurnya kapitalisme serta munculnya kembali sosialisme dan neososialisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam negeri, beberapa partai dan calon presiden juga membawa-bawa isu kapitalisme dalam kampanyenya. Sistem kapitalisme dan pasar bebas dituding sebagai biang kerok masalah dan tidak tepat diterapkan di Indonesia. Sistem kapitalisme dituding hanya membawa keuntungan bagi yang berpunya. Sementara yang miskin kerap terlupakan. Kapitalisme dianggap menyalahi kodrat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, benarkah kapitalisme itu salah. Tulisan ini adalah sebuah pembelaan terhadap kapitalisme dan pasar bebas secara esensi. Kita perlu mendudukan kapitalisme dan pasar bebas pada akarnya sebelum terjadi salah kaprah dan kitapun berburuk sangka (su’udzon) terhadapnya. Karena esensi dasar manusia adalah juga kapitalis, maka tentu kapitalisme bukan sesuatu yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme pertama memang pernah terjadi di tanah surga. Saat itu Tuhan memberi kebebasan pada Adam untuk melakukan apa saja dan memakan apa saja, kecuali mendekati pohon khuldi. Namun Adam tak mampu menahan godaan. Meski ia bebas memiliki segalanya, buah khuldi disikatnya juga. Fenomena buah Khuldi ini menjadi dasar keserakahan dan ketidakcukupan manusia. Tapi Tuhan memahami ciptaannya yang secara esensi memiliki sifat serakah dan hanya peduli mengejar kepentingannya sendiri (self interest). Oleh karenanya, ia memberi dunia pada Adam untuk ditinggali dan mengelola self interest itu sebaik-baiknya demi kesejahteraan tatanan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, beribu tahun kemudian lahir Bapak Kapitalisme yang juga bernama Adam. Ia pastinya keturunan Nabi Adam. Nama lengkapnya Adam Smith (1725 – 1790). Entah kebetulan, entah tidak, tapi Adam Smith juga melahirkan ajaran tentang pasar bebas dan kapitalisme. Adam yang ini bukan seorang nabi, dan ia juga bukan seorang ekonom, karena ilmu ekonomi belum lahir kala itu. Adam Smith adalah seorang filsuf moral. Pertanyaan yang ada dalam benaknya adalah mengenai moralitas manusia. Bagaimana sifat manusia yang serakah dan mengejar kepentingannya sendiri dapat menciptakan tatanan dalam masyarakat. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang maha besar yang terus memburu jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdbnDtus-ZI/AAAAAAAAAJs/FUv409Kdj2g/s1600-h/smith_adam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdbnDtus-ZI/AAAAAAAAAJs/FUv409Kdj2g/s200/smith_adam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320694060785924498" /&gt;&lt;/a&gt; Adam Smith kemudian menulis buku pertamanya yang berjudul  “Theory of Moral Sentiments”.  Dalam buku itu, Smith mencetuskan ide tentang mekanisme pasar bebas dan wujud rasa “Simphaty” atau Simpati. Inilah prinsip awal etika moral Adam Smith dalam sebuah tatanan masyarakat. Bagi Smith, tatanan dapat terwujud selama pasar dibiarkan bebas dan para pelakunya memiliki rasa simpati. Kita menebang hutan dengan sebuah simpati sampai di mana alam boleh dirusak. Kita mempekerjakan buruh dengan sebuah simpati sampai di mana mereka bisa hidup layak. Dalam perdagangan demikian pula, tukang roti, tukang daging, semua mengejar kepentingannya sendiri. Namun dengan “simpati”, mereka tahu batas-batas dimana kepentingan diri ini tidak merugikan kepentingan diri orang lain. Inilah soal rasa merasa yang menjadi landasan pikir dari Adam Smith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat dapat berjalannya pasar bebas dan rasa merasa ini adalah juga adanya dukungan dari beberapa institusi, termasuk pelayanan publik seperti sekolah, kesehatan, dan tentunya regulasi negara dan finansial terhadap si miskin. Hal ini perlu ada untuk mengurangi instabilitas, ketidakseimbangan, dan ketidakadilan. Bagi yang menganggap teori Adam Smith semata meletakkan kebebasan pada pasar, mereka tentu salah besar. Adam Smith justru menulis pentingnya tugas Pemerintah dalam mensejahterakan warganya (The Wealth of Nation, hal 687-688).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdbnSGkBZaI/AAAAAAAAAJ0/KxtLnISOSfw/s1600-h/makam+adam+smith+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdbnSGkBZaI/AAAAAAAAAJ0/KxtLnISOSfw/s200/makam+adam+smith+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320694307970180514" /&gt;&lt;/a&gt; Kapitalisme dan pasar bebas dalam semangat Adam Smith adalah sebuah nilai luhur yang bertujuan untuk menciptakan tatanan. Pasar bebas perlu dijaga untuk kemaslahatan umat apalagi saat permintaan dan penawaran bergejolak secara alami. Saat itu, mekanisme pasar bebas adalah yang terbaik dan sesuai dengan kodrat manusia. Peranan Pemerintah dalam hal ini, menurut Smith, hanya sangat terbatas dan bukan bersifat otoriter, misalnya mematok harga demi kepentingan kaum petani dan nelayan. Dalam keadaan itu, penetapan harga oleh pemerintah justru dapat menimbulkan kedzaliman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat yang ingin merujuk dari sisi agama, kita tentu ingat hadits Rasulullah Muhammad saw tentang kejadian lonjakan harga di Mekah pada suatu masa. Hadits ini diriwayatkan oleh  Anas bin Malik. Dalam riwayat itu dikatakan: “Pada zaman Rasulullah saw terjadi lonjakan harga di pasar, lalu sekelompok orang menghadap Rasulullah saw seraya mereka berkata:’Ya Rasulullah, harga-harga di pasar melonjak begitu tinggi, tolong patoklah harga tersebut’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw menjawab, ’sesungguhnya Allahlah yang (pada hakekatnya) menetapkan harga, dan menurunkannya, melapangkan dan meluaskan rezki. Janganlah seseorang diantara kalian menuntut saya untuk berlaku zalim dalam soal harta maupun nyawa’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita melihat bahwa Rasulullah menolak pematokan harga dan menyerahkan harga komoditas pada mekanisme pasar bebas, meskipun mungkin saat itu para petani dan nelayan dirugikan. Hal ini karena kenaikan harga yang terjadi disebabkan oleh mekanisme pasar, dan bukan aksi spekulasi. Sesuai dengan hukum ekonomi apabila stok terbatas, maka wajar harga barang tersebut naik. Dalam keadaan demikian Rasulullah saw tidak mau campur tangan membatasi harga komoditas di pasar tersebut, karena policy dan tindakan seperti ini dapat menzalimi hak para pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita memahami, bahwa kapitalisme bukan melulu tentang keserakahan. Ia adalah juga tentang keseimbangan kodrat manusia. Ia adalah juga tentang kesejahteraan dan keluhuran. Ia juga mensyaratkan sifat hati –hati dan keutamaan (prudence and virtue). Keserakahan muncul karena kurangnya simpati, bukan karena kesalahan kapitalisme. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4486144943512321880?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4486144943512321880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4486144943512321880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4486144943512321880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4486144943512321880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/04/menakar-dosa-nabi-adam-dan-adam-smith.html' title='Menakar Dosa Nabi Adam dan Adam Smith'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/Sdbmvp1Cz5I/AAAAAAAAAJk/ugxx91SZxXo/s72-c/new+world+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1596787481306337683</id><published>2009-04-02T22:07:00.002+07:00</published><updated>2009-04-02T22:09:02.646+07:00</updated><title type='text'>Politisi dan Watak Ningrat Machiavelli</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdTVAbLkSNI/AAAAAAAAAJc/U-T2SLqYkkY/s1600-h/machiavellis_portrait.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 243px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdTVAbLkSNI/AAAAAAAAAJc/U-T2SLqYkkY/s320/machiavellis_portrait.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320111263104387282" /&gt;&lt;/a&gt; Politisi sangat menghindari diri apabila dikaitkan dengan praktik Machiavelli. Pak JK sendiri pernah mengatakan di koran bahwa “Golkar Pantang Terapkan Machiavelli”. Nama Niccolo Machiavelli (1469 - 1527) memang sering dihubung-hubungkan dengan praktik-praktik busuk kekuasaan. Misalnya, taktik “Machiavellian” seorang diktator. Gagasannya juga sering dituduh amoral dan menyimpang dari suara hati yang sehat. Akan tetapi, di dalam hati terdalam politisi, banyak yang mengakui bahwa Machiavelli adalah seorang genius yang sangat besar peranannya dalam sejarah dan peletak fundamental ilmu politik modern. Pikiran Machiavelli, meski dikecam, diam-diam atau terang-terangan ternyata menjadi praktik politik di banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik pendapat orang bahwa ia seorang politikus yang layak dihujat, Machiavelli memiliki watak ningrat yang luhur. Machiavelli sebenarnya adalah seorang tokoh yang berjiwa besar. Simak kata-kata dalam bukunya yang terkenal, “Sang Pangeran (Il Principe)”. Ia mengatakan “Seorang pangeran tak boleh mencuri harta rakyatnya, karena manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya, daripada kehilangan bagian warisannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak boleh mencuri harta rakyat adalah ciri dari watak ningrat Machiavelli. Janganlah sekali-kali kita makan uang rakyat. Itu pesan dari Machiavelli. Seorang penguasa, memiliki kewenangan untuk melakukan apa saja. Ia bisa membuat aturan untuk dirinya sendiri, dan ia tak mesti patuh pula pada aturan itu. Di sini kemudian muncul pasase power tend to corrupt, kekuasaan cenderung korup. Machiavelli mengingatkan para penguasa untuk mampu menyeimbangkan kekuasaannya dengan kepentingan rakyat. Mencuri harta rakyat berarti juga memanfaatkan jabatan demi kepentingan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Machiavelli menyadari adanya tendensi korup tersebut. Di buku selanjutnya, Discourse on the First Ten Books of Titus Livy, ia bercerita tentang bentuk negara yang ideal, dengan konsep negara yang berbentuk Republik. Di sini penguasa tak lagi dapat melakukan keinginan sekehendak hati. Ada sesuatu yang membatasi wewenang penguasa, yaitu rakyat. Dalam buku ini kehendak rakyat di beri ruang yang luas. Kemerdekaan adalah lambang utama yang harus ditegakkan. Penguasa tidak boleh memaksakan kehendaknya, penguasa hanya boleh menjadi penjaga agar kemerdekaan itu tetap terjamin. Dalam buku ini, Machiavelli membayangkan suatu negara yang benar-benar ideal, suatu negara yang jauh dari perselisihan, perpecahan dan konflik. Suatu negara yang dilandasi kedewasaan warga negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan pilihan itu menjadi dasar pandangan ekonomi dari Machiavelli. Ia adalah pendukung utama kebebasan individu, aneka pilihan sukarela atau fakultatif. Kebebasan ini menjadi penting dalam kehidupan berekonomi suatu negara saat ini. Kaum petani, kaum pedagang, dan pelaku UMKM di sektor kerakyatan, perlu memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya. Dengan kebebasan ini, sektor kerakyatan tidak akan terbelenggu oleh kekuasaan para tengkulak ataupun penguasa. Mereka memiliki keleluasaan mendapatkan sumber daya yang lebih efisien dan menguntungkan hingga pada gilirannya mensejahterakan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Machiavelli memang tak bisa dengan hanya melihat dari sisi gelapnya. Machiavelli juga menyimpan nilai luhur. Kalau kita tetap mencuri harta rakyat, memanfaatkan kuasa demi kepentingan sendiri, dan menekan kebebasan rakyat dalam ekonomi, bisa jadi kita lebih kejam dari Machiavelli. Mudah-mudahan bukan begitu yang dimaksud para politisi yang tak mau dikaitkan dengan Machiavelli. Dan mudah-mudahan bukan itu yang dimaksud dengan “Pantang Menerapkan Machiavelli”. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1596787481306337683?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1596787481306337683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1596787481306337683' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1596787481306337683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1596787481306337683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/04/politisi-dan-watak-ningrat-machiavelli.html' title='Politisi dan Watak Ningrat Machiavelli'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SdTVAbLkSNI/AAAAAAAAAJc/U-T2SLqYkkY/s72-c/machiavellis_portrait.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2205092002708896374</id><published>2009-02-10T09:14:00.003+07:00</published><updated>2009-02-10T09:18:47.626+07:00</updated><title type='text'>Negara Paling Bahagia di Dunia</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SZDjeu89iZI/AAAAAAAAAIU/wvCPQtJPnRg/s1600-h/banjir+albertus+hendriyo+widi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SZDjeu89iZI/AAAAAAAAAIU/wvCPQtJPnRg/s200/banjir+albertus+hendriyo+widi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300986878554376594" /&gt;&lt;/a&gt; Indonesia adalah negara yang masyarakatnya cukup bahagia di dunia. Jauh lebih bahagia dari masyarakat Jepang, Rusia, bahkan China. Krisis ekonomi yang menimpa, indikator ekonomi yang pas-pasan, kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, bencana yang kerap datang, tak membuat masyarakat Indonesia bersedih dan jauh dari bahagia. Secara umum, survei ini pernah dimuat di Majalah Time edisi januari 2004 yang menulis sebuah laporan tentang “Sains Kebahagiaan”. Hal menarik dari tulisan itu adalah penelitiannya pada berbagai negara untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi, kekayaan, dan pendidikan yang tinggi, membawa kebahagiaan bagi penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, GDP atau Gross Domestic Product selalu dijadikan acuan tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. GDP dicerminkan oleh komponen Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, Ekspor, dan Impor (C+I+G+X-M). Semua komponen itu dihitung dengan satuan uang. Dengan demikian, uang diasumsikan dapat membawa pertumbuhan dan kesejahteraan. Apakah benar demikian? Survei menunjukkan bahwa negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ternyata tidak otomatis menjadi negara yang bahagia. Sebaliknya, negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pas-pasan atau bahkan ada yang miskin, bukan berarti pula menjadi negara yang tidak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang membuat kita bahagia. Riset yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Pennsylvania mengambil beberapa hal yang diindikasikan dapat membawa kebahagiaan. Kekayaan sebagai contohnya, dan segala hal yang bisa dibeli dengan uang. Ternyata, hal itu tidak membawa bahagia. Semakin tinggi pendapatan seseorang, justru kebahagiaannya menurun. Sementara itu, mereka yang berpenghasilan rendah, justru bisa merasakan bahagia. Pendidikan yang tinggi? Tidak juga. Mereka yang memiliki IQ tinggi bukan jaminan kebahagiaannya juga tinggi. Masa Muda? Lagi-lagi bukan. Faktanya, justru banyak orang tua yang lebih menikmati dan puas akan hidupnya ketimbang yang muda. Pernikahan? Jawabannya agak rumit. Memang kebanyakan pasangan yang menikah lebih bahagia daripada yang tidak menikah, namun hal itu diperdebatkan di hasil survei. Sebagian berpendapat bahwa kebahagiaan perkawinan sangat tergantung pada bagaimana mereka mengelola dan memulai sebuah perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei menunjukkan bahwa ada dua hal utama yang membuat orang bahagia. Pertama, iman kepada Tuhan atau agama. Apapun agamanya, apabila orang meyakini agama, umumnya mereka lebih bahagia daripada yang tidak beragama. Kedua, teman, sahabat, keluarga, istri, anak, atau cucu. Ya, sebuah studi lanjutan yang dilakukan oleh Universitas Illinois di tahun 2002 menunjukkan bahwa masyarakat yang memililki kebahagian tertinggi pada umumnya adalah mereka yang memiliki orang-orang dekat. Mereka yang penyendiri pada umumnya lebih cepat mengalami depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei yang dilakukan para ilmuwan di berbagai negara mendapatkan hasil yang beragam. Negara-negara dengan kekayaan dan pertumbuhan tinggi, seperti Switzerland misalnya, masuk dalam kategori negara yang memiliki kebahagiaan tinggi. Namun ada negara yang pertumbuhannya tinggi dan kekayaan masyarakatnya juga tinggi, justru tidak bahagia. Jepang adalah salah satu contohnya. Tingkat depresi, stress, dan bunuh diri jumlahnya tinggi di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ada negara yang masuk kategori berpenghasilan pas-pas-an, namun memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi. Negara itu adalah Indonesia dan Filipina. Nah, Indonesia masuk dalam kategori negara yang memiliki kebahagiaan tinggi, meski kalau melihat dari indikator ekonominya, kebahagiaan itu memang tak tercermin. Pertumbuhan ekonomi Indonesia “hanya” berada dalam kisaran 4-6%, cadangan devisa Indonesia pas-pasan pada sekitar 50 milyar dollar AS (bandingkan dengan Bill Gates yang seorang diri saja kekayaannya mencapai sekitar 60 milyar dollar AS), dan utang luar negeri yang masih tinggi. Selain itu, bencana kerap datang tak henti di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rupanya berbagai hal itu tidak terkait dengan masih bahagianya bangsa kita. Dalam berbagai kondisi, selalu ada cara yang membuat kita bahagia. Modal tawakal, kekerabatan yang kuat, serta keyakinan pada Yang Maha, mungkin bisa menjadi benteng dalam membangun kebahagiaan di tengah kesulitan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu semua cukup? Tentu tidak. Lama kelamaan kebahagiaan ini bisa luntur. Kebahagiaan bukan sesuatu yang mudah diraih dan harus senantiasa dipertahankan. Raja Bhutan pernah memperkenalkan istilah GDP of Happiness yang mengukur bukan hanya tingkat pertumbuhan negeri, tetapi juga tingkat kebahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, dukungan kepada rakyat perlu diberikan dalam bentuk perhatian dan fokus pada pengembangan kekuatan masing-masing elemen bangsa. Keseimbangan antara alam, spiritual, dan manusia menjadi fokus kebijakan pemerintah. Semata mendorong pertumbuhan ekonomi, apalagi dengan memberi uang, tidak akan menjamin tercapainya kebahagiaan. Mungkin hanya mampu meraih kesenangan sesaat. Dan itu, bukan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankan tujuan para pendiri bangsa di manapun adalah mengejar kebahagiaan? Kalimat terkenal dalam Deklarasi Independen Amerika adalah, “Life, liberty, and the pursuit of happiness “. Itulah sebuah amanat untuk meraih kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kalimat terkenal di pembukaan UUD 45 kita adalah, “… Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Ujungnya, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur, adalah cara untuk mencapai kebahagiaan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita masuk dalam kelompok orang yang berbahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2205092002708896374?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2205092002708896374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2205092002708896374' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2205092002708896374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2205092002708896374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/02/negara-paling-bahagia-di-dunia.html' title='Negara Paling Bahagia di Dunia'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SZDjeu89iZI/AAAAAAAAAIU/wvCPQtJPnRg/s72-c/banjir+albertus+hendriyo+widi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-911815865213640005</id><published>2009-02-04T22:49:00.003+07:00</published><updated>2009-02-04T22:53:03.413+07:00</updated><title type='text'>Menarik Bank Kembali Pada Akarnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/02/02/menarik-bank-kembali-pada-akarnya/"&gt;Posted on Kompasiana&lt;http://public.kompasiana.com/2009/02/02/menarik-bank-kembali-pada-akarnya/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SYm5WVORZ_I/AAAAAAAAAIM/9QgyBt0LiK8/s1600-h/presconMDH.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SYm5WVORZ_I/AAAAAAAAAIM/9QgyBt0LiK8/s200/presconMDH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298970229883365362" /&gt;&lt;/a&gt; Ekonomi yang berawal dari kata “oikonomia” yang berarti tata kelola rumah tangga, telah beralih menjadi suatu “chrematistic” atau kegiatan uang yang mencari uang. Ekonomi rente telah menjadi ciri dari neoliberalisme dan kapitalisme. Uang telah mampu beranak dan memperanakkan uang tanpa ada dasar yang jelas dalam setiap transaksinya. Oleh karenanya, krisis kali ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk membawa ekonomi, khususnya perbankan, kembali pada akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara jumpa pers Jumat pekan lalu (30/1/09), Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dr Muliaman D. Hadad, menyampaikan bahwa krisis global ini menjadi momentum bagi kita untuk membenahi diri, khususnya memperkuat daya tahan bank. Ia menyampaikan berbagai langkah kebijakan, yang di satu sisi memberi kelonggaran, namun di sisi lain memperkuat ketahanan dalam menempuh krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pelajaran yang paling mendasar dari krisis ini, yang juga disampaikan pak Boed dalam acara makan malam usai Konferensi Pers tersebut, adalah pentingnya perbankan kembali ke akar dirinya, “back to basics”. Mengapa demikian? Karena krisis yang kita hadapi sekarang adalah konsekuensi dari perkembangan sektor keuangan yang lepas dari akarnya, yaitu kegiatan ekonomi riil. Perkembangan yang luar biasa dari sektor keuangan di banyak negara bersumber dari perkembangan inovasi produk keuangan dan inovasi kelembagaan keuangan. Hal ini didukung oleh revolusi dalam teknologi informasi dan liberalisasi keuangan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor keuangan memang kemudian menarik banyak orang karena merupakan jalur cepat untuk menjadi kaya. Lulusan-lulusan terbaik universitas berlomba-lomba masuk ke sektor keuangan. Produk keuanganpun makin bervariasi, makin canggih dan makin kompleks. Akibatnya tentu juga mempunyai dampak sampingan yang fatal, yaitu makin sulit untuk dinilai risikonya. Instrumen keuangan makin terlepas dari akar kegiatan yang seharusnya melandasinya. Tata kelola rumah tangga telah ditinggalkan. Uang berkembang tanpa landasan yang riil. Hal ini telah menjadi gelembung atau bubbles. Gelembung tumbuh makin membesar, dan akhirnya pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan pak Boed kepada perbankan untuk kembali ke khittah atau back to basics berlaku bagi semua lembaga keuangan. Fungsi utama perbankan adalah memfasilitasi dan membiayai kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyediaan barang dan jasa bagi masyarakat, yaitu kegiatan-kegiatan nyata. Bank melakukan fungsi tersebut melalui intermediasi keuangan – yaitu mengumpulkan dana dari pemilik dana dan menyalurkannya ke peminjam dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya, bank bisa bertindak lebih dari sekedar perantara. Bank dapat menciptakan tambahan likuiditas melalui penciptaan uang giral. Kegiatan-kegiatan bank ini secara inheren mengandung risiko, baik bagi bank itu sendiri, bagi penyimpan dana, bagi sistem perbankan dan bagi perekonomian. Risiko-risiko itu harus dikelola sebaik-baiknya oleh bank, suatu tanggungjawab besar yang memerlukan perhatian penuh dari pengelola bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak bank sekarang yang kreatif menawarkan structure products atau produk-produk derivatif yang kadang tidak disadari oleh konsumen. Para petugas pemasaran bank seolah menawarkan produk deposito. Padahal itu produk derivatif. Hal ini sungguh berbahaya apabila nasabah tidak waspada. Bank memiliki tugas untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang mempunyai landasan transaksi yang jelas serta dilandaskan pada perhitungan risiko yang jelas pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain dengan instrumen spekulatif bukan domain dari bankir. Bank sebaiknya menjauhi kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur bubbles. Apabila kegiatan seperti itu tidak bisa dihindari, maka harus diterapkan sistem pengelolaan risiko yang efektif. Pak Boed malam itu secara tegas mengatakan bahwa Bank Indonesia sebagai regulator berkepentingan untuk mendorong bank melakukan prinsip kehati-hatian. Ke depan, berbagai langkah akan dikeluarkan untuk memantapkan rambu-rambu yang diperlukan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sebuah pesan yang dalam dan penuh makna untuk direnungkan kita semua. Ekonomi yang tumbuh seperti buih hanya akan membawa kesejahteraan semu bagi para pelakunya. Ibarat tumbuhan yang bertambah besar, dahan dan daunnya dapat tumbuh semakin jauh dari akar. Saat itu, dahan dan daun menjadi rentan terhadap hempasan angin. Mudah patah dan rapuh. Oleh karenanya, upaya memperkuat dan kembali berpegangan pada akar menjadi suatu hal yang perlu untuk direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Junanto Herdiawan, dari konferensi pers dan jamuan makan malam perbankan 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-911815865213640005?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/911815865213640005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=911815865213640005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/911815865213640005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/911815865213640005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/02/menarik-bank-kembali-pada-akarnya.html' title='Menarik Bank Kembali Pada Akarnya'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SYm5WVORZ_I/AAAAAAAAAIM/9QgyBt0LiK8/s72-c/presconMDH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1217598496627108324</id><published>2009-02-04T22:37:00.003+07:00</published><updated>2009-02-04T22:47:38.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BI Rate'/><title type='text'>Turunnya Bunga di Mendung Pagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/02/04/turunnya-bunga-di-mendung-pagi/"&gt;Posted on Kompasiana&lt;http://public.kompasiana.com/2009/02/04/turunnya-bunga-di-mendung-pagi/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung menggantung dan hujan yang mengguyur Jakarta beberapa hari ini tidak membuat bunga berkembang. Yang terjadi justru bunga dipangkas. Tentu yang dimaksud adalah bunga kebijakan moneter. Rapat Dewan Gubernur (RDG) pagi ini (4 Feb 09) berjalan tidak seperti biasanya. Apabila keputusan BI Rate biasa diumumkan setelah pukul 13.00, hari ini keputusan keluar sebelum pukul 10.00 pagi. Di bawah udara mendung, rapat berlangsung cepat. Mungkin pagi itu, seluruh anggota Dewan Gubernur akan menghadiri acara pembukaan Festival Ekonomi Syariah yang akan dibuka oleh Presiden RI. Tapi mungkin juga karena pembahasan rapat ini di hari-hari sebelumnya sudah cukup alot dan mendalam, bahkan selesai sampai larut malam. Intinya, keputusan ini tak mengurangi kualitas assesmen perekonomian Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang jelas, BI Rate pagi ini turun lagi 50 bps (0,5%), atau turun dari 8,75% menjadi 8,25%. Penurunan ini sudah diperkirakan berbagai kalangan. Gambaran ekonomi dunia yang begitu suram di awal tahun ini, bahkan lebih suram dari yang diperkirakan beberapa bulan lalu, telah membuat otoritas di berbagai negara untuk waspada. Dampak pelemahan ekonomi itu makin terasa di dalam negeri, terutama sektor-sektor yang terkait dengan perdagangan luar negeri (sektor tradables). Banyak industri mulai gulung tikar, dan tingkat PHK meningkat. Sementara di sektor non-tradables, perkembangannya relatif stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelesuan ekonomi dalam negeri juga terlihat dari mulai melambatnya pertumbuhan kredit perbankan dan uang beredar, yang tercermin dari melambatnya M1 dan M2. Tekanan inflasi terlihat mulai menurun seiring dengan melambatnya ekonomi dan menurunnya daya beli. Dalam dua bulan berturut-turut kita mengalami deflasi (Desember dan Januari). Deflasi di bulan Januari juga bukan deflasi yang biasa terjadi. Ada istilah ”Januari Effect” yang berarti bahwa inflasi selalu berada di atas 1,0% setiap bulan Januari. Tapi di bulan Januari 2009 ini, kita justru deflasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, tekanan pada ekonomi juga berdampak pada tekanan di nilai tukar. Hal ini membuat kita harus mewaspadai tingkat cadangan devisa yang kita miliki. Pak Boed dalam Rapat Kerja dengan DPR RI beberapa hari lalu mengatakan bahwa cadangan devisa kita masih aman, meski pas-pasan. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2009 tercatat sebesar USD 50,9 milyar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan penurunan BI Rate pada pagi ini sejalan dengan semangat relaksasi yang dilakukan di sektor perbankan. Kita melihat kondisi perbankan nasional sampai saat ini masih mantap, seperti tercermin dari perkembangan CAR dan NPL perbankan yang tetap pada batas-batas yang aman. Sementara itu, permasalahan likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank, yang sempat menjadi isu hangat beberapa bulan lalu, kini mulai mengalami perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kebijakan yang dikeluarkan menunjukkan langkah optimal dari otoritas moneter dalam menyikapi krisis global. Langkah selanjutnya dari Pemerintah tentu sangat diharapkan. Stimulus fiskal sebagai obat jangka pendek dalam mengatasi pelesuan ekonomi adalah kebijakan yang perlu didukung. Namun dalam jangka panjang, kita tetap memerlukan strategi pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan tahan krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga mendungnya pagi ini, dan hujan rintik yang terus mengguyur Jakarta, bukan penanda semakin mendungnya ekonomi negeri. Mari kita tetap optimis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1217598496627108324?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1217598496627108324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1217598496627108324' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1217598496627108324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1217598496627108324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/02/turunnya-bunga-di-mendung-pagi.html' title='Turunnya Bunga di Mendung Pagi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-5189070609697310542</id><published>2009-01-26T22:50:00.005+07:00</published><updated>2009-01-26T22:59:07.609+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hiperinflasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bank sentral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zimbabwe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Indonesia'/><title type='text'>Sekaleng Coca Cola seharga 15 Milyar</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SX3b7ROtNyI/AAAAAAAAAH8/zxgvYaqkK0w/s1600-h/uang+zimbabwe.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SX3b7ROtNyI/AAAAAAAAAH8/zxgvYaqkK0w/s200/uang+zimbabwe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295630548141422370" /&gt;&lt;/a&gt;Ini sungguh terjadi.  Harga sekaleng Cola mencapai 15 miliar. Harga dua kilo gula pasir mencapai 20 miliar. Kertas tissue, toilet paper, sabun, dan sikat gigi, harganya miliaran. Dan harga tersebut dalam satu hari bisa meningkat dua kali lipat. Mungkin bulan depan, sekaleng Cola bisa berharga satu triliun. Kenapa jadi mahal begitu? Karena hampir seluruh warga Zimbabwe kini menjadi miliarder. Bukan hanya miliarder, bahkan triliuner. Tanggal 17 Januari 2009 lalu, Bank Sentral Zimbabwe menerbitkan lagi uang kertas senilai 10 triliun dollar Zimbabwe dan rencananya akan segera menerbitkan 20, 50, dan 100 triliun dollar Zimbabwe. Anda ingin jadi miliarder, pergilah ke Zimbabwe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun uang triliunan dollar di Zimbabwe nyaris  tiada arti saat dibawa ke pasar. Uang 20 miliar dollar Zimbabwe nilainya sama dengan 6000 rupiah. Uang 10 triliun kira-kira sama dengan 300 ribu rupiah. Itulah kondisi perekonomian di Zimbabwe yang dilanda hiperinflasi. Barang-barang menjadi langka, perekonomian mengalami depresi, dan inflasi mencapai jutaan persen.  Rakyat hidup dalam kesulitan.  Dalam ilmu ekonomi, hiperinflasi adalah sebuah kondisi  saat inflasi melejit tinggi tak terkontrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SX3cRE_1vwI/AAAAAAAAAIE/nFd0i-qNBlU/s1600-h/Zimbabwe.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 108px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SX3cRE_1vwI/AAAAAAAAAIE/nFd0i-qNBlU/s200/Zimbabwe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295630922814963458" /&gt;&lt;/a&gt; Hiperinflasi di Zimbabwe adalah salah satu kondisi terburuk sepanjang sejarah. Yang terparah di Hungaria pasca perang dunia ke II. Saat itu, inflasi mencapai  12,950,000,000,000,000 (12 quadrillion) persen, dengan harga melonjak dua kali lipat setiap 15 jam.  Hiperinflasi lain pernah terjadi di Jerman pada tahun 1923. Di Jerman,  inflasi meroket 30% per bulan dengan harga meningkat dua kali lipat setiap 3 hari. Di Zimbabwe, inflasi naik lebih dari 100% per bulan dengan harga meningkat dua kali lipat setiap 1,3 hari. Saat menerima uang, warga Zimbabwe harus segera membelanjakannya. Kalau lewat sehari saja, nilainya tergerus setengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab hal ini adalah pengelolaan ekonomi yang buruk oleh Presiden Mugabe. Gejolak politik dan sosial  telah mengacaukan Zimbabwe. Hal yang dilakukan oleh pemerintahan Mugabe untuk mempertahankan kekuasaannya adalah mencetak uang secara besar-besaran. Uang dipakai untuk membayar gaji pegawai, tentara, dan belanja pemerintah. Uang beredarpun tumbuh tak terkendali menjadi  akar dari hiperinflasi.  Menghadapi masalah yang timbul, Mugabe justru memerintahkan bank sentral Zimbabwe untuk terus mencetak uang. Bank Sentral Zimbabwe adalah kementrian yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur Bank Sentral Zimbabwe, Dr Gideon Gono, dengan sendirinya patuh pada perintah Mugabe. Dengan uang beredar yang meningkat berkali lipat, inflasi terus menanjak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pernah mengalami hiperinflasi pada tahun 1965. Saat itu inflasi di Indonesia mencapai lebih dari 600%. Sumber permasalahannya sama, terlalu banyak uang dicetak untuk membiayai revolusi dan berbagai pengeluaran lainnya.  Setelah kejadian itu, hiperinflasi tidak pernah terjadi lagi di negeri ini. Mudah-mudahan ke depan juga begitu. Inflasi pernah melejit tinggi mencapai 72% saat krisis ekonomi  tahun 1997/98 dan mencapai 17% saat kenaikan harga minyak di tahun 2005. Tahun 2008 lalu, saat krisis global melanda, harga minyak dunia meningkat dan mendorong kenaikan BBM serta harga-harga dalam negeri. Namun inflasi untuk tahun 2008 masih dapat dikendalikan pada tingkat  11,06%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya inflasi merepotkan kehidupan rakyat. Harga-harga melonjak tinggi dan masyarakat kehilangan daya beli, khususnya mereka yang berpenghasilan tetap. Benar apa yang dikatakan Ernest Hemingway, bahwa inflasi lebih berbahaya dari perang. Inflasi adalah perampok diam-diam yang menggerus uang dari kantong setiap warga masyarakat. Perlahan tapi pasti, masyarakat bertambah miskin karena inflasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, upaya mengendalikan inflasi menjadi kepedulian setiap negara. Kita tidak ingin inflasi membuat rakyat bertambah miskin. Guna menjaga dan mengendalikan inflasi, peranan bank sentral sangat strategis dalam perekonomian. Bank sentral yang tidak independen, seperti yang terjadi di Zimbabwe, kerap menjadi alat politisi dalam menjalankan kebijakan politiknya, misalnya mencetak uang secara terus menerus. Indonesia sejak tahun 1999 telah memiliki undang-undang yang mengatur independensi bank sentral. Upaya ini bertujuan  untuk mensterilkan peranan bank sentral dalam pengendalian inflasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa dekade terakhir ini, bank sentral di seluruh dunia sangat ketat mengontrol inflasi, melalui sebuah kerangka kerja yang dinamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Maksudnya adalah, bank sentral mengelola tingkat inflasi pada level tertentu dan menjaganya agar tidak melonjak dari kisaran yang sudah ditentukan. Apabila inflasi diperkirakan melampaui target, Bank sentral harus siap meredam inflasi. Sumber inflasi bisa bermacam-macam, mulai dari kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah, kelangkaan makanan, pelemahan nilai tukar, ataupun meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi oleh penawaran. Bank Sentral perlu memahami sumber inflasi sebelum melakukan respon dalam kebijakan moneternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan ITF kemudian bank sentral melupakan pentingnya pertumbuhan ekonomi?  Krisis global saat ini menunjukkan bahwa kebijakan ITF bersifat fleksibel. Dalam jumpa pers awal tahun, Gubernur Bank Indonesia, Dr Boediono, mengatakan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian Bank Indonesia. Namun dengan semakin turunnya tekanan inflasi akibat melemahnya perekonomian global, perhatian kiranya dapat diberikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Daya beli masyarakat perlu dijaga agar tidak semakin melemahkan perekonomian. Oleh karenanya, rangsangan yang diberikan oleh kebijakan moneter adalah penurunan suku bunga yang akan terus dilakukan sepanjang tidak mengganggu stabilitas. Jadi di sini terlihat bahwa ITF bukanlah sebuah mekanisme yang kaku. Ia juga fleksibel dalam pengelolaan ekonomi negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan apa yang terjadi di Zimbabwe tak akan pernah terjadi di negeri ini. Untuk itu, pengendalian inflasi secara konsisten memang sebaiknya diserahkan pada bank sentral yang independen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-5189070609697310542?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/5189070609697310542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=5189070609697310542' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5189070609697310542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/5189070609697310542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/01/sekaleng-coca-cola-seharga-15-milyar.html' title='Sekaleng Coca Cola seharga 15 Milyar'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SX3b7ROtNyI/AAAAAAAAAH8/zxgvYaqkK0w/s72-c/uang+zimbabwe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4735398570178049262</id><published>2009-01-25T15:14:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T15:18:09.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imlek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisis global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sektor Perdagangan'/><title type='text'>Lu Olang Musti Kelja Kelas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXwf3S_gJFI/AAAAAAAAAH0/zzv1rgOcxzE/s1600-h/cik+Lusi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXwf3S_gJFI/AAAAAAAAAH0/zzv1rgOcxzE/s200/cik+Lusi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295142296732312658" /&gt;&lt;/a&gt; Tahun baru Imlek 2560 punya makna sendiri bagi Cik Lusi. Tahun ke depan tak akan lebih mudah. “Lu olang musti lajin kelja kelas ya (rajin kerja keras)”, ujarnya.  Bagi mereka yang setiap akhir pekan sering lari pagi di pantai Carnival Ancol, tentu mengenal Cik Lusi.  Ia adalah pedagang makanan kecil yang mangkal di pojok pantai Carnival. Dagangan cik Lusi mulai dari nasi begana, nasi kuning, kue-kue basah, dan beragam makanan kecil lainnya. Para pengunjung pantai, kebanyakan orang-orang tua Tionghoa, usai lari pagi kerap mengerubungi cik Lusi. Mereka makan kue sambil kongkow-kongkow. Persis seperti kebiasaan yum cha  (makan kecil di pagi hari) di tea house pada kota-kota di Hong Kong ataupun daratan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya salah satu pelanggan tetap cik Lusi. Bakso goreng dan nasi begananya lumayan mengganjal perut yang habis diajak lari pagi. Cik Lusi datang pagi hari sebelum pantai ramai dan pulang setelah dagangannya habis. Menyambut Imlek ini Cik Lusi berpesan pada kita yang muda-muda. “Anak sekalang kalo kelja suka pilih-pilih. Jangan malu kalau kelja. Halus (harus) tekun..”. Ia bercerita bahwa kalau dagangannya belum habis, ia tidak malu untuk mengasong ke setiap pengunjung. Kalau ditolak, jangan cemberut. Itu prinsipnya. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak kecil dulu. Ia memulai usaha dengan berjualan es mambo keliling bis kota. Harganya waktu itu hanya seringgit. Ketekunan dalam berdagang adalah semangat yang diajarkan Cik Lusi pada kita semua di pagi hari itu. Kini cik Lusi sudah memiliki usaha yang lumayan dan mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.  Ia berdagang di Ancol hanya pada hari libur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imlek 2560 kali ini dibayangi oleh ancaman krisis global yang semakin dalam. Di tahun Kerbau Tanah ini, IMF dalam World Economic Outlook meramalkan krisis yang akan semakin dalam. Strauss Kahn, Managing Director IMF, dalam wawancara di BBC pekan lalu mengatakan bahwa gambaran ekonomi dunia makin suram dan menyedihkan. Pertumbuhan ekonomi negara maju memasuki resesi, atau tumbuh negatif antara 1 hingga 3 persen. Perlambatan ini juga terjadi di China, India, dan Brazil. Hal tersebut pada gilirannya akan memukul ekspor Indonesia dan berdampak pula pada melemahnya ekonomi RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan terbesar untuk bertahan hidup di tahun 2009 dan imlek 2560 kali ini adalah pada sisi konsumsi. Di sinilah mengapa stimulus fiskal dan rangsangan lainnya di perekonomian menjadi penting. Daya beli masyarakat jangan sampai jatuh. Kita melihat bahwa turunnya BBM telah memberi sedikit rangsangan daya beli masyarakat. Turunnya suku bunga diharapkan semakin meningkatkan gairah perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor perdagangan diperkirakan masih dapat tumbuh sekitar 5,7% di tahun 2009. Secara khusus, subsektor ritel diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi lebih dalam. Produk subsektor ini adalah makanan dan minuman. Inilah sektor yang diperkirakan mampu bertahan di tengah krisis. Omzet makanan dan minuman mendominasi 50% dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bedah dan menukik lebih dalam lagi pada pelaku sektor perdagangan, kita akan menemukan cik Lusi dan banyak lagi pelaku dagang Tionghoa lainnya. Termasuk pula tentu pedagang kecil lainnya. Mereka inilah salah satu bantalan dalam menghadapi krisis. Perannya tak bisa dinihilkan. Perhatian pada mereka perlu menjadi kepedulian Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan mereka, tangguh dan tahan terhadap krisis. Benar kata cik Lusi, “Kalau mau sukses, lu olang musti kerja kelas. Jangan pelnah malu…..”. Semoga kita tetap semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru Imlek Cik. Gong Xi Fa Cai…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Proyek Citizen Journalism dari pantai Carnival Ancol&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4735398570178049262?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4735398570178049262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4735398570178049262' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4735398570178049262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4735398570178049262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/01/lu-olang-musti-kelja-kelas.html' title='Lu Olang Musti Kelja Kelas'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXwf3S_gJFI/AAAAAAAAAH0/zzv1rgOcxzE/s72-c/cik+Lusi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2480996302584768583</id><published>2009-01-19T22:23:00.003+07:00</published><updated>2009-01-19T22:27:09.360+07:00</updated><title type='text'>"Banyu Mili" di Warung bu Saleh</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXSbMXHwwgI/AAAAAAAAAHs/7KLbFsruVaQ/s1600-h/warungbusaleh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXSbMXHwwgI/AAAAAAAAAHs/7KLbFsruVaQ/s200/warungbusaleh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293026098734481922" /&gt;&lt;/a&gt;Banjir yang melanda Jakarta hari ini meninggalkan cerita menarik tentang Bu Saleh. Ia adalah pemilik warung jajanan dan teh manis di wilayah Sumur Batu, Jakarta Pusat. Bu Saleh bukan tipe pedagang yang mudah menyerah. Meski tak banyak, pelanggannya tetap. Mereka adalah para tukang ojek dan pedagang keliling. Setelah lelah berkeliling, para pedagang itu biasanya istirahat sambil mencicipi pisang goreng dan secangkir teh manis di warungnya. Bukan melulu soal uang, tapi kebersamaan, keakraban, telah menjadi ciri dari warung bu Saleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari pelanggan bahkan kerap nge-bon untuk makan di warung bu Saleh. Tapi bu Saleh tak pernah nyinyir dan sedih. Ia percaya bahwa rezeki ada yang mengatur. Kadang dalam suatu waktu, saya “nongkrong” di warung bu Saleh. Sambil menyeruput teh manis, saya bicara dengannya. Pandangannya tentang ekonomi kehidupan ini sederhana saja. Prinsipnya ”banyu mili”. Biar sedikit tapi terus mengalir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras yang melanda pagi tadi merendam sebagian dari Jakarta. Warung bu Salehpun terendam sampai sedengkul orang dewasa. Namun ia tetap tersenyum dan membuka warungnya di atas genangan air. Para pelanggannya pun tetap setia datang minum teh manis sambil mengangkat kaki dan membicarakan banjir. Ketel panas tetap membara menyeduh air panas untuk dibuat teh manis. Pisang goreng tetap tersedia untuk disantap para pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tanya soal banyu mili (di atas banyu banjir), bu Saleh hanya tertawa. ”Banyu mili” tetap prinsip hidup saya mas, ujarnya. Filosofinya sederhana katanya. Meski tidak besar, rezeki diyakini akan terus mengalir. ”Mili” dalam bahasa Jawa berarti terus mengalir, walau tidak deras. Seperti sungai kecil, yang kendati sedikit airnya, tak berhenti mengalir. Penghasilan Rp10.000-15.000 per hari menurutnya patut disyukuri. Bukan jumlahnya, tapi pemberian pada hari itulah yang harus disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa termenung. Pelaku ekonomi seperti bu Saleh inilah yang sebenarnya menjadi tulang punggung ekonomi kita. Pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, dan nelayan, adalah mereka yang menggerakkan ekonomi negeri. Jumlah mereka mencapai lebih dari 90% pelaku ekonomi di Indonesia. Kontribusinya pada PDB juga melebihi 60%. Dan hal terpenting yang mereka miliki, yang jarang dimiliki oleh pengusaha besar/ konglomerat, adalah bahwa mereka tidak cengeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas genangan banjir, di bawah tekanan hidup, bu Saleh tak pernah mengeluh. Ia tak meminta fasilitas, ia tak meminta suku bunga turun, ia tak meminta kemudahan kredit, ia tak meminta macam-macam. Menurut Filsuf Friedrich Nietzche, bu Saleh adalah personifikasi mereka yang berani mengatakan ”Ya” pada kehidupan. Merekalah yang seharusnya menjadi perhatian dan keutamaan bagi para pemimpin negeri dalam menjalankan kebijakan ekonominya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saya belajar dari bu Saleh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2480996302584768583?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2480996302584768583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2480996302584768583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2480996302584768583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2480996302584768583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/01/banyu-mili-di-warung-bu-saleh.html' title='&quot;Banyu Mili&quot; di Warung bu Saleh'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SXSbMXHwwgI/AAAAAAAAAHs/7KLbFsruVaQ/s72-c/warungbusaleh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2613480514888508074</id><published>2009-01-11T21:25:00.002+07:00</published><updated>2009-01-11T21:28:08.589+07:00</updated><title type='text'>Kenapa yang Krisis Amerika, Tapi Dollar AS malah Menguat?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoBuw5HPGI/AAAAAAAAAHk/IgRzFuRFsRM/s1600-h/dialog+outlook+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoBuw5HPGI/AAAAAAAAAHk/IgRzFuRFsRM/s200/dialog+outlook+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290042615210130530" /&gt;&lt;/a&gt; Kalau Indonesia kena krisis ekonomi, Rupiah pasti melemah. Kalau Thailand kena krisis, Baht juga pasti melemah. Di banyak negara lain, krisis yang terjadi akan berdampak pada melemahnya nilai tukar. Tapi kenapa kalau Amerika yang kena krisis, Dollar malah menguat? Ambruknya ekonomi, runtuhnya pasar keuangan, bertumbangannya pabrik, dan melebarnya PHK di Amerika, seharusnya membuat Dollar melemah. Tapi yang terjadi justru Dollar menguat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini banyak muncul saat melihat Rupiah tertekan terhadap dollar di penghujung 2008 dan memasuki 2009 ini. Pertanyaan iseng ini muncul lagi, saat saya ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pengamat ekonomi dalam “Diskusi Outlook Ekonomi 2009” yang diadakan di Jakarta pekan lalu. Obrolan ini dilakukan sambil santai sebelum diskusi dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Economist dan pengamat yang hadir pada kesempatan itu antara lain Umar Juoro, Mirza Adityaswara, Budi Hikmat, Purbaya Sadhewa, Yanuar Rizky, dan beberapa pengamat lainnya. Hadir pula beberapa Deputi Gubernur BI seperti Dr Hartadi Sarwono dan Dr Muliaman D Hadad. Diskusi memang lebih banyak membicarakan mengenai outlook ekonomi 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  di meja kopi, saya dan pengamat tersebut asyik membahas mengenai rupiah. Pertanyaan kenapa Dollar menguat adalah pertanyaan umum masyarakat awam dan menjadi perbincangan warung kopi sehari-hari saat terjadi krisis ekonomi. Saat krisis melanda Amerika, banyak orang bersorak bahwa Amerika akan ambruk. Apalagi kalau kita ingat krisis 1998 yang terjadi di Indonesia telah meluluhlantakkan rupiah. Namun inilah kehebatan politik ekonomi Amerika Serikat, dan sekali lagi menunjukkan betapa rentannya perekonomian Indonesia. Dollar justru makin hari makin menguat. Mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pertama adalah, saat terjadi krisis global, ekonomi seluruh dunia menghadapi gejolak yang meningkat. Keketatan likuiditas di pasar keuangan dunia yang dipicu oleh permasalahan subprime mortgage, meluas menjadi krisis kepercayaan. Sektor riil di AS kemudian terkena imbas dari gejolak, yang mendorong pelemahan ekspansi ekonomi dunia yang dalam. Krisis kepercayaan merambat ke seluruh dunia. Dalam kondisi seperti ini, uang tak punya tuan. Uang tak punya nasionalisme. Mereka bergerak liar mencari kandang, atau tempat yang paling aman. Terjadilah apa yang dinamakan “flight to quality” atau pelarian modal pada asset yang paling bisa dipercaya di muka bumi. &lt;br /&gt;Kemana tempat yang masih bisa dipercaya? Dalam kondisi saling tak percaya, asset T-Bills milik Bank Sentral AS (The Fed) dan Surat Berharga Pemerintah AS dinilai masih lebih baik relatif dibanding asset di negara lain. Hal inilah yang mendorong Dollar rame-rame “pulang kampung” ke AS. Inilah realita dari kapitalisme. Arus keluar modal asing dari emerging markets terus berlangsung dengan bebas. Proses ini ditambah lagi dengan upaya perusahaan di AS untuk memperbaiki struktur neraca lembaga keuangannya. Mereka melakukan penyesuaian portfolionya secara besar-besaran. Proses ini dikenal dengan istilah deleveraging. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, menurut obrol-obrol tadi, adalah semacam konspirasi teori.  Bangkrutnya lembaga keuangan AS sudah terlihat ketika The Fed mengumumkan terjadinya gagal bayar kredit perumahan (KPR) oleh nasabah pas-pasan (subprime mortage). Saat nasabah mengambil KPR,  bunganya rendah karena bunga acuan The Fed (Fed rate) berada di satu persen. Masalah terjadi pada 2002, saat Amerika mengalami masalah defisit neraca perdagangan dengan Cina (ekspor lebih kecil dari impor). Untuk mengatasi defisit, bisa juga diatasi dengan operasi pasar di pasar kurs. Nah, repotnya Cina tidak ikut rezim kurs pasar melainkan kurs tetap (fix rate).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, The Fed meminta dana berlebih dari lembaga keuangan AS (global hedge fund) untuk kembali ke “kampungnya” , agar likuiditas menjadi suporter di tim AS bukan sebaliknya. Sekali lagi, inilah konsekuensi dari kapitalisme, yaitu uang tak kenal nasionalisme.Untuk bisa pulang kampung, harus ada untung. Itulah, saat The Fed menaikkan Fed rate yang agresif dimulai 2004 sampai ke 5,85%. Uang kembali, tapi makan korban gagal bayar KPR yang lalu memerlukan koreksi The Fed (September 2007) dengan menurunkan rate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 2008, krisis makin bergulir. Lehman jatuh dan Fed membutuhkan dana besar mencegah dampaknya ke AIG. Keluarlah mekanisme “bail out”. Awalnya publik mengatakan ini sebagai karma BLBI, agar AS merasakan sendiri rasanya krisis. Namun bail out ini baru awal cerita, setelah itu terjadi, uang yang dikeluarkan oleh Pemerintah AS harus diganti. Saat itu yang terjadi adalah “devisa kertas”, karena bail out diganti oleh kertas milik perusahaan. Pemerintah AS pun memerintahkan untuk melakukan “force sale” atau memaksa perusahaan-perusahaan AS menjual portfolionya di negara lain. Bursa duniapun rontok, termasuk Indonesia. Rupiahpun melemah, namun dollar menguat karena dollar ramai-ramai “dipaksa” pulang kampung . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, berbagai alasan mulai dari krisis kepercayaan hingga konspirasi teori antara pemerintah AS dan the Fed,  politik ekonomi Amerika masih bisa menyelamatkan dollar. Permasalahannya adalah apakah gejala ini temporer (sementara) atau tetap. Kita akan melihat nanti ke depan, seberapa kuat ekonomi AS dan Dollar AS menahan kepercayaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pelajaran yang dapat dipetik oleh kita adalah, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia perlu lebih smart dalam membaca gejolak dan konspirasi pasar keuangan global. Kita harus menghindari kebijakan panik dan berjangka pendek. Di sisi struktur perekonomian, upaya membangun struktur industri yang kokoh di dalam negeri perlu diintensifkan. Pertumbuhan ekonomi yang masih dilandasi oleh konsumsi, apalagi yang ditopang impor, akan sangat rawan terhadap pelarian arus modal. Struktur pertumbuhan ini akan lebih memunculkan banyaknya saudagar ketimbang industriawan.  Diskusi yang menarik di siang hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2613480514888508074?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2613480514888508074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2613480514888508074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2613480514888508074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2613480514888508074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/01/kenapa-yang-krisis-amerika-tapi-dollar.html' title='Kenapa yang Krisis Amerika, Tapi Dollar AS malah Menguat?'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoBuw5HPGI/AAAAAAAAAHk/IgRzFuRFsRM/s72-c/dialog+outlook+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6870803840195163589</id><published>2009-01-11T21:19:00.005+07:00</published><updated>2009-01-11T21:24:46.780+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BI Rate'/><title type='text'>BI Rate 8,75%, Antara Gairah dan Rangsangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/01/07/bi-rate-875-antara-gairah-dan-rangsangan/"&gt;Posted on Kompasiana&lt;http://public.kompasiana.com/2009/01/07/bi-rate-875-antara-gairah-dan-rangsangan/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoAFri4heI/AAAAAAAAAHc/uZ05tNmitcs/s1600-h/presscon+BI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 103px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoAFri4heI/AAAAAAAAAHc/uZ05tNmitcs/s200/presscon+BI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290040809888450018" /&gt;&lt;/a&gt; PAK Boed hari (7/1/09) ini memutuskan BI Rate turun sebesar 50 basis points (bps) atau 0,5% dari 9,25% menjadi 8,75%. Pasar keuangan, media massa, investor, pengusaha, serta masyarakat umum, hari ini menanti keputusan itu. Wartawan telah memenuhi gedung BI sejak pagi. Penurunan BI Rate itu disambut baik berbagai kalangan dan diharapkan dapat memberi stimulus serta menambah gairah perekonomian nasional yang mulai melesu akibat krisis global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampil lengkap bersama jajaran anggota Dewan Gubernur lainnya, Pak Boed mengatakan bahwa berbagai perkembangan dalam perekonomian di 2009 menghendaki arah kebijakan moneter agar lebih memberikan perhatian pada upaya mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat dampak dari krisis global saat ini diperkirakan akan memperlambat ekonomi Indonesia. Tentu saja penurunan BI Rate itu harus tetap memerhatikan laju inflasi dan kestabilan sektor keuangan dalam jangka menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI Rate adalah instrumen yang digunakan Bank Indonesia sebagai sinyal ke pasar keuangan mengenai kondisi ekonomi, khususnya arah pencapaian inflasi ke depan. Sebagai sinyal, pergerakan BI Rate diharapkan dapat diikuti oleh pergerakan suku bunga di pasar keuangan, dan perbankan khususnya suku bunga kredit. Dengan demikian, dunia usaha akan memiliki ruang gerak dalam mengembangkan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain diturunkannya BI Rate adalah karena krisis global telah menyebabkan tekanan inflasi di dalam negeri terus menurun. Penurunan inflasi itu muncul sebagai akibat dari berbagai hal antara lain penurunan harga komoditi, pangan dan energi dunia, produksi pangan di dalam negeri yang sangat baik pada 2008, serta perlambatan permintaan agregat. Menurunnya harga-harga tersebut telah ikut menurunkan laju inflasi. Pada bulan Desember 2008 saja kita mencatat deflasi sebesar 0,04%. Secara keseluruhan laju inflasi tahun 2008 tercatat sebesar 11,06%. Dalam tahun 2009 ini, Pak Boed mengatakan bahwa laju inflasi diprakirakan terus menurun menuju kisaran 5%-7%, yang ditunjang oleh berlanjutnya kondisi faktor-faktor pendukung tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang prospek ekonomi ke depan, Pak Boed menjelaskan bahwa pada 2009, indikator-indikator awal perekonomian Indonesia menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Hal ini terlihat pada beberapa komponen permintaan agregat, khususnya ekspor dan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi perbankan, kredit perbankan juga mulai menunjukkan perlambatan dari laju pertumbuhan 37,1% (yoy) pada Oktober 2008, menjadi 30,2% (yoy) berdasarkan data terakhir sementara bulan Desember 2008. Perlambatan kredit perbankan diprakirakan akan berlanjut dalam tahun 2009, dengan laju pertumbuhan kredit diprakirakan berada pada kisaran 18% - 20%. Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi pada 2009 diprakirakan berada pada kisaran 4% - 5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 2009, industri perbankan dalam negeri diperkirakan akan mengalami dampak dari krisis keuangan global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun secara umum, perbankan nasional masih tetap memiliki daya tahan yang cukup baik. Hal itu tercermin dari indikator utama perbankan CAR dan NPL. Rasio kecukupan modal (CAR) masih tetap tinggi meskipun sedikit menurun menjadi 14,3%. Sedangkan Non Performing Loan (NPL), yang merupakan indikasi dari pinjaman yang tidak lancar, berada di sekitar 5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Junanto Herdiawan, blogger melaporkan dari konferensi pers BI Rate&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6870803840195163589?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6870803840195163589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6870803840195163589' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6870803840195163589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6870803840195163589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2009/01/bi-rate-875-antara-gairah-dan.html' title='BI Rate 8,75%, Antara Gairah dan Rangsangan'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SWoAFri4heI/AAAAAAAAAHc/uZ05tNmitcs/s72-c/presscon+BI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2416381276607099072</id><published>2008-12-29T08:52:00.001+07:00</published><updated>2008-12-29T08:54:02.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Liburan'/><title type='text'>Negara Tak Pernah Tidur, Tapi Sering Libur ...</title><content type='html'>Pak SBY kerap berkata bahwa “the state never sleep”. Negara tak pernah tidur. Hal ini adalah penjelasan atas kebiasaan beliau memimpin rapat kapan saja dan dimana saja. Meski negara tak pernah tidur, bukan berarti negara tak pernah libur. Justru di negeri ini, kita sering merayakan libur bersama. Bahkan Presiden, Wapres, dan Menterinya, beberapa kali kita saksikan sedang menikmati hari libur. Kita tentu ingat tulisan mas Wisnu saat pak JK berenang dengan cucu-cucunya di Makassar. Mungkin mottonya, Bersama Kita Libur...!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak ada yang salah dengan libur. Justru saat libur itulah sebenarnya negara kita bergerak. Saat libur, negara ini tidak tidur. Saat libur, negara ini mengeliat dan ekonomi bertumbuh. Libur akhir tahun ini, banyak dari kita yang mengambil cuti pada tanggal 30-31 Desember sehingga bisa mendapatkan libur sampai 11 hari. Kita pulang kampung, berlibur bersama keluarga, ataupun berbelanja di berbagai tempat. Sungguh menyenangkan bukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dampak libur panjang itu? Yang pasti tempat wisata penuh sesak. Belanja masyarakat meningkat. Melihat berita di TV,  jalur puncak macet total. Demikian pula dengan kota-kota lain di daerah. Bandung macet dan dipenuhi warga Jakarta. Malioboro di Yogya penuh sesak dengan wisatawan. Pantai Kuta di Bali meriah oleh para pelancong. Mungkin banyak juga yang ingin menikmati Jakarta yang sepi. Tapi ternyata tak sepenuhnya benar. Saat menengok berbagai mall di Jakarta, Mall penuh sesak oleh para wisatawan domestik dari berbagai daerah. Warga Jakarta sendiri juga kerap kedatangan sanak saudara, sepupu, keponakan, dari daerah, yang ingin berwisata di Ibukota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi inilah gairah perekonomian negeri. Di tengah kelesuan dan pesimisme ekonomi, prediksi lesunya ekonomi di tahun 2009, kita seolah mendapat harap dari geliat masyarakat Indonesia yang gemar melakukan konsumsi. Ya, konsumsi adalah pendukung terbesar pertumbuhan ekonomi negeri. Sekitar 60% dari pertumbuhan ekonomi kita didukung oleh sektor konsumsi. Dengan penduduk melebihi 225 juta orang, gerak konsumsi Indonesia memang sebuah kekuatan luar biasa. Kita melihat sejumlah sektor seperti retail, konsumer produk, tekstil, garmen, elektronik, otomotif, dan non-tradables tumbuh dengan pesat seiring dengan jumlah penduduk yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah China yang memperkenalkan model “Holiday Economy” untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Wakil PM China Qian Qichen di tahun 2001 menerapkan libur panjang bersama saat peringatan hari buruh untuk mendongkrak ekonomi negerinya. Industri turisme dan perdagangan ritel adalah yang paling diuntungkan dari kebijakan ini. Di tahun 1999, hal ini juga pernah dilakukan di China dan berhasil. Para ahli mengatakan bahwa “holiday economy” memberikan kontribusi yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi China. Pendapatan hotel dan turisme meningkat 80% saat diterapkannya kebijakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Indonesia, meski kita tak punya apa-apa, tapi kita punya gaya. Konsumsi adalah kekuatan negeri ini. Konsumsi melulu memang tidak memberikan dampak yang berkelanjutan. Tapi tak ada yang salah dengan konsumsi yang besar bukan?  Konsumsi, apabila disikapi dengan cerdas akan juga mendorong investasi dan produksi. Konsumsi adalah sebuah kekuatan yang mampu menarik para investor dan penanam modal untuk datang membangun Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik, kekuatan konsumsi yang kita bicarakan adalah kekuatan konsumsi orang kaya yang signifikan. Jumlah orang sangat kaya di Indonesia sangat besar, bahkan lebih besar dari yang ada di Singapura ataupun Malaysia. Bandingkan jumlah mobil mewah antara Jakarta dan Singapura. Jauh lebih banyak di Jakarta (itupun belum menghitung yang dimiliki orang Indonesia di Singapura). Tak heran, tahun ini Singapura telah angkat bendera putih karena krisis global. Pertumbuhan mereka negatif, dan mengumumkan bahwa Singapore is in recession. Sementara Indonesia, meski terkena dampak krisis, masih berani menatap masa depan dengan optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk Indonesia adalah 225 juta. Pendapatan perkapita mencapai 1.946 dolar AS. Bandingkan dengan masa sebelum krisis moneter saat pendapatan per kapita kita hanya sebesar 1.100 dollar AS. Dari jumlah itu, menurut analisis pak Harinowo (komisaris BCA), 10% nya adalah penduduk yang sangat kaya, dalam arti memiliki pendapatan per kapita lebih dari 6.000 dollar AS. Jumlahnya 22,5 juta orang. &lt;br /&gt;Kekuatan orang sangat kaya di Indonesia dengan pendapatan per kapita yang besar itu menjadi landasan kuat untuk pertumbuhan konsumsi dan kemajuan ekonomi di tahun mendatang. Belum lagi ditambah dengan masyarakat menengah kaya, ataupun masyarakat yang merasa kaya. Kekuatan ini menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi kita ke depan. Harapannya tentu bisa jadi sebuah pendorong bagi tumbuhnya ekonomi kerakyatan yang tersebar di seluruh negeri. Di sinilah kita berharap pada peran aktif dari Pemerintah untuk menjadikan pertumbuhan konsumsi ini berkelanjutan dan dapat menyebar ke pertumbuhan investasi dan produksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, liburan bisa menjadi sangat produktif. Selain memberikan nilai positif dari sisi psikologis, detachment dari rutinitas, membangun keakraban dengan sanak saudara, liburan adalah salah satu cara untuk mendongkrak ekonomi negeri. Kalaupun tidak mendorong ekonomi secara signifikan, setidaknya dengan berlibur kita mampu melupakan sejenak krisis yang sedang melanda negeri. Yuuuk kita berlibur ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2416381276607099072?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2416381276607099072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2416381276607099072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2416381276607099072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2416381276607099072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/negara-tak-pernah-tidur-tapi-sering.html' title='Negara Tak Pernah Tidur, Tapi Sering Libur ...'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-9126391803826295200</id><published>2008-12-27T09:12:00.002+07:00</published><updated>2008-12-27T09:15:22.517+07:00</updated><title type='text'>3 doa, 3 cinta, dan 3 calon Presiden kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SVWPa8RC2pI/AAAAAAAAAHU/bXGPuR-LMiw/s1600-h/3+doa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SVWPa8RC2pI/AAAAAAAAAHU/bXGPuR-LMiw/s200/3+doa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284287430806133394" /&gt;&lt;/a&gt; Inilah kisah tentang Tiga. Nicholas Saputra bertemu lagi dengan Dian Sastro dalam film 3 Doa 3 Cinta. Buat yang kangen menyaksikan mereka main bareng lagi, 3 Doa 3 Cinta lumayan menghibur untuk ditonton pada libur natal dan tahun baru ini. Film ini membawa kita merenung dan memicu kesadaran tentang keterkungkungan kita pada berbagai masalah hidup selama ini. Huda, Rian, dan Sahid adalah 3 santri yang tinggal dan belajar di kalangan pesantren. Mereka memiliki mimpi dan cita-cita sendiri. Kebiasaan mereka adalah menulis doa dan harapan pada sebuah tembok pesantren. Dalam mencapai harapan itu, mereka berani memilih jalan yang berbeda, meski risikonya berat. Mereka bahkan harus menghadapi dilema antara kultur pesantren dengan kondisi nyata di luar pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang tiga orang santri yang memiliki harapan dan mimpi serta tantangan dalam mewujudkannya, dituturkan dengan menarik. Film inipun bisa menjadi sebuah metafor tentang kita dan kehidupan. Kalau dibawa ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mimpi dan harapan rakyat  tentu diserahkan pada para pemimpin untuk mewujudkannya. Kebetulan, setelah reformasi, kita memiliki 3 presiden yang dipilih melalui proses demokrasi. Mereka adalah Gus Dur, Megawati, dan SBY. Ketiganya mewakili doa dan harapan rakyat, namun mereka juga dihadapkan pada sulitnya mewujudkan harapan itu. Dan sebagaimana para santri di film, kadang dalam merumuskan kebijakan, mereka cenderung bersifat pragmatis. Karena untuk keluar dari jalur mainstream risikonya terlalu besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat dari sisi ekonomi negeri. Sepuluh tahun sejak krisis, perekonomian sudah mulai menunjukkan perbaikan. Namun perbaikan itu belum bisa sepenuhnya membawa kita keluar dari krisis. Permasalahan struktural perekonomian seperti kemiskinan dan pengangguran masih menghantui sebagian besar rakyat. Dalam masa kepemimpinan 3 presiden itu, Indonesia beberapa kali dihantam krisis ekonomi. Seperti kutuk, tidak ada satupun Presiden RI yang mulus memimpin negeri ini tanpa harus diuji oleh krisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah para Presiden itu bisa disalahkan? Mereka telah berupaya keras tapi krisis datang lebih keras lagi. Bagi penganut aliran ekonomi business cycle atau conjunctur, tentu menyakini bahwa ekonomi tak selamanya bisa berjalan mulus. Perekonomian diyakini tidak akan bisa tumbuh terus tanpa batas, ataupun menukik terus tanpa dasar. Sudah dari sononya, kehidupan ekonomi akan selalu ditandai oleh fluktuasi. Ada titik balik dari segalanya. Ekonomi, secara alamiah, akan mengalami gelombang naik turun. Siapapun Presidennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah konsekuensi dari sistem ekonomi yang kita anut saat ini, ekonomi terbuka. Sistem kita membolehkan produksi dan distribusi dilakukan orang per orang dalam sistem mekanisme pasar. Siapapun Presidennya tak akan bisa menghilangkan gelombang pasang surut ekonomi. Kita harus menerima kenyataan bahwa ekonomi akan mengalami krisis setiap beberapa tahun sekali. Berbagai indikator seperti pengangguran, kemiskinan, investasi, konsumsi, tabungan, suku bunga, dan budget pemerintah, hanya masalah perhitungan saja antara naik dan turun. Setiap pemerintahan akan mengkaji angka demi angka dalam pidato ataupun laporan pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY dan Megawati telah membulatkan tekad untuk maju lagi memimpin negeri. Calon ketiganya bisa Prabowo, bisa Sri Sultan, atau bisa siapa saja. Tapi 3 Presiden terdahulu telah membuktikan bahwa mengendalikan perekonomian Indonesia dalam turbulensi perekonomian terbuka tidak mudah. 3 calon presiden kita ke depan juga akan menghadapi medan perekonomian yang tak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sistem ekonomi seperti saat ini akan dipertahankan, siapapun Presiden terpilih nanti, ia dan tim ekonominya akan terus menghadapi masalah ini. Namun, mereka diharapkan dapat mengatur gelombang naik turun perekonomian dengan kebijakan yang “antisiklis”. Saat krisis datang, mereka harus mampu mencari cara bagaimana membendung krisis. Saat ekonomi meningkat, mereka diharap mampu memperpanjang titik itu dan menyejahterakan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke film 3 doa 3 cinta, Nicholas Saputra harus berjuang keras untuk meraih cita-cita dan menemukan cinta ibunya yang telah lama tak dijumpai. Presiden kita juga dituntut mampu meraih cita-cita dan menemukan “adil dan makmur” yang lama tak kita jumpai. Mengelola perekonomian Indonesia yang berisikan lebih dari 200 juta penduduk bukanlah hal mudah. Ibarat mengemudikan sebuah pesawat jumbo jet. Mesin dan crew-nya harus kuat dan tangguh. Semoga kita mampu. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-9126391803826295200?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/9126391803826295200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=9126391803826295200' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9126391803826295200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9126391803826295200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/3-doa-3-cinta-dan-3-calon-presiden-kita.html' title='3 doa, 3 cinta, dan 3 calon Presiden kita'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SVWPa8RC2pI/AAAAAAAAAHU/bXGPuR-LMiw/s72-c/3+doa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6171460237434686646</id><published>2008-12-22T05:57:00.003+07:00</published><updated>2008-12-22T06:01:23.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Utopia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lia Eden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Ekonomi'/><title type='text'>Lia Eden, Indonesia Unggul, dan Utopia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SU7KJS31bWI/AAAAAAAAAHM/QfCxohFIMxk/s1600-h/paduka_bunda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SU7KJS31bWI/AAAAAAAAAHM/QfCxohFIMxk/s200/paduka_bunda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282381673985830242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masuk penjara tak membuat Lia Eden Jera. Keluar dari penjara, ia bahkan tampil semakin berani. Lia memberi ultimatum pada Presiden SBY melalui maklumat Wahyu Tuhan bagi Pemerintah Indonesia. Iapun harus kembali ke penjara. Hal yang menarik adalah, Lia Eden tetap konsisten membawa janji akan “Kerajaan Tuhan” dan perdamaian di muka bumi. Ia mendapat pengikut karena mampu menawarkan sebuah utopia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi krisis, baik krisis ekonomi hingga krisis kepercayaan diri seperti saat ini, Lia Eden bagaikan sebuah Eden (nirvana)  yang memberi seteguk air bagi pengikutnya yang kehausan. Ajaran Lia Eden tentu dianggap sesat. Dan itu menjadi ranah para teolog dan sosiolog. Dalam pandangan politik ekonomi, fenomena Lia Eden merupakan hal yang menarik. Secara lebih besar dan rasional, utopia “Kerajaan Tuhan” sebenarnya juga dipakai oleh para politisi dalam meraih dukungan massa. Dalam jenis dan kadar yang berbeda, para politisi dan calon presiden membawa masyarakat pada sebuah janji  utopis tentang masa depan yang lebih baik. Sebuah eden yang menjanjikan. Dan rakyatpun, biasanya, terbuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang zaman, kemampuan membangun mimpi dan utopia ini selalu dipertahankan. Sistem ekonomi Marxisme dan kapitalisme berkembang sepanjang zaman karena menawarkan mimpi utopis tentang masyarakat yang sejahtera. Sosialisme senantiasa membawa janji kesetaraan dan pemerataan.  Kapitalisme menjanjikan kebebasan dan demokrasi. Di bidang politik demikian pula. Ignas Kleden pernah mengatakan bahwa  pemimpin bisa bertahan apabila ia mampu menawarkan utopia. Mungkin benar adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno menawarkan sebuah utopia, yang dapat menggerakan seluruh bangsa dan masyarakat Indonesia, ke arah yang dikehendakinya.  Utopia yang ditawarkan adalah pembentukan bangsa yang berkarakter, mendapat pengakuan, bahkan penghormatan dari bangsa lain di dunia. Fokus utamanya adalah pada kebangsaan, dan sepanjang hayat ia bergulat dengan proyek nation building, sebagai sebuah kerja raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soeharto menjadi presiden, ia dan tim ekonominya menawarkan sebuah utopia baru, yaitu pembangunan nasional. Utopia ini berisi banyak janji menarik, antara lain pengentasan kemiskinan, peningkatan taraf hidup, pertumbuhan ekonomi, modernisasi cara hidup, dan demokratisasi sistem politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya adalah, utopia tidak pernah memiliki titik masa depan yang jelas. Kapan semua itu akan dicapai tak pernah dibicarakan. Yang muncul adalah janji dan janji terus tanpa henti. Aksi dan aksi tanpa pernah tahu kapan ia bisa mengejawantah di muka bumi. Seiring dengan waktu, masyarakat bisa merasakan, apakah mimpi itu memiliki pencapaian atau tidak di muka bumi. Soekarno  terus mengobarkan revolusi hingga revolusi memakan anaknya sendiri. Soeharto menjadi Bapak  pembangunan hingga ia menjadi korban dari pembangunannya sendiri.  Saat utopia itu semakin sulit diterapkan, rakyat hilang kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibie dan Gus Dur duduk di tampuk kepemimpinan tanpa membawa utopia. Mereka tak sanggup bertahan lama. Janji utopis ini semacam “sesajen” atau bayaran bagi rakyat Indonesia untuk ganjaran mereka bertahan di tampuk kepemimpinan. Gus Dur memang memiliki over legitimate karena memiliki pengikut setia. Tapi sayang, itu saja belum cukup. Masyarakat Indonesia tak bisa hidup tanpa mimpi utopis yang jelas. Megawati kemudian muncul menjadi presiden. Masyarakat Indonesia berharap ia mampu membangun kembali mimpi utopis sang ayah. Sayang, upaya membangun utopia ini tidak sempat dibangun dan masyarakat terlanjur menemukan figur baru yang dianggap mampu. Dialah SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, SBY meluncurkan buku Indonesia Unggul. Inilah judul menarik yang digaungkan pada masyarakat Indonesia. Selama kepemimpinannya, SBY mampu hadir membawa utopia. Program-progamnya visioner dan membawa bangsa ini pada sebuah tahapan kesadaran yang mantap. Isu-isu seperti penegakan hukum, pemberantasan korupsi, kemandirian ekonomi, adalah berbagai masalah yang selama ini membuat kesal dan putus asa bangsa. Dan, SBY mampu  hadir menyibak berbagai masalah itu dengan sebuah langkah. Bukunya, Indonesia Unggul, juga berisikan pemikiran-pemikiran yang luar biasa bagus dan visioner. SBY mengingatkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara besar yang bisa unggul di masa depan.  Di sini, SBY memiliki kelebihan dalam merebut hati masyarakat Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utopia memang menjadi rebutan dalam krisis saat ini, apalagi menjelang pemilu 2009. Utopia juga menjadi strategi bagi banyak orang untuk meraih simpati masyarakat. Kalau kita perhatikan iklan kampanye calon presiden, masing-masing ingin membawa kita pada tanah Eden. Bahwa kita akan jaya, akan kembali menjadi macan asia, wong cilik perlu diperhatikan, berjuang untuk rakyat, mengabdi bagi negeri, menghapus korupsi dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, janji adalah satu sisi. Namun utopia adalah sisi lain. Ia bisa menjadi semacam jebakan. Ia berada dalam lapisan rapuh kepercayaan apabila tak mampu menawarkan titik pencapaian yang kurang lebih bisa diterima oleh masyarakat. Tanpa adanya titik itu, perlahan pemimpin akan ditinggalkan, seperti para pengikut Lia Eden yang makin hari makin berkurang. Bila itu terjadi, berarti krisis tak memberi kita pelajaran. Atau memang kita memiliki masalah dalam belajar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6171460237434686646?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6171460237434686646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6171460237434686646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6171460237434686646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6171460237434686646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/lia-eden-indonesia-unggul-dan-utopia.html' title='Lia Eden, Indonesia Unggul, dan Utopia'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SU7KJS31bWI/AAAAAAAAAHM/QfCxohFIMxk/s72-c/paduka_bunda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-7818446738552194904</id><published>2008-12-20T06:46:00.005+07:00</published><updated>2008-12-20T06:51:46.509+07:00</updated><title type='text'>Meneropong Ekonomi 2009</title><content type='html'>&lt;strong&gt;tulisan ini dimuat di koran Investor Daily, 17 Desember 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUwy3P2w5dI/AAAAAAAAAHE/pRGsfVas3yk/s1600-h/teropong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUwy3P2w5dI/AAAAAAAAAHE/pRGsfVas3yk/s200/teropong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281652387729171922" /&gt;&lt;/a&gt;Catatan di pengujung tahun selalu diwarnai ramalan, baik ramalan nasib, peruntungan, jodoh, ataupun proyeksi ekonomi untuk tahun berikutnya. Pada 2009, perekonomian akan diwarnai banyak jebakan, gangguan, yang melemahkan ketahanan ekonomi. Ekonomi Indonesia bersifat terbuka. Kita merasakan sendiri bagaimana berbagai permasalahan di dunia global berdampak pada geliat ekonomi negeri. Resesi yang terjadi di negara maju, melambatnya ekonomi dunia, dan rentannya sistem keuangan global, secara setangkup akan dirasakan pada perekonomian Indonesia. Perdagangan dan keuangan adalah dua jalur paling cepat yang menjalarkan dampak global tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi tersebut, tahun 2009 akan menjadi tahun yang tidak mudah, atau istilah filmnnya, year of living dangerously. Akan ada banyak guncangan, jebakan, gangguan, yang dapat sewaktu-waktu menggoyang ketahanan perekonomian kita. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan akan melambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena melambatnya ekonomi dunia memang, penurunan harga komoditas internasional juga akan menjadi faktor utama perlambatan karena berdampak pada penurunan ekspor Indonesia. Perlambatan ekspor tersebut akan berdampak pada konsumsi rumah tangga melalui penurunan daya beli masyarakat (income effect) dan diikuti oleh penurunan investasi oleh dunia bisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, transmisi krisis global melalui sektor keuangan semakin menambah tekanan pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui terbatasnya pembiayaan, baik untuk konsumsi maupun investasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tekanan Inflasi Berkurang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada 2009 akan diadakan pesta demokrasi (Pemilu) yang diperkirakan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya saat kampanye. Kemeriahan partai politik dalam menggalang massa berpesta demokrasi diharapkan dapat meningkatkan geliat ekonomi negeri. Namun, krisis keuangan global saat ini berpengaruh pula pada kondisi keuangan partai-partai politik. Akibatnya, walau akan ada dorongan permintaan, dampaknya masih akan terbatas pada pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat langsung pada perlambatan pertumbuhan adalah sektor riil. Apabila dunia bisnis semakin melesu, pada gilirannya akan jumlah pengangguran dan kemiskinan meningkat. Pada 2008 ini, angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah meningkat. Pada November saja, tercatat sebanyak 66.000 orang yang terkena PHK. Jumlah yang terkena PHK ini diperkirakan terus meningkat pada 2009. Meningkatnya angka pengangguran dikhawatirkan akan membawa dampak lain pada kehidupan sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat berbagai perkembangan tersebut di atas, maka perlambatan ekonomi Indonesia pada 2009 merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan turun drastis pada 4,4%. Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan sekitar 4,5%. Bank Pembangunan Asia (ADB) 5%. Dan versi Pemerintah menyebutkan angka sekitar 5% dengan skenario pesimistis mencapai 4,5%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik keprihatinan atas perlambatan pertumbuhan, secercah harapan pun muncul, yakni berkurangnya tekanan inflasi. Bank Indonesia telah berulangkali menyebutkan bahwa inflasi 2009 akan menurun ke kisaran 6,5-7,5% dengan kecenderungan berada pada batas bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan ini cukup beralasan mengingat, selain faktor turunnya imported inflation dari harga-harga komoditas internasional, penurunan inflasi juga didukung oleh faktor domestik, antara lain seperti rencana Pemerintah menurunkan harga BBM, stabilisasi harga oleh Pemerintah sepanjang periode Pemilu, serta meningkatnya produksi padi dan pengadaan beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil perhitungan Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa efek penurunan harga premium akan mengurangi tekanan inflasi sebesar 0,3-0,5% pada putaran pertama. Apabila ini ditangkap oleh masyarakat dengan penurunan harga di berbagai sektor, hal itu dipastikan akan semakin menurunkan tekanan inflasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurunnya tekanan inflasi ini memberikan sebuah ruang bagi ekonomi Indonesia untuk mengeliat. Bank Indonesia tentu diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini melalui kebijakannya yang secara konsisten menjaga pencapaian inflasi tanpa mengganggu stabilitas perekonomian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelenturan Ekonomi&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Namun, ekonomi Indonesia bukan sekedar angka-angka. Di balik angka-angka itu, hiduplah aktor-aktor ekonomi yang lentur dan liat. Mereka adalah para pelaku yang berdaya juang dan berdaya tahan tinggi. Mereka tersebar luas di seluruh penjuru Nusantara dalam berbagai peran seperti petani, nelayan, dan pengusahan mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat krisis melanda negeri kita, dimana ekonomi mendapat tekanan berat, usaha para petani dan nelayan masih bisa tumbuh pada kisaran 3-4%. Pasar domestik yang luas, jaring-jaring kehidupan sosial kemasyarakatan yang erat, telah mampu mengikat dan menjadi penyangga bagi tingkat pengangguran dan kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu, perekonomian Indonesia memiliki kemampuan bergerak seperti mekanika sebuah mesin. Itulah kelenturan ekonomi Indonesia yang sekiranya mampu dirasakan dan dijadikan modal utama oleh otoritas dalam menelurkan kebijakannya. &lt;br /&gt;Ramalan masa depan memang penting. Namun kita tak bisa hanya berhenti di angka. Kita juga tak bisa hanya berhenti pada upaya mengamankan budget pemerintah semata. Krisis global saat ini merupakan momentum untuk dapat membangun perekonomian yang kokoh secara nyata dan merata di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pertanyaannya bukan berapa besar pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2009, melainkan bagaimana dengan pertumbuhan yang minim itu Indonesia tetap berkomitmen pada kepentingan rakyat? Itulah tantangan bagi pemimpin kita di masa depan. Indonesia di masa depan sangat membutuhkan seorang negarawan yang mampu tampil dan bersedia larut memikirkan masa depan bangsa. Selamat Tahun Baru 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Junanto Herdiawan, peneliti ekonomi lulusan Leeds University&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-7818446738552194904?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/7818446738552194904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=7818446738552194904' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7818446738552194904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7818446738552194904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/meneropong-ekonomi-2009.html' title='Meneropong Ekonomi 2009'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUwy3P2w5dI/AAAAAAAAAHE/pRGsfVas3yk/s72-c/teropong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4109013870818881291</id><published>2008-12-14T23:43:00.003+07:00</published><updated>2008-12-14T23:46:23.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik dan Bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='De Tocqueville'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Presiden Indonesia pilihan tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUU4Ask8g5I/AAAAAAAAAG8/EtHyeEg19lA/s1600-h/De+tocquiville.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUU4Ask8g5I/AAAAAAAAAG8/EtHyeEg19lA/s200/De+tocquiville.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279687722779050898" /&gt;&lt;/a&gt; ”In a democracy, the people get the government they deserve”. Dalam sebuah demokrasi, rakyat mendapatkan pemerintah (pemimpin) yang pantas bagi mereka. Begitulah observasi dari Alexis De Tocqueville (1805-1859), seorang filsuf dan sejarawan Perancis. Dengan kata lain, pemimpin adalah cerminan karakter dari mereka yang dipimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang matang dan intelektual, secara alamiah akan mendapatkan pemerintahan yang matang. Sementara masyarakat yang mentah, akan mendapatkan pemerintahan yang mentah. Masyarakat yang gemar dengan hal-hal yang berbau instan dan gemar dengan bungkusan citra (image), akan mendapatkan pula pemerintah yang sesuai dengan karakter mereka. “Vox Populi Vox Dei”, Suara Rakyat Suara Tuhan. Dalam demokrasi, Tuhan mengejawantah pada suara rakyat. Oleh karenanya, janganlah kita selalu menyalahkan pemerintah. Karena mereka sebenarnya hanya cerminan dari diri kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat contoh di banyak negara bagaimana hubungan antara pemimpin dengan mereka yang dipimpin. Amerika yang mayoritas penduduknya matang dan berpendidikan, layak mendapatkan presiden sekaliber Obama. Perancis yang penduduknya terkenal dengan fashion dan modenya, mendapatkan ibu negara yang mantan model dan Presiden yang bergaya selebritis. Beberapa negara Afrika yang masyarakatnya kerap berperang, mendapat pemerintah yang juga gemar perang dan konflik. Itulah sebagian contoh yang berangkat dari observasi De Tocqueville.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hal itu juga berlaku di Indonesia? Jawabnya bisa diperdebatkan. Apakah Gus Dur, Megawati, dan SBY adalah pemimpin yang mencerminkan sikap dan karakteristik manusia Indonesia, tentu banyak pendapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Boeke di masa kolonial pernah menegaskan mitos tentang masyarakat Indonesia yang malas. Menurutnya masyarakat Indonesia ini memiliki karakter “lack of deffered gratification”. Tak bisa menunda kenikmatan. Punya uang sedikit, maunya belanja. Kalau ada buku tentang cara singkat menjadi kaya, buku itu pasti laris manis. Pandangan masyarakat kita berjangka pendek dan ingin cepat sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang ekonomi, karakter itu dapat dilihat dari komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi. Kalau kita melihat secara agregat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ini, termasuk saat krisis melanda, kita dapat tumbuh cukup menggembirakan di sekitar 6%. Namun kalau dilihat lebih dalam, pertumbuhan itu lebih didominasi oleh sektor konsumsi. Sementara Ekspor dan Investasi masih belum optimal. Konsumsi masyarakat meningkat, konsumsi pemerintah juga meningkat. Tak ada yang salah memang dengan konsumsi. Tapi menjadikan konsumsi sebagai penggerak pertumbuhan semata tentu tidaklah bijak. Kita tahu bahwa bangsa yang konsumtif adalah bangsa yang tidak punya karakter. Hanya bangsa yang produktiflah menjadi bangsa yang berkarakter tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat dari komoditas ekspor, di tahun 1993-1998, ada 20 komoditas ekspor non migas yang tumbuh di atas 10%. Kini, komoditas yang tumbuh di atas 10% mungkin tinggal sekitar tujuh komoditas. Itupun sebagian besarnya adalah komoditas sumber daya alam. Dulu, saat harga udang galah meningkat, masyarakat beramai-ramai berbisnis udang galah. Kini, saat harga CPO meningkat, seluruh tanah diubah tanam menjadi perkebunan sawit. Gejala ini terjadi terus menerus. Saling mengekor dan ingin mencari keuntungan dengan cepat. Dan tentu, kalau ambruk, ambruklah beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat krisis global seperti ini, kita melihat permasalahan yang menimpa ekonomi kita semakin nyata. Banyak perusahaan yang mulai tutup, semakin sedikit pula ekspor, dan PHK meningkat. Transaksi berjalan kita di neraca pembayaran mulai "megap megap" dan menunjukkan angka defisit. Defisit transaksi berjalan adalah hal yang serius karena menyangkut persoalan struktural dan kultural dari bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan ada pendapat bahwa persoalan di bidang ekonomi ini seolah olah hanya persoalan angka, persoalan uang, ataupun persoalan manajemen. Tetapi, ada yang lebih embedded inherent di balik munculnya angka-angka tersebut. Itulah cerminan dari sikap dan karakteristik bangsa. Budaya sulit menunda kesenangan, senang mengkonsumsi, dan gemar memburu kekayaan dengan instan, dapat tercermin secara agregat di angka-angka makroekonomi. Karena itulah, usaha perbankan untuk mendorong dan menggiatkan tabungan di masyarakat menjadi penting. Karena itulah, usaha-usaha untuk melakukan jalan pintas mencapai kekayaan, harus dicegah bersama-sama. Inilah tantangan bukan hanya bagi pemerintah, tapi bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, pernyataan De Tocqueville menjadi penting. Karena dengan demikian kita akan mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan karakter kita itu. Waduh, mudah-mudahan De Tocquiville salah. Mudah-mudahan dengan karakter masyarakat yang ada saat ini, kita masih bisa mendapatkan pemimpin yang memiliki karakter negarawan, yang bersedia larut memikirkan masa depan bangsa. Seorang Pemimpin yang benar-benar pilihan Tuhan. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4109013870818881291?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4109013870818881291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4109013870818881291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4109013870818881291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4109013870818881291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/presiden-indonesia-pilihan-tuhan.html' title='Presiden Indonesia pilihan tuhan'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SUU4Ask8g5I/AAAAAAAAAG8/EtHyeEg19lA/s72-c/De+tocquiville.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2316712253966648251</id><published>2008-12-08T21:55:00.004+07:00</published><updated>2008-12-08T22:01:50.284+07:00</updated><title type='text'>Twilight, Drakula, dan Ekonomi Politik Jangka Pendek</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ST01fIpC7RI/AAAAAAAAAG0/Yt6tFDj-4-k/s1600-h/twilight-movie-poster.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ST01fIpC7RI/AAAAAAAAAG0/Yt6tFDj-4-k/s200/twilight-movie-poster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277433147359948050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;When you can live forever, what do you live for&lt;/em&gt;?”. Kalau anda bisa hidup selamanya, apa yang akan anda lakukan dalam hidup? Di dunia ini mungkin hanya ada dua orang yang ingin hidup seribu tahun lagi. Pertama, Chairil Anwar. Dan kedua, Drakula. Sudah nonton film Twilight? Ya, inilah kisah cinta dua anak remaja dengan latar belakang Drakula modern. Para Twilighters, pecinta novel Twilight karya Stephenie Meyers, menyambut pemutaran film ini dengan antusias. Sejatinya, ini hanya kisah klasik tentang cinta antara dua anak manusia yang berbeda. Bella Swan nan jelita, jatuh cinta pada Edward Cullen yang ternyata adalah keturunan vampir.  Kisah ini menarik karena menyajikan vampir modern yang hadir tanpa nuansa horor. Konstelasi kejiwaan vampir diangkat dalam film ini begitu indah. Adegan romantisnya lumayan “picisan”, tapi bikin gregetan.  Buat para remaja putri, kisah cinta dengan vampir ganteng ini memang bisa membuat mereka “termehe-mehe”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyaksikan film ini, tafsir penontonpun bisa berbeda-beda. Bagi saya, film ini membawa satu pesan moral yang menarik. “&lt;em&gt;When you can live forever, what do you live for&lt;/em&gt;?”. Itulah saya pikir kelebihan Drakula dari kebanyakan manusia biasa. Drakula memiliki perspektif jangka panjang dalam memandang masalah dan kehidupan. Karena mereka menyadari bahwa mereka hidup selamanya. Berbeda dengan kebanyakan manusia yang hanya berpikir sesaat dan untuk kepentingan jangka pendek. Edward Cullen dan keluarganya berupaya melindungi Bella dari gangguan vampir jahat. Mereka mementingkan masa depan Bella ketimbang kepentingan jangka pendek mereka, untuk sekedar menghisap darah Bella. Hebat juga. Rupanya Drakula tidak berpikir myopic atau rabun ayam. Mereka justru memandang jauh ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah konstelasi krisis ekonomi dan ramai politik saat ini, nampaknya kita perlu belajar dari Drakula. Saya teringat pandangan dari Prof Syafii Maarif yang mengingatkan kita akan bahaya dari kultur politik ”rabun ayam”. Kultur politik ini ditandai dengan visi jangka pendek dan pragmatis para pemain demokrasi. Kita melihat saat ini Indonesia disibukkan dengan politik kekuasaan yang menguras energi bangsa. Sulit rasanya kita membangun bangsa dan pemerintahan yang kokoh selama para pemain demokrasi terpasung kultur ”rabun ayam”. Mereka terpaku dan terpukau kepentingan jangka pendek. Di kalangan intelektual politik, kita melihat godaan politik kekuasaan begitu kuat. Hal ini telah membuat mereka kehilangan kejernihan berpikir dan kemerdekaan dalam menilai. Akibatnya, orang lupa bahwa bangsa ini membutuhkan kelahiran negarawan yang bersedia larut memikirkan kepentingan jangka panjang bangsa. Kita begitu sibuk dan asyik sekali dengan gelora pemilu 2009 serta kepentingan jangka pendek golongan, bahkan kepentingan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan ekonomi, pola pikir myiopic ini juga berbahaya. Adalah John Maynard Keynes yang pernah mengatakan “in the long run we all dead”. Memang demikian. Di masa depan memang kita semua mati. Namun Keynes juga tidak menganjurkan orang untuk hanya memikirkan jangka pendek. Bahwasanya masa depan penuh ketidakpastian, benar adanya. Keputusan preferensi akan likuiditas sangat ditentukan oleh persepsi kita akan masa depan. Namun di sisi lain, Keynes juga pernah menulis essay pendek yang berjudul “The Economic Possibilites for Our Grandchildren”. Ia menulis bagaimana anak cucunya hidup di Inggris setelah krisis dan perang dunia usai. Ia meyakini bahwa di tahun 2030 (tulisan itu dibuat tahun 1931) masa depan anak cucu akan lebih baik. Oleh karenanya, keputusan ekonomi yang dibuat harus bermanfaat bagi masa depan anak cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, kita pernah bangga punya REPELITA dan konsep Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun. Kita menggaung-gaungkan visi dan lepas landas pembangunan. Kita pernah “merasa” punya masa depan. Kini, PJP memang masih ada. Namun sejauh mana ia tertanam dalam benak kita semua, masih jadi pertanyaan. Saat ini, pikiran kita begitu disibukkan dengan krisis ekonomi dan masalah-masalah mendesak jangka pendek. Persoalan nilai tukar, neraca pembayaran, perbankan, pasar uang, pasar saham, dan melemahnya pertumbuhan ekonomi, menjadi rangkaian masalah yang tak usai. Kita terbawa dalam pusaran demi pusaran langkah menyelesaikan berbagai permasalahan mendesak itu. Tentu tak ada salahnya kita berpikir jangka pendek. Masalah segera memang perlu juga diselesaikan. Hanya saja, jangan sampai semua energi kita terkuras berputar-putar di sana. Kita tetap perlu punya perspektif jangka panjang. Namun, dalam kondisi ekonomi politik saat ini, siapa ya yang memikirkan hal itu? Mungkin kita perlu belajar dan minta bantuan pada Drakula. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2316712253966648251?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2316712253966648251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2316712253966648251' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2316712253966648251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2316712253966648251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/twilight-drakula-dan-ekonomi-politik.html' title='Twilight, Drakula, dan Ekonomi Politik Jangka Pendek'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/ST01fIpC7RI/AAAAAAAAAG0/Yt6tFDj-4-k/s72-c/twilight-movie-poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-7131185076702843938</id><published>2008-12-05T16:12:00.000+07:00</published><updated>2008-12-05T16:14:26.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BI Rate'/><title type='text'>BI Rate Sebagai Problem Filsafat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STjw5r0H80I/AAAAAAAAAGs/xDieD5Uc3sg/s1600-h/DG+Bank+Indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 111px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STjw5r0H80I/AAAAAAAAAGs/xDieD5Uc3sg/s200/DG+Bank+Indonesia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276231837269095234" /&gt;&lt;/a&gt; Media massa hari ini menurunkan berita beragam tentang penurunan BI Rate. Para analis pasar juga setangkup. Ada yang menyambut baik, dan ada yang seolah-olah “caught by surprise”. Kemarin, kami sempat menerima beberapa tamu investor dari Inggris. Mereka menyatakan ketertakjubannya dengan penurunan BI Rate. Sebaliknya, Bisnis Indonesia, hari ini menulis headline “Pasar Sambut Positif penurunan BI Rate”. Koran Tempo menulis berita “BI Rate turun, Rupiah Menguat”. Jauh hari sebelum RDG, Ketua Kadin dan Analis dari Indef mengatakan bahwa BI Rate seharusnya turun. Mereka berkata ”Pakai BI Rate untuk stimulus” (Kompas, 27 Nov 2008). Turunnya BI Rate, bukan hanya diharapkan (expected) oleh mereka, bahkan didoakan. Terlepas dari sambur limburnya pendapat, perhatian dunia, masyarakat, media, dan analis, kini tertuju pada sebuah makhluk abstrak bernama “BI Rate”. BI Rate telah memberi “gairah” dalam diskursus wacana di kalangan pelaku pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa BI Rate menjadi begitu ”sexy”? Di satu sisi, ini adalah buah dari komunikasi Bank Indonesia yang proaktif dan terus menerus sejak tahun 2005. Hasil komunikasi itu telah mengangkat BI Rate menjadi wacana publik. Namun permasalahan muncul, ketika beberapa pihak mulai menggeser pemahaman dan filosofis BI Rate dari khittahnya semula. Hal ini bukan hanya menyesatkan, namun sangat berbahaya bagi kemaslahatan masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdinand de Saussure (1929), seorang filsuf penganut aliran strukturalisme, kira-kira akan menggolongkan BI Rate sebagai sebuah “penanda” atau “signifier” atas sesuatu yang ”ditandakan” atau ”signified”. ”Bahasa adalah perkara bentuk dan bukan substansi”, demikian ungkapan terkenal dari Saussure. BI Rate menjadi sebuah bentuk yang merupakan identitas dari satu metode, atau cara, untuk mencapai sebuah tujuan. Sebenarnya ada kode tersembunyi  (hidden code) dan hakikat asali yang ingin dicapai oleh BI Rate. Bila kita membedah lagi BI Rate ke dalam hakikat asalinya, kita seharusnya sampai pada sebuah alasan kenapa BI Rate ada. Hal ini bisa menjadi sebuah kajian ontologis yang lebih mendalam tentang kehidupan publik dan kesejahteraannya. Claude Levi Strauss (1931) kemudian menulis mengenai kajian mitos. Dalam kajian itu, BI Rate bisa dikategorikan ke dalam mitos (myth), sama seperti Freud terpesona pada mimpi (dream). Topologi mitos adalah ia bisa bekerja di ranah irrasionalitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalah muncul ketika ”penanda” yang semula adalah sebuah tekhnik dan cara untuk mencapai tujuan, telah bergeser menjadi tujuan itu sendiri. BI Rate adalah sebuah instrumen yang digunakan untuk mencapai satu tujuan. Bagaimana cara bekerja instrumen itu tetap suatu misteri. Ilmu ekonomi mencoba menjelaskannya dengan berbagai analisis baik kualitatif maupun kuantitatif. Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi, tak ada yang tahu. Yang kita bisa lakukan adalah mencoba memahami mekanisme gejala yang ada. Tekanan inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca pembayaran, pasar uang, dan berbagai gejala yang ada. Kita mengandaikan sesuatu sebagai ”ada” padahal itu adalah pengetahuan kita mengenai ”ada”. Inilah yang kadang yang menjadi awal dari sebuah ”keterpelesetan” berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pihak dalam pekan-pekan terakhir ini mencoba menggiring pendapat publik akan pentingnya BI Rate diturunkan. Berbagai diskusi dan wacana dilempar dan menempatkan BI Rate sebagai sebuah ”panacea”. Apabila masalah ekonomi sudah mentok, maka jawaban yang ditunggu adalah BI Rate. Kalau suku bunga di negara lain turun, kenapa di BI gak turun? Jadi, BI Rate harus turun, karena semua turun. Diskusi semakin meluas dan memanas. BI Rate, yang semula adalah cara mencapai tujuan, telah bergeser menjadi tujuan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak terjebak ke dalam penyesatan berpikir yang dilakukan beberapa pihak tersebut. Harapan kita adalah munculnya sebuah penjelasan yang semakin ”mendekati” kebenaran akan alasan penurunan tersebut. Pada ujungnya, BI Rate bekerja pula dalam tataran wacana, psikologi, di samping masalah mekanistis. Upaya membangun kesadaran, komunikasi yang jelas dan terus menerus, menjadi lebih penting untuk menghindarkan publik dari keterkejutan dan kebingungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI Rate sebagai problem filsafat mengingatkan kita bahwa mungkin inilah salah satu contoh kesekian tentang implikasi dari sebuah syarat metodologis yang kemudian dianggap sebagai realitas ontologis. Atau, implikasi dari proyek cara memikirkan sesuatu yang terpeleset dan dianggap sebagai ”sesuatu” itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-7131185076702843938?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/7131185076702843938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=7131185076702843938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7131185076702843938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/7131185076702843938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/bi-rate-sebagai-problem-filsafat.html' title='BI Rate Sebagai Problem Filsafat'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STjw5r0H80I/AAAAAAAAAGs/xDieD5Uc3sg/s72-c/DG+Bank+Indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2536598416872509819</id><published>2008-12-02T11:46:00.001+07:00</published><updated>2008-12-02T11:52:21.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perekonomian Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Century'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krisis perbankan'/><title type='text'>Setelah Bank Century, amankah bank kita?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STS9ul3qz6I/AAAAAAAAAGQ/kkZCeEh9JMs/s1600-h/century.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 188px; height: 95px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STS9ul3qz6I/AAAAAAAAAGQ/kkZCeEh9JMs/s200/century.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275049671694929826" /&gt;&lt;/a&gt; Setelah Bank Century diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), beberapa nasabah bank kerap bertanya pada saya, apakah akan ada bank lain yang menyusul? Atau, masih amankah bank di Indonesia? Mereka khawatir dan ingin segera memindahkan dananya pada bank yang lebih aman. Kekhawatiran mereka tentu boleh boleh saja. Tapi sebenarnya ada satu hal menarik yang dapat kita lihat dari kasus Bank Century. Hal itu adalah tidak terjadinya gejolak yang berlebihan pada nasabah bank di Indonesia. Padahal, masalah bank gagal adalah sesuatu yang sangat sensitif dalam sebuah krisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan, saat krisis perbankan terjadi di tahun 1997/98. Kekacauan merembet ke segala sendi kehidupan, berawal dari ditutupnya 16 bank umum. Nasabah beramai-ramai menyerbu dan menarik dana dari bank. Terjadilah rush. Namun kini, saat mendengar Bank Century diserahkan pada LPS, masyarakat relatif tenang dan tidak terjadi rush secara besar-besaran. Di satu sisi, hal ini melegakan karena menunjukkan betapa sigap dan antisipatifnya Pemerintah dalam menyikapi krisis yang terjadi. Meski demikian, kita merasakan bahwa kepercayaan masih belum sepenuhnya pulih. Nasabah masih ragu, bahkan ada yang diam-diam memindahkan dananya ke bank-bank yang dianggap aman atau bahkan ke luar negeri. Adanya kasus bank yang gagal, melemahnya nilai tukar, dan krisis global yang masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, menjadi alasan yang kuat bagi para nasabah bank untuk menjadi ragu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri perbankan Indonesia menguasai lebih 90 persen dari keseluruhan industri keuangan saat ini. Sedangkan pasar modal, asuransi, dana pensiun, dan lain-lain menempati sisanya yang amat kecil. Tak heran saat indeks saham melorot tajam, hanya para investor yang panik, sementara kehidupan masyarakat tak serta merta terganggu.  Namun saat ada satu bank yang bermasalah, nasabah bank sontak resah. Masalah bank adalah masalah kita semua karena menyangkut dana kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang menimpa bank berawal dari krisis global yang  menyebabkan tekanan pada pasar uang di dalam negeri. Muncul keraguan antar pelaku pasar uang rupiah yang pada akhirnya meningkatkan sekat-sekat antar bank di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Transaksi antar bank tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kalau kita lihat selama September s.d November 2008, rata-rata volume transaksi PUAB rupiah per hari menurun drastis. Hal ini menyebabkan suku bunga PUAB meningkat secara cepat. Dalam kondisi demikian, bank bisa saja mengalami kesulitan dalam memperoleh dana di PUAB. Kesulitan ini akan diperparah apabila ada isu dan rumor yang berkembang di masyarakat sehingga terjadi penarikan dana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Bank Century dihadapkan pada masalah serius sehingga harus diambil alih LPS, bukan berarti bank lain juga demikian. Secara fundamental, saat ini ketahanan perbankan Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan kinerja yang positif di tengah berbagai gejolak global. Selain itu, respon pemerintah dan Bank Indonesia guna menghindari risiko sistemik melalui Perppu JPSK, Perppu Amandemen UU BI (perluasan kolateral), dan Perppu LPS juga dinilai tepat waktu. Mekanisme permasalahan yang terjadi pada Bank Century dapat diselesaikan tanpa menimbulkan gejolak yang berlebih. Adanya penjaminan dana nasabah sampai dengan Rp2 milyar, meski banyak yang berharap untuk ditingkatkan menjadi penjaminan penuh, juga masih mampu menghindari kepanikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena tekanan krisis global, ada dua hal yang menjadi penyebab krisis pada perbankan kita. Pertama, krisis disebabkan oleh masalah internal bank. Misalnya, kejahatan bank dan good governance yang buruk. Kedua, krisis perbankan disebabkan oleh kepanikan para nasabah dan pemilik modal. Perilaku mania dan panik akan memperparah krisis. Perbankan di satu sisi dapat menjadi sumber krisis, seperti yang terjadi pada tahun 1997/98. Namun perbankan, di sisi lain, dapat juga menjadi obat penyembuh krisis. Bila bank sehat, solid, dan dipercaya masyarakat, peranannya dalam membawa kita keluar dari krisis sangat besar. Untuk itu, kepada perbankanlah tertumpu harapan bangsa ini untuk menjadi pendorong kegiatan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih amankah bank kita? Secara fundamental dapat dijawab masih. Namun jawaban sebenarnya terletak pada kepercayaan kita sendiri pada perbankan. Adagium lama mengatakan bahwa Bank adalah bisnis kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak ada bank. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2536598416872509819?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2536598416872509819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2536598416872509819' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2536598416872509819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2536598416872509819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/12/setelah-bank-century-amankah-bank-kita.html' title='Setelah Bank Century, amankah bank kita?'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/STS9ul3qz6I/AAAAAAAAAGQ/kkZCeEh9JMs/s72-c/century.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6237801971803134160</id><published>2008-11-27T08:11:00.000+07:00</published><updated>2008-11-27T08:14:07.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proyeksi ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aji belut putih'/><title type='text'>Aji Belut Putih dan Proyeksi Ekonomi 2009</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SS30BqvN0HI/AAAAAAAAAGI/dyVAO3nWTOM/s1600-h/dursasana.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SS30BqvN0HI/AAAAAAAAAGI/dyVAO3nWTOM/s200/dursasana.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273139048210092146" /&gt;&lt;/a&gt; Memasuki tahun 2009 biasanya media massa akan diramaikan oleh ramalan-ramalan tentang perekonomian. Para ekonom, lembaga riset, pemerintah dan bank sentral, akan membuat berbagai ramalan dan prediksi tentang perekonomian Indonesia. Mengapa kita membuat ramalan ekonomi? Dan bagaimana proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun 2009? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum sampai ke sana, saya teringat cerita guru saya tentang “Aji Belut Putih”. Dalam kisah pewayangan, ada tokoh yang mempunyai ilmu ”aji belut putih”. Namanya Dursasana. Dia satu-satunya tokoh setingkat menteri di Kerajaan Astina yang menguasai ajian itu. Namanya juga aji belut, kemampuannyapun selicin belut. Dengan kemampuannya itulah Dursasana bermulut besar kemana-mana. Saat perang, ia selalu bisa berkelit dan menghindar. Begitu licinnya, ia selalu lolos dari sergapan lawan-lawannya. Di era masa kini, aji belut putih dikuasai oleh banyak orang. Dalam ekonomi, pemiliknya di berbagai kalangan, bahkan di level menteri, seperti Dursasana. Di level tekhnis, merekalah para ekonom dan economic forecaster (peramal proyeksi ekonomi). Secara rutin mereka mampu membuat berbagai kebijakan dan proyeksi ekonomi. Kebijakan mereka selicin belut. Mereka mampu membuat proyeksi dan mampu menjelaskan kenapa proyeksinya meleset. Meski kerap meleset, belum pernah ada forecaster atau peramal ekonomi yang ditangkap karena kesalahannya itu. Bayangkan kalau itu terjadi pada profesi dokter yang meleset dalam mendiagnosis pasiennya. Pasti dituduh malpraktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti layaknya astrolog yang gemar meramal masa depan dengan rasi bintang, ataupun astronom yang mampu melakukan ramalan cuaca, demikian pula para ekonom. Kalau kita serahkan peran itu kepada mereka secara bergantian, ekonom menjadi astronom dan sebaliknya, mungkin hidup kita tak akan lebih jelek. Mereka sama-sama bisa membuat ramalan, namun pada ujungnya, sama-sama tak bisa dipegang. Dan tentu, mereka tak bisa dimintai pertanggungjawaban. Hal ini karena ramalan yang dibuat para astronom didasari oleh sekumpulan sensasi, dan ramalan ekonom didasari oleh serangkaian asumsi. Akibatnya menjadi sangat mekanistis dan fragil. Begitu asumsi berubah, demikian pula angka ramalan. Kita melihat beberapa kali angka ramalan tentang ekonomi diganti dan diperbarui. Gejolak krisis keuangan yang terjadi, harga minyak dan komoditi, serta volume perdagangan dunia yang bergejolak, menjadikan ramalan ekonomi berubah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa kita masih membutuhkan ramalan? Ramalan dibutuhkan untuk ketenangan. Secara naluriah, manusia memiliki semacam perasaan cemas akan masa depan. Apakah hari esok masih ada, kita tak pernah tahu. Ramalan membuat tenang diri kita dari berbagai kecemasan itu. Dengan adanya ramalan ekonomi, kita bisa membuat perencanaan. Dunia usaha bisa membuat proyeksi usaha, perbankan bisa membuat business plan, dan rumah tangga bisa mengatur ekonominya. Ramalan menjadi penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ramalan ekonomi untuk tahun 2009? Mari kita tunggu hasil proyeksi dari para ekonom. Secara umum, saya melihat akan ada sebuah benang merah yang hampir sama. Hal ini karena para forecaster itu pada prinsipnya memiliki etos “saling intip”. Mereka akan saling telpon dan diskusi sehingga ramalannya akan tak jauh beda. Kebanyakan akan mengatakan bahwa proyeksi perekonomian Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun. Perbedaan mungkin akan muncul pada angka atau penurunannya. Termasuk pada komponen atau faktor permintaan dan penawaran dari pertumbuhan ekonomi kita. Namun semangatnya sama. Ada pelesuan. Kalangan yang optimis, akan melihat kekuatan ekonomi dalam negeri sebagai nilai positif. Adanya pemilu akan meningkatkan gairah ekonomi rakyat. Selain itu, negara mitra dagang tak semuanya amblas. Mereka akan memandang bahwa ekspor masih tetap tumbuh dan menopang ekonomi. Namun kalangan yang pesimis, akan melihat melemahnya ekonomi dunia sebagai pemicu semakin lemahnya ekonomi Indonesia. Negara mitra dagang di seluruh dunia mengalami resesi. Akibatnya jelas, ekonomi kita akan turut melemah dan tak bergairah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada banyak pandangan, akan ada banyak asumsi, dan akan ada banyak argumen, tentang proyeksi ekonomi 2009. Namun itulah ramalan ekonomi. Dengan ramalan itu, kebijakan akan disusun oleh para ekonom. Tentu kita berharap bahwa kebijakan ekonomi itu dapat mengatasi dua titik hitam besar dalam proses pembangunan ekonomi kita, yaitu pengangguran dan kemiskinan. Mungkinkah? Selamat menanti hasil ramalan para ekonom.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6237801971803134160?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6237801971803134160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6237801971803134160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6237801971803134160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6237801971803134160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/aji-belut-putih-dan-proyeksi-ekonomi.html' title='Aji Belut Putih dan Proyeksi Ekonomi 2009'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SS30BqvN0HI/AAAAAAAAAGI/dyVAO3nWTOM/s72-c/dursasana.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1107448068845734187</id><published>2008-11-23T10:07:00.001+07:00</published><updated>2008-11-23T20:04:07.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prabowo Subianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sistem Ekonomi Indonesia'/><title type='text'>Prabowonomics dan Salam dari Petani Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSjLvYPR_fI/AAAAAAAAAGA/Q353K6QWDEs/s1600-h/sm1prabowo26.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSjLvYPR_fI/AAAAAAAAAGA/Q353K6QWDEs/s200/sm1prabowo26.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271687378658000370" /&gt;&lt;/a&gt; Inilah ide besar program ekonomi yang saya pandang menarik untuk dicermati. Meski masih abstrak, ide Prabowo Subianto cukup cerdas, “Saya menyampaikan salam dari petani Indonesia!!”.  Terkesan metaforis dan normatif? Tidak juga. Justru pesan dari iklan itu sangat dalam. Di tengah krisis keuangan global yang merambat ke berbagai sisi kehidupan, isu kerakyatan seolah semakin mendapat tempat. Ide-ide untuk membangun strategi ekonomi mandiri, menanamkan kembali kapital pada tanah dan tenaga kerja, dan menolak neoliberalisme, seperti oase bagi ratusan juta masyarakat Indonesia. Dalam bahasa yang berbeda, tema ini sebenarnya juga menjadi pilihan program ekonomi partai-partai politik untuk mendulang suara pada pemilu 2009. Namun upaya untuk fokus membangun kekuatan di kalangan petani, umkm,  nelayan, dan pedagang eceran, adalah sebuah pilihan yang “sexy” di tengah gejolak pasar keuangan saat ini. Jumlah sektoralnya yang besar, penyerapan tenaga kerja yang luas, sumbangannya pada PDB, telah menjadikan sektor pertanian sebagai buffer atau penopang kehidupan rakyat bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingat kisah perdebatan tentang sistem ekonomi Indonesia, salah satu kubunya dulu dimotori oleh Prof. Emil Salim, Prof. Mubyarto, dan Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo. Pemikiran mereka  adalah sebuah sistem ekonomi kerakyatan yang menganut azas-azas pertautan sila Pancasila. Namun memang kata-kata “Pancasila” kerap memiliki makna yang berbeda dalam penangkapan masyarakat. Sistem itupun akhirnya masih berada pada taraf “normatif” hingga saat ini dan belum mampu menjawab dinamika riil ekonomi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Prabowo akan membumikan impian sang ayah tentang sistem ekonomi Indonesia? Kita tak tahu. Deklarasi Gerindra hanya mengungkapkan pentingnya ekonomi kerakyatan dan kecaman bahwa ekonomi pasar telah memporakporandakan perekonomian bangsa (Deklarasi Gerindra, Februari 2008). Prabowo mengajak bangsa ini untuk meninjau ulang Sistem Ekonomi Indonesia. Namun seperti apakah sebenarnya Sistem Ekonomi Indonesia itu?  Kita menyadari bahwa dalam perjalanan waktu, Sistem Ekonomi Indonesia senantiasa berada dalam kegamangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans Seda misalnya, mengatakan bahwa Sistem Ekonomi Indonesia adalah “bukanisme”, bukan ini dan bukan itu, yaitu paham serba bukan. Bukan kapitalisme, bukan liberalisme, bukan sosialisme, tidak ada monopoli, tidak ada oligopoli, tidak ada machiavelli, dan tidak lainnya.  Kwik Kian Gie mengatakan bahwa sistem ekonomi seperti itu adalah sebuah utopia yang dihuni hanya oleh para malaikat.  Meski demikian, banyak pihak yang melihat bahwa dinamika perekonomian Indonesia saat ini telah semakin terbuka dan condong “ke kanan”. Krisis keuangan yang terjadi di pasar uang saat ini misalnya, menunjukkan bahwa keterbukaan itu memiliki dampak serius. Memang masih bisa diperdebatkan, namun dengan dianutnya pasar bebas, upaya privatisasi, dan pasar keuangan yang semakin terbuka, kecondongan “ke kanan” tersebut semakin dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alm. Prof. Mubyarto menyimpulkan bahwa sistem ekonomi yang diterapkan selama 32 tahun Orde Baru memang tidak berpihak pada kepentingan rakyat banyak dan mengabaikan nilai-nilai keadilan. Tapi benarkah bila kita menerapkan ekonomi kerakyatan secara konsisten maka krisis ekonomi dengan sendirinya akan berakhir? Jawabnya tak mudah. Namun, pilihan untuk membawa bangsa ini berdiri tegak secara ekonomi menuntut banyak hal. Berbagai hal harus dipilih, seperti struktur pengambilan keputusan, mekanisme pasar ataukah perencanaan, bagaimana pengaturan hak-hak milik, dan sistem insentif. Tidak mudah. Oleh karenanya, sekiranya Prabowo Subianto dapat menjabarkan ide besar Prabowonomics itu dalam sebuah langkah konkrit yang detil dan jelas,tentu akan sangat menarik. Cetak biru ekonomi kerakyatan dari Gerindra masih perlu kita tunggu.  Bila tidak, pada ujungnya tak jauh beda dengan yang kebanyakan. Berhenti di tataran normatif dan metaforis. Dan bila itu yang terjadi, salam dari petani  tinggal salam belaka. Salam yang mengambang selama puluhan tahun tak berbalas. Mudah-mudahan para pemimpin bangsa bisa bersama membawa kita keluar dari krisis ekonomi yang membelit ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1107448068845734187?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1107448068845734187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1107448068845734187' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1107448068845734187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1107448068845734187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/prabowonomics-dan-salam-dari-petani.html' title='Prabowonomics dan Salam dari Petani Indonesia'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSjLvYPR_fI/AAAAAAAAAGA/Q353K6QWDEs/s72-c/sm1prabowo26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4086343079785652838</id><published>2008-11-16T19:41:00.000+07:00</published><updated>2008-11-16T19:49:12.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spekulan valas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rupiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='homo homini lupus'/><title type='text'>Serigala Spekulan Valas</title><content type='html'>“&lt;em&gt;Manusia adalah serigala bagi sesamanya&lt;/em&gt;”  (Thomas Hobbes, Leviathan : 1651)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSAVP7naSEI/AAAAAAAAAFw/9cZAfiBUGDk/s1600-h/select_lorjou_homo_homini.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSAVP7naSEI/AAAAAAAAAFw/9cZAfiBUGDk/s200/select_lorjou_homo_homini.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269234927468693570" /&gt;&lt;/a&gt; Pasar valas adalah ruang bebas bagi para spekulan valas. Keuntungan yang berlipat dalam waktu singkat telah menggiurkan liur para serigala untuk beramai-ramai berspekulasi di pasar valas. Mereka bermain dengan memanfaatkan momentum krisis global.  Hal yang menarik, perilaku itu tak melanggar Undang-undang. Hanya hukum moral yang kerap dipertanyakan, selebihnya adalah konsekuensi dari pasar bebas. Kebebasan itu, menurut Hobbes, membawa naluri manusia sebagai serigala bagi sesamanya (homo homini lupus)dapat tumbuh dan melahirkan perang semua melawan semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran yang diposting dalam diskusi di blog Kompasiana beberapa waktu lalu, terbukti sudah (lihat :&lt;a href="http://pepihnugraha.kompasiana.com/2008/10/07/apa-yang-harus-dilakukan-saat-rupiah-tembus-10000dollar-as/"&gt;&lt;/a&gt; Andai Rupiah menembus Rp10.000/USD).  Rupiah akhirnya menembus Rp 10.000 perdollar AS, bahkan pekan lalu sempat diperdagangkan pada level Rp 12.000 per dollar AS. Volume perdagangan di pasar valas kita yang tipis memang menjadikan Rupiah rentan. Krisis global telah mendorong para investor global untuk memindahkan portfolio mereka dari Indonesia (flight to quality). Hal ini memicu capital outflow yang tak terbendung, terutama di SBI dan SUN. Rupiah melemah lebih dari 15% dalam satu bulan terakhir.  Faktor fundamental perekonomian Indonesia yang relatif kuat, imbal hasil rupiah yang masih tinggi, seolah tak mampu menahan aliran modal keluar. Di tengah tekanan yang dahsyat seperti itu, indikasi terakhir menunjukkan bahwa beberapa pihak mencoba untuk mengeruk keuntungan. Mereka memborong valas tanpa alasan dalam jumlah besar yang pada gilirannya memberi tekanan berlebihan pada rupiah. Rupiah yang terpuruk makin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi yang terjadi belakangan ini, rasanya sulit mengharapkan Rupiah kembali ke level Rp 9500 per dollar AS. Kita seolah menyaksikan teatrikal geliat rupiah yang fluktuatif dan mencoba menemukan keseimbangan barunya. Pelemahan rupiah ini sungguh mencemaskan. Melemahnya rupiah akan berdampak pada kenaikan harga-harga (harga barang impor menjadi mahal). Dunia usaha yang tergantung pada bahan baku impor, akan mengalami kesulitan. Dan sebaran efeknya tentu akan mempersulit kehidupan perekonomian negeri. Hal ini pernah kita alami pada tahun 1998 dan 2005, saat rupiah juga menembus Rp10.000 per dollar AS. Meski di satu sisi pelemahan rupiah menguntungkan eksportir, melemahnya ekonomi dunia saat ini menyebabkan ekspor juga akan melambat. Akibatnya, pelemahan rupiah yang fluktuatif lebih banyak menimbulkan kesulitan bagi perbankan dan perekonomian secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem devisa bebas yang dianut oleh Indonesia memang membebaskan setiap penduduk dalam memiliki dan menggunakan devisa. Kebebasan ini tentu menyimpan risiko. Apabila andaian antropologis terhadap manusia adalah seperti yang diungkapkan oleh Hobbes, bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya, maka kebebasan mengandung risiko. Rupiah yang bergejolak dan melemah secara inheren akan didomplengi oleh perilaku para spekulan yang mengeruk keuntungan. Tak ada aturan untuk mencegah aksi mereka. Di Malaysia dan Thailand kebijakan kontrol devisa atau kontrol kapital (capital control) diterapkan untuk membungkam para spekulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tentu berbeda. Undang-undang kita masih memberikan kebebasan setiap individu atau badan usaha untuk memperoleh dan menggunakan valas. Saat ini sistem itu dirasakan masih cocok oleh Indonesia. Namun, kebebasan tetap harus diberi rambu. Bebas bukan berarti bebas tanpa batas semau-maunya. Inilah esensi kebebasan yang paling hakiki. Tata cara pemilikan valas perlu diatur. Kebijakan untuk mengatur pembelian valas (bukan melarang) lebih dari USD100.000 per  bulan bagi nasabah individu atau badan usaha, adalah sebuah langkah yang berani di tengah suasana seperti ini. Bagaimana efektivitasnya? Tentu masih harus kita lihat di waktu waktu ke depan. Namun kita memiliki harap, jangan sampai pelemahan rupiah yang disebabkan oleh faktor global juga dimanfaatkan oleh segelintir serigala yang mencari keuntungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4086343079785652838?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4086343079785652838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4086343079785652838' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4086343079785652838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4086343079785652838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/serigala-spekulan-valas.html' title='Serigala Spekulan Valas'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SSAVP7naSEI/AAAAAAAAAFw/9cZAfiBUGDk/s72-c/select_lorjou_homo_homini.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-8505523051225459088</id><published>2008-11-12T16:15:00.001+07:00</published><updated>2008-11-12T16:16:43.374+07:00</updated><title type='text'>Quantum of Solace dan Ekonomi "Kegenitan"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRqe38K6yvI/AAAAAAAAAFo/9PfWKPsOBHU/s1600-h/quantum-of-solace.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRqe38K6yvI/AAAAAAAAAFo/9PfWKPsOBHU/s200/quantum-of-solace.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267697398045133554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah nonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace? Bagi penggemar film Bond klasik, film ini akan mengecewakan. Tak ada lagi gadget canggih. Tak ada lagi keglamouran. Dan yang terpenting, tak ada lagi kegenitan. Yang muncul adalah sisi manusiawi dari James Bond. Ia tampil sebagai sosok jiwa yang terkoyak, terluka, cinta, dendam, dikhianati, bahkan dipecat dari pekerjaannya. Meski demikian, film ini mengusung sebuah tema yang menarik dan patut kita renungkan bersama. Salah satu yang membuat film ini menarik adalah karena Bond mengajak kita pada sebuah pertanyaan filosofis tentang bahaya korporatokrasi. Hal ini menjadi semakin relevan dengan kondisi perekonomian dunia yang sedang dilanda krisis saat ini. Korporatokrasi adalah sebuah istilah baru dimana pemerintah suatu negara dalam menjalankan kebijakannya didominasi oleh pengaruh korporasi dan kalangan pemodal. Kepentingan mereka selalu didahulukan di atas kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegenitan James Bond mungkin berkurang, namun kegenitan baru muncul. Itulah kegenitan korporasi raksasa bernama Greene Planet Corporation. Adalah Dominic Greene, pemilik Greene Planet Corporation, yang berpidato kesana kemari mendukung penghijauan bumi. Namun di sisi lain ia juga mendukung aksi kudeta di Bolivia, demi mendapatkan kuasa atas pengelolaan air di negeri tersebut. CIA, MI-6, Pemerintah Amerika, dan Pemerintah Inggris, semuanya memiliki kepentingan yang sama. Greene yang jahat, menjadi tidak jahat, selama kepentingannya sama. Dalam film itu, Pemerintah Inggrispun mengatakan kepada M, ”Benar salah bukan suatu ukuran, kita bertindak atas dasar kebutuhan”. Selama kudeta di Bolivia menguntungkan kepentingan mereka, aksi korporasi ini perlu didukung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mengingatkan kita pada aksi para Economic Hit Man yang bukunya ditulis oleh John Perkins. Di buku itu, John Perkins mengangkat masalah korporasi yang menguasai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, demi kepentingan negara maju. Saat Korporatokrasi menguasai rezim pemerintahan suatu negara, kedaulatan pemerintah akan berkurang. Ekonomi kemudian akan diisi oleh ”kegenitan-kegenitan” baru. Berbagai jargon yang mengatasnamakan rakyat akan dikeluarkan namun pada intinya mereka mendahulukan kepentingan korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film, Jendral Medrano adalah orang yang didukung oleh Greene untuk melakukan kudeta di Bolivia. Tak setuju, Bondpun akhirnya harus dipecat karena tidak mengikuti perintah atasan. Film ini memang mencuatkan idealisme Bond. Meski dibayangi oleh dendam atas kematian kekasihnya, Bond akhirnya menghabisi Greene bersama dengan semangat korporatokrasi. Bahaya korporatokrasi itu pernah terlihat di negara-negara Amerika Latin. Itulah alasan bangkitnya gerakan neososialisme. Evo Morales menjadi Presiden dengan semangat sosialisme. Fernando Lugo muncul di Paraguay juga mengusung semangat ini. Di Venezuela, kita melihat sosok Hugo Sanchez. Bagaimana di Indonesia? Pertanyaannya harus kita kembalikan, apakah korporatokrasi ada di negeri ini? Adakah kekuatan kapital, pemilik modal, menguasai jalannya pemerintahan? Kita tak pernah tahu. Pak Prayitno Ramelan, blogger yang juga pengamat piawai di bidang intelijen, mungkin lebih memahami permasalahan ini. Karena ini memang urusan intelijen. Namun dari sisi ekonomi, korporatokrasi perlu kita waspadai. Hal ini bisa merugikan kehidupan rakyat secara keseluruhan dan tentunya bertentangan dengan semangat para pendiri bangsa.  Cita-cita mereka yang mendambakan terwujudnya masyarakat Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Selamat menonton Quantum of Solace....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-8505523051225459088?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/8505523051225459088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=8505523051225459088' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8505523051225459088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8505523051225459088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/quantum-of-solace-dan-ekonomi-kegenitan.html' title='Quantum of Solace dan Ekonomi &quot;Kegenitan&quot;'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRqe38K6yvI/AAAAAAAAAFo/9PfWKPsOBHU/s72-c/quantum-of-solace.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2690828481011873606</id><published>2008-11-09T21:38:00.000+07:00</published><updated>2008-11-09T21:43:03.670+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik dan Bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lehman Brothers'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bakrie Brothers'/><title type='text'>Dari Lehman Brothers ke Bakrie Brothers</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRb23H4YNOI/AAAAAAAAAFg/YSP-OT6cRtY/s1600-h/lehman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRb23H4YNOI/AAAAAAAAAFg/YSP-OT6cRtY/s200/lehman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266668241125127394" /&gt;&lt;/a&gt; Membandingkan Lehman Brothers dan Bakrie Brothers tentu bukan sebuah perbandingan “apple to apple”. Namun keduanya memiliki kesamaan, usaha mereka besar dan ekspansif, memiliki usia dan pengalaman yang panjang, dan sama-sama menjadi korban terjangan krisis finansial global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1845, Henry dan Mayer Lehman mendirikan Lehman Brothers. Bisnis awalnya adalah perdagangan kapas. Usaha Lehman kemudian berkembang pesat menjauhi bisnis kapas. Dan tahun 2008, Lehman Brothers terhempas. Tahun 1942, Achmad Bakrie mendirikan Bakrie Brothers. Bisnis awalnya adalah perdagangan kopi. Usahanya berkembang pesat merambah semua sektor. Dan tahun 2008, krisis kembali menghempas. Saham Bakrie Brothers amblas. Lehman Brothers dililit utang sampai 613 miliar dollar AS. Sahamnya amblas dari 94 dolar AS/ler lembar menjadi hanya 29 sen/lembar. Sementara Bakrie Brothers dililit utang 1,2 miliar dollar AS. Harga saham yang dimiliki Bakrie pun ikut amblas.  Saham Bumi meluncur bebas dari Rp 8550/ lembar, menjadi hanya sekitar Rp 2000/lembar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ekonomi yang berkembang pesat sering memperumit persoalan sehingga kita kerap kehilangan kejernihan dalam melihat pokok permasalahannya. Dalam ilmu ekonomi dasar, ada satu paradigma klasik yang dipertahankan berabad-abad. Itulah kaitan intrinsik antara 3 faktor dalam proses produksi. Bila kita ingin menghasilkan produk dari kapas atau kopi, kita membutuhkan relasi antara 3 hal: modal finansial (money/capital), tenaga kerja (labor), dan tanah (land) sebagai sebuah situs untuk berproduksi. Munculnya teknologi adalah ekstensi dari ketiga hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan ketiganya bersifat intrinsik, dalam arti proses produksi dapat terjadi dan memberi kesejahteraan apabila ketiganya bertaut. Ditemukannya uang dan inovasi finansial telah mengubah segalanya. Berkembangnya pasar finansial telah membawa modal finansial pergi jauh meninggalkan tenaga kerja dan tanah. Globalisasi telah memperumit persoalan. Agenda kapitalisme dan neoliberalisme semakin melepas kinerja modal/uang dari kaitan intrinsiknya dengan tanah dan tenaga kerja. Kalangan bisnis dan pemilik modal semakin memperbesar kekuatan modalnya di pasar-pasar keuangan dan bursa komoditas, baik melalui utang maupun permainan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar saham yang tujuan awalnya adalah tempat investasi telah berubah menjadi ajang judi (J.M.Keynes, 1934). Bisnis, menurut Georg Simmel dalam bukunya The Philosophy of Money, pada awalnya bukan semata mencari keuntungan.  Bisnis memiliki fungsi sosial.  Ia menganjurkan agar modal finansial juga didukung oleh ketertanaman nilai pada masyarakat. Uang lahir dari semangat solidaritas sosial.  Untuk menjaga keseimbangan, diciptakan badan publik. Keberadaan badan publik (pemerintah ataupun otoritas) adalah untuk menyeimbangkan kepentingan masyarakat dan pebisnis. Setiap masyarakat modern dibangun di atas perimbangan antara masyarakat, pasar, dan badan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadi sulit apabila kepentingan bisnis dan politik menjadi satu. Masyarakat akan ditinggalkan di sisi lain dari variabel ekonomi. Majalah The Economist pernah menulis bagaimana bahayanya poros kekuatan yang hanya bertumpu pada kekuatan politik dan bisnis hingga meninggalkan masyarakat. “&lt;em&gt;The main dangers to the success of capitalism are the very people who would consider themselves its most ardent advocates: the bosses of the companies, the owners of companies, and politicians who tirelessly insist that they are pro business&lt;/em&gt;”  (The Economist, 28/6/2003). Perimbangan kekuatan antara politik, bisnis, dan komunitas masyarakat adalah sebuah jalan penentu sehat tidaknya sebuah perekonomian. Runtuhnya Lehman Brothers dan prahara yang menimpa Bakrie Brothers menjadi semacam penanda betapa rumitnya hubungan antar poros dalam sistem perekonomian kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2690828481011873606?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2690828481011873606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2690828481011873606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2690828481011873606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2690828481011873606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/dari-lehman-brothers-ke-bakrie-brothers.html' title='Dari Lehman Brothers ke Bakrie Brothers'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SRb23H4YNOI/AAAAAAAAAFg/YSP-OT6cRtY/s72-c/lehman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6180127825409312384</id><published>2008-11-01T21:51:00.000+07:00</published><updated>2008-11-01T22:00:02.875+07:00</updated><title type='text'>Akankah Indonesia Kembali ke Pelukan IMF?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQxtUcIQGxI/AAAAAAAAAFM/bMKwYROfvFM/s1600-h/camdessus+imf.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263702262404881170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 184px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQxtUcIQGxI/AAAAAAAAAFM/bMKwYROfvFM/s200/camdessus+imf.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;IMF menjadi semacam mantra di krisis global yang penuh turbulensi saat ini. Perlahan tapi pasti, beberapa negara mulai masuk dalam program bantuan IMF. Eslandia, Ukrania, Hongaria telah menyerah pada krisis dan masuk menjadi pasien IMF. Eslandia menerima 2,1 miliar dollar AS, Ukraina menerima 16,5 miliar dollar AS, dan Hungaria menerima 25 miliar dollar AS dalam bentuk paket penyelamatan keuangan di bawah bendera Stand By Arrangement. Belarusia dan Pakistan adalah pasien selanjutnya. Mereka sudah angkat tangan melawan krisis. IMF memang menyediakan dana yang jumlahnya mencapai 200 miliar dollar AS untuk membantu negara anggotanya yang mengalami masalah likuiditas karena krisis global. Namun sebagai dokter, IMF tentu memberlakukan syarat-syarat ketat bagi pasien yang menerima pinjaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta bantuan IMF juga pernah dilakukan Indonesia saat krisis tahun 1997-8 lalu. Meski kita telah berhasil keluar dari program IMF pada tahun 2004, pengalaman pahit berada dalam program itu masih membekas dalam ingatan. Di bawah program IMF, keleluasaan kita dalam mengelola ekonomi sangat terbatas karena segala sesuatu harus dilakukan dengan persetujuan IMF terlebih dulu. Siapa pula tak ingat patahan peristiwa yang menyakitkan hati bangsa, saat Presiden RI menandatangani letter of Intent (LoI), sementara di sebelahnya Managing Director IMF berdiri angkuh sambil melipat tangan. Menyikapi krisis keuangan global terjadi belakangan ini, tentu wajar bila muncul kekhawatiran dan pertanyaan, akankah kita kembali pada pelukan IMF?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rute menuju IMF&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Secara umum, sebuah negara meminta bantuan IMF apabila negara tersebut secara berturut turut atau bersamaan mengalami overheating ekonomi (biasanya ditandai dengan inflasi yang tinggi), defisit pada neraca transaksi berjalan (bahkan beberapa negara mengalami twin deficit yang cukup besar), serta kesulitan memenuhi kewajiban utang luar negeri, termasuk utang luar negeri perbankan. Dengan kondisi fundamental ekonomi yang rapuh, gejolak ekonomi akan memberikan sentimen negatif pada negara tersebut. Hal itu kemudian mendorong terjadinya aliran keluar modal asing yang berakibat pada anjloknya harga saham, melemahnya nilai tukar, dan pada gilirannya meningkatkan credit default swap (ini adalah sebuah indikator premi risiko pada suatu negara). Menghadapi melemahnya nilai tukar, biasanya bank sentral akan melakukan intervensi guna menjaga kestabilan nilai tukar. Apabila terus menerus dilakukan, hal ini menyebabkan tergerusnya cadangan devisa. Akibatnya, rating negara tersebut akan menurun, upaya pembiayaan dan kepercayaan dari luar negeri semakin tertutup, dan ujungnya, bendera putihpun dikibarkan. Negara memanggil sang dokter IMF guna perawatan.Rute permasalahan seperti itulah yang dialami oleh kelima negara yang meminta bantuan IMF. Khusus untuk Pakistan, berbagai masalah itu ditambah lagi dengan munculnya instabilitas politik di negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan Indonesia?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ibarat penyakit, demam mulai dirasakan oleh ekonomi Indonesia. Rambatan krisis dari AS mengalir melalui sektor keuangan dan perlahan menyebar ke sektor lainnya. Perekonomian negeri mulai meriang. Kondisi pasar keuangan domestik mengalami tekanan tajam sehingga nilai tukar rupiah terdepresiasi, indeks harga saham turun, dan credit default swap meningkat. Indikator lainnya hampir serupa dengan yang dialami kelima negara di atas, pertumbuhan kredit melaju tinggi, cadangan devisa menurun, inflasi meningkat, dan terjadi defisit pada neraca transaksi berjalan setelah 10 tahun selalu mencatat surplus. Apabila diruntut, kondisi itu bagai rangkaian kereta yang menjalani rute menuju jurang. Akankah kita selamat? Atau apakah di ujung jalan nanti kita akan bertemu dengan sang dokter IMF? Jawabnya tak pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski secara umum hampir sama dengan apa yang dialami oleh kelima negara tadi, kondisi fundamental Indonesia masih sedikit lebih baik. Kondisi perbankan jauh lebih baik dibanding pada saat krisis. Berbagai indikator ketahanan menunjukkan bahwa industri perbankan kita saat ini lebih resilien. Eksposur pada utang luar negeri juga tidak separah pada saat 1998. Di sisi pertumbuhan ekonomi, kita masih melihat sebuah kegairahan dengan akan dilaksanakannya pemilu tahun depan. Hal ini diharapkan akan mendukung kuatnya konsumsi dan maraknya investasi domestik. Tekanan inflasi, yang menjadi akar dari permasalahan, juga diperkirakan menurun di tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQxtoCzM9jI/AAAAAAAAAFU/ArE0vZvPVP4/s1600-h/imf+98.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263702599203092018" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 223px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQxtoCzM9jI/AAAAAAAAAFU/ArE0vZvPVP4/s320/imf+98.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun jalan ke depan pasti tak mudah. Kita masih berada pada tahap awal krisis keuangan. Rambatannya masih bisa kemana-mana. Ujungnya kita belum tahu hendak kemana? Kita semua tentu tak ingin ini semua berujung pada sebuah mala.Kita tak ingin ada petaka lagi yang mengoyak dan mengguyah kehidupan rakyat. Berbagai langkah pemerintah untuk menanggapi gejala awal krisis tentu perlu kita beri apresiasi. Namun itu saja belum cukup. Langkah jangka panjang diperlukan. Selain itu, peranan elemen masyarakat juga penting. Saat ini, kita masih memiliki modal penting, yaitu kestabilan politik dan sosial. Tugas kita semua menjaga ketenangan ini terutama dalam menghadapi pemilu tahun depan. Apabila berbagai hal baik ini tak mampu kita jaga bersama, bukan tak mungkin kita akan mengatakan, “Welcome back Mister IMF...” &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6180127825409312384?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6180127825409312384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6180127825409312384' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6180127825409312384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6180127825409312384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/akankah-indonesia-kembali-ke-pelukan.html' title='Akankah Indonesia Kembali ke Pelukan IMF?'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQxtUcIQGxI/AAAAAAAAAFM/bMKwYROfvFM/s72-c/camdessus+imf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-1970461136880788718</id><published>2008-11-01T14:28:00.001+07:00</published><updated>2008-11-01T14:41:31.742+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bank sentral'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mistik kebijakan moneter'/><title type='text'>Mistik Bank Sentral</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQwHemcmJII/AAAAAAAAAFE/2Eiyu7NsD58/s1600-h/bernanke2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263590286787224706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 222px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQwHemcmJII/AAAAAAAAAFE/2Eiyu7NsD58/s320/bernanke2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bank Sentral adalah sebuah mistik. Oleh sebagian masyarakat bahkan menjadi sebuah mitos. Sulit memang menjelaskan pada masyarakat modern yang rasional saat ini. Di tengah masyarakat yang segala sesuatunya dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan rasional, mistik seolah kehilangan tempat. Namun di masyarakat arkhais (primitif-tradisional), mistik menjadi bagian dalam kehidupan. Segala fenomena yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat, langsung dikategorikan dalam tataran mistik. Mistik tak bisa dipandang lebih rendah dari rasio. Mistik adalah justru sebuah kerendahhatian dan kesadaran manusia bahwa ia tak mampu memahami semua persoalan di dunia ini. Dunia terlalu rumit untuk dijelaskan melulu melalui rasio. Keterbatasan rasio dalam memahami komplikasi dunia inilah yang membuat mistik tetap hidup hingga sekarang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di pasar keuangan, mistik juga ada. Mistik itu adalah bank sentral. Montagu Norman, Gubernur Bank of England di tahun 1921-1944 mengatakan,”Never explain, never excuse”. Bank sentral dikondisikan sebagai sebuah kekuatan supranatural yang bekerja di balik tembok dan mampu memengaruhi pasar keuangan. Bob Woodward (1978) dalam bukunya “The Secret of the Temple”, menulis tentang bagaimana mitos dibangun di Federal Reserve (Bank Sentral AS) yang diibaratkan sebagai Kuil Suci. Keyakinan yang dibangun adalah bahwa bank sentral akan beroperasi optimal apabila dianggap oleh pasar sebagai sebuah mitos yang memiliki kekuatan tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral AS, juga meyakini kemistikan bank sentral tersebut. Ucapannya yang terkenal adalah “Since I’ve become a central banker, I’ve learned to mumble with great coherence. If I seem unduly clear to you, you must have misunderstood what i said”. Intinya, Greenspan tak pernah sepenuhnya jelas dalam memberikan pernyataan. Sebagian pesannya dapat ditafsirkan berbeda. Meski tak dapat dipahami, selama 18 tahun masa kepemimpinannya, Greenspan memiliki nuansa profetik dalam setiap katanya. Words that move the market, kata-katanya mampu menggetarkan pasar keuangan. Ada semacam kekuatan supranatural di sana. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQwFlRnLj-I/AAAAAAAAAEk/Nf7hpFG36Dk/s1600-h/bernanke.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263588202430304226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQwFlRnLj-I/AAAAAAAAAEk/Nf7hpFG36Dk/s320/bernanke.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Adalah Ben Bernanke, Chairman The Fed yang baru, pengganti Greenspan, yang menjadi satu dari sekian orang yang tidak percaya pada mistik. Ia mencoba mendesakralisasikan mitos bank sentral. Pemikirannya yang akademis rasional mengatakan bahwa semakin transparan sebuah bank sentral, semakin efektiflah kebijakan. Menurutnya, zaman telah berubah, bank sentral tak bisa bekerja dengan tertutup lagi. Kebijakan moneter akan berjalan efektif kalau kita mampu mengkomunikasikan secara transparan arah, tujuan, alasan, rasional, dan metode pencapaian tujuan tersebut secara jelas ke masyarakat. Era transparansi dan komunikasi ini kemudian menjadi semacam keyword yang digunakan bank sentral di seluruh dunia. Pasar senang, media tenang, semua yang terjadi di bank sentral dapat serta merta dilihat dan didapat dengan mudah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sampai pada suatu hari, datanglah krisis keuangan global di AS. Desakralisasi bank sentral ini ternyata tak sepenuhnya menguntungkan. Di tengah kegamangan dan kepanikan pasar, yang muncul adalah irasionalitas. Irasionalitas adalah tataran mistik. Dan irasionalitas itu harus berhadapan dengan realita rasional dari bank sentral yang terbatas. Bank sentral kini sudah dipandang sebagai lembaga otoritas biasa yang tak punya kemampuan banyak. Transparansi, yang dilakukan selama ini, membawa pada sebuah kenyataan bahwa bank sentral tak dapat berbuat banyak. Minimnya instrumen moneter, dihadapkan pada semakin canggihnya instrumen keuangan, ibarat David melawan Goliath. Bank sentralpun kehilangan kredibilitas di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di Indonesia, hal ini ada baiknya kita renungkan bersama. Masyarakat kita masih butuh mistik. Sepanjang sejarah nusantara, mistik mewarnai kehidupan kita. Kisah-kisah satrio piningit, kesaktian ngarso dalem, wali nangroe, ratu adil, dll, lekat dalam realita masyarakat. Dalam kondisi tersebut, desakralisasi bank sentral tak sepenuhnya menguntungkan. Kemampuannya dalam mengendalikan pasar akan guyah. Kita masih butuh sebuah bank sentral yang memiliki kekuatan supranatural.. Transparansi di satu sisi, Mistik di sisi lain. Menyeimbangkan antara rasional dan mistik adalah sebuah pilihan, utamanya di Indonesia. Mungkin, hanya mungkin.....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-1970461136880788718?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/1970461136880788718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=1970461136880788718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1970461136880788718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/1970461136880788718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/11/mistik-bank-sentral.html' title='Mistik Bank Sentral'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ngs5z560qBs/SQwHemcmJII/AAAAAAAAAFE/2Eiyu7NsD58/s72-c/bernanke2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2600388968578092790</id><published>2008-10-26T07:16:00.000+07:00</published><updated>2008-10-26T07:34:32.254+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herd instinct'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasar Keuangan'/><title type='text'>Kegilaan di Pasar Keuangan</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Madness is rare in individuals, but in groups, parties, nations, and ages, it is the rule.”&lt;/em&gt;  - &lt;strong&gt;Friedrich Nietzsche&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita berkendara menerobos lampu merah? Namun kita melakukannya bukan karena situasi jalan yang sepi. Kita lakukan itu semata karena kita melihat ada kendaraan lain yang menerobos, kemudian diikuti oleh kendaraan-kendaraan lainnya. Di pasar keuangan, perilaku seperti itu dinamakan perilaku naluri kerumunan hewan (&lt;em&gt;herd instinct&lt;/em&gt;). Perilaku itulah yang menyebabkan pasar keuangan mengalami panik dan membuat pasar modal runtuh (&lt;em&gt;crash&lt;/em&gt;) ataupun nilai tukar amblas. Naluri kerumunan hewan yang biasa terjadi di pasar modal ataupun pasar uang sering membuat orang mencoba untuk ikut-ikutan. Mereka masuk ke pasar modal secara irasional dan membeli saham apa pun yang ada dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan besar. Ketika kemudian hasilnya tidak seperti yang diharapkan, mereka segera melepas kembali untuk mengurangi kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kita di tahun 1998 menunjukkan bahwa &lt;em&gt;herd instinct&lt;/em&gt; menjadi awal dari krisis ekonomi. Perilaku tersebut kembali terulang pada Oktober 2005 saat harga minyak dunia melonjak, dan Agustus 2007 saat krisis kredit hipotek perumahan AS (&lt;em&gt;subprime mortgage&lt;/em&gt;) terjadi. Tahun 2008 ini, hal itu terjadi lagi saat Bursa Efek Indonesia sempat dihentikan perdagangannya. Harga saham anjlok, semua orang secara panik melakukan aksi jual tanpa berpikir lagi. Terakhir, pekan lalu, saat nilai tukar rupiah menembus angka Rp10.000 per dollar AS. Semua orang, para profesional pasar keuangan, bahkan ibu rumah tangga, beramai-ramai menukar tabungannya ke dollar. Rupiah yang tertekan, makin tertekan. Mengapa para profesional pasar keuangan, bisa berperilaku seperti kawanan hewan yang ditandai oleh kegilaan dan kepanikan (&lt;em&gt;manias and panics&lt;/em&gt;)? Adakah cara mengatasi perilaku tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Profesional yang Rasional &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Friederich Hegel, seorang filsuf, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan memiliki kesadaran diri (&lt;em&gt;a rational and self conscious create&lt;/em&gt;). Sementara itu, Jack Bogle (1951), ekonom dari Princeton, mengatakan bahwa munculnya para profesional yang mengelola dana masyarakat di pasar keuangan (fund manager) akan melahirkan sebuah sebuah pasar yang tenang dan rasional. Dalam pandangan Bogle, profesional tersebut, memiliki kemampuan rasio dan pendidikan yang dapat mencegah pasar dari kegilaan dan kepanikan. Dan di tahun 1960, para akademisi di bidang keuangan meyakini bahwa para profesional akan menjaga harga saham sejalan dengan nilai bukunya. Hal ini bertentangan dengan pendapat John Maynard Keynes (1941) yang mengatakan bahwa pasar keuangan adalah sebuah kasino, kolam tempat spekulasi (&lt;em&gt;a 'casino,' a 'whirlpool of speculation&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan berjalannya waktu, ramalan Keynes terbukti lebih akurat. Krisis demi krisis terjadi disebabkan oleh perilaku tidak rasional dari para profesional. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan bahwa akal sehat bergantung pada situasi, namun rasio tidak bergantung pada situasi. Para profesional keuangan adalah juga manusia yang menjadi bagian dari pengambilan keputusan yang sama dengan investor-investor amatir. Apalagi mereka mengelola dana masyarakat. Jika mereka menentang pasar, risikonya adalah ditinggalkan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membangun Kepercayaan di antara Kerumunan Hewan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Krisis mengajarkan pada kita bahwa perilaku irasional justru memperparah krisis. Ketika irasionalitas itu mulai merambah pada aksi penarikan dana besar-besaran di bank (&lt;em&gt;rush&lt;/em&gt;), memburu dan menumpuk kebutuhan pokok, serta memborong barang tanpa berpikir, perekonomian dipastikan akan semakin sulit. Kita menyadari bahwa irasionalitas ini adalah sifat yang manusiawi. Ditambah lagi, kita hidup dalam dunia digital dan tekhnologi informasi yang semakin mengglobal. Ruang dan waktu terasa semakin sempit. Informasi, isu, gosip, begitu cepat bertebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi krisis keuangan saat ini, hal terpenting adalah membangun kredibilitas dan kepercayaan. Fukuyama mengatakan bahwa “&lt;em&gt;Trust is a Social Capital&lt;/em&gt;”, Kepercayaan adalah sebuah modal sosial. Bagaimana pemerintah dan otoritas mampu membangun kepercayaan adalah kunci utama kita dalam mengarungi krisis. Pemerintah diharapkan tidak menelurkan kebijakan yang panik dan blunder sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat. Hal ini menjadi penting mengingat kita juga akan menghadapi pesta demokrasi, dimana suasana dapat menghangat dan berbalik setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa adanya kepercayaan, yang terjadi adalah kekacauan. Hal ini juga dikatakan oleh salah seorang pejabat IMF, bahwa yang terjadi kini adalah “&lt;em&gt;loss of confidence, regardless the fundamental&lt;/em&gt;”, hilangnya kepercayaan tanpa memikirkan masalah fundamental sebenarnya. Statement itu benar adanya. Kalau melihat kondisi fundamental, saat ini perekonomian Indonesia sudah jauh lebih baik dibanding saat krisis 1997-8. Pemerintah juga lebih tanggap dalam menghadapi krisis. Upaya menjaga terus kepercayaan ini menjadi penting. Globalisasi memang penuh ambivalensi. Menghadapinya, kita harus rela menerima kenyataan bahwa kegilaan dan perilaku kerumunan hewan di pasar keuangan, ada dan tak terelakkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2600388968578092790?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2600388968578092790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2600388968578092790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2600388968578092790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2600388968578092790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/10/kegilaan-di-pasar-keuangan.html' title='Kegilaan di Pasar Keuangan'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2192850097844336665</id><published>2008-10-24T15:48:00.000+07:00</published><updated>2008-10-24T15:49:44.566+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='neoliberal'/><title type='text'>Indonesia Dalam Bayang Neoliberal</title><content type='html'>Apakah ada alternatif lain yang lebih baik dari neolib? Sejak Margaret Thatcher mengatakan T.I.N.A (There Is No Alternatives), neoliberal seolah menjadi pilihan niscaya bagi kemakmuran dunia. Neolib meyakinkan kita bahwa pilihan kebijakan untuk mengatasi kemiskinan di muka dunia adalah melalui perdagangan bebas (free trade) dan pasar bebas (free market). Segala upaya untuk menegakkan paham ini disebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai institusi internasional maupun pelajaran ekonomi di berbagai universitas. Arus modal yang bergerak bebas antar daerah dan negara, dipandang sebagai hal strategis yang harus dilakukan setiap negara. Berbagai rintangan yang menghambat gerak modal tersebut (seperti tariff, tax, dan kontrol lainnya) harus dihilangkan (David Harvey, 2005). Kedaulatan negara atas komoditas dan arus modal seolah menyerah pada kekuatan pasar global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal nyata yang terjadi kemudian adalah sebuah akumulasi modal yang luar biasa besarnya di pasar-pasar keuangan dunia. Akumulasi ini membalon sedemikian besar hingga pada akhirnya pecah saat krisis subprime mortgage menyeruak. Bangkrutnya Lehman Brothers pada akhir September 2008, melengkapi rentetan rontoknya lembaga-lembaga keuangan besar di dunia. Setelah Bear and Sterns, Fannie Mae, Fredie Mac, Indy Mac, Northern Rock, Merrill Lynch, hingga AIG, institusi keuangan global yang semula tampil bagai pilar yang kokoh, ternyata tak lebih dari sekedar buih yang rapuh. Wall Street yang selama ini diagung-agungkan sebagai fondasi hegemoni kapitalisme AS,  kini justru menjadi episentrum dari runtuhnya pasar keuangan global. Perkembangan yang begitu cepat dengan efek ramifikasi yang luas ke seluruh penjuru dunia membuat tak ada seorangpun yang berani meramalkan apa yang akan terjadi ke depan. Kita melihat krisis mengimbas ke pasar saham yang jatuh secara signifikan, diikuti oleh indeks-indeks di bursa-bursa saham seluruh dunia. Krisis tersebut memasuki periode yang makin berbahaya dengan nyaris lumpuhnya pasar surat utang karena investor di berbagai penjuru dunia yang panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi hal ini, apakah neolib menyerah? Menarik untuk membaca hasil pertemuan Presiden Bush dengan negara-negara G-20 di Washington DC tanggal 15 November lalu. Press Release yang dikeluarkan oleh Press Secretary, Dana Perino, menulis  "The summit will also provide an important opportunity for leaders to strengthen the underpinnings of capitalism by discussing how they can enhance their commitment to open, competitive economies, as well as trade and investment liberalization..." Intinya, neolib belum menyerah. Siaran pers itu mengingatkan bahwa jangan sampai krisis keuangan ini menodai semangat kapitalisme dan komitmen negara-negara pada sebuah ekonomi yang terbuka dan kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memang diombang ambing dalam ayunan globalisasi saat ini. Krisis keuangan yang terjadi di AS saat ini, serta merta memberi tekanan pada pasar keuangan RI. Jalur finansial dan jalur perdagangan internasional adalah jalan efek itu menyebar pada ekonomi kita. Globalisasi tak dapat kita hindari. Semangat neolib juga tak dapat begitu saja kita nafikkan. Hanya saja, kita punya pilihan. Bangsa Indonesia adalah bangsa berdaulat yang harus memilih jalannya sendiri dalam menyejahterakan rakyatnya. Krisis ini jangan dilihat sebagai bencana, namun sebuah peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut memberi apresiasi atas langkah yang tanggap dan cepat dari pemerintah bersama dengan Bank Indonesia dalam menyikapi dampak jangka pendek krisis keuangan ini. Langkah tersebut dilakukan secara tepat guna mengurangi kepanikan pasar.  Oleh karenanya, setelah berhasil dengan baik menelurkan kebijakan saat "dihantam badai", kebijakan "pasca badai"  perlu segera dirumuskan. Apa itu kebijakan "pasca badai"? itulah sebuah kebijakan yang menanamkan kembali sektor keuangan pada rahimnya sendiri, yaitu sektor riil. Ancaman dan bahaya neolib akan bisa dikurangi apabila kita melakukan kompromi dengan pasar. Krisis ini memberi pelajaran yang sangat berarti bagi kita bahwa sektor keuangan tak bisa melaju sendiri tanpa terkait pada sektor riil. Apabila kebijakan "pasca badai" dapat dirumuskan dan diaplikasikan dengan baik, kita berharap ekonomi Indonesia akan lebih berkesinambungan dan memberi kesejahteraan. Itulah peluang dari krisis keuangan AS saat ini. Tetap waspada pada paham neolib agar tidak mengguyah kedaulatan NKRI. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2192850097844336665?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2192850097844336665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2192850097844336665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2192850097844336665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2192850097844336665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/10/indonesia-dalam-bayang-neoliberal.html' title='Indonesia Dalam Bayang Neoliberal'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-9164439570630316778</id><published>2008-10-20T18:55:00.000+07:00</published><updated>2008-10-21T09:11:23.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krisis keuangan AS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Depresi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krisis moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stagflasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resesi'/><title type='text'>Empat Stadium Krisis Moneter</title><content type='html'>Salah satu dosen mata kuliah ekonomi saya, sembari santai bercerita bahwa krisis ekonomi itu mirip seperti kanker. Ada empat stadium yang berbeda-beda. Pengobatannyapun tergantung pada stadiumnya masing-masing. Yang paling parah bila krisis mencapai tahap kanker &lt;strong&gt;Stadium keempat.&lt;/strong&gt; Ini disebut dengan &lt;em&gt;Depresi&lt;/em&gt;. Depresi ditandai oleh amblasnya bursa saham, pasar keuangan, turunnya pertumbuhan, dan meluasnya pengangguran serta kemiskinan. Berbagai masalah sosialpun muncul. Hal ini pernah terjadi saat The Great Depresion tahun 1929-30 di AS. Ekonomi AS saat itu runtuh. &lt;strong&gt;Stadium ketiga&lt;/strong&gt;, adalah &lt;em&gt;Resesi&lt;/em&gt;. Kondisi ini ditandai oleh turunnya pertumbuhan ekonomi selama tiga triwulan berturut-turut. Dampaknya adalah pengangguran yang meningkat, kemiskinan yang meluas, dan kehidupan yang bertambah sulit. Apabila tidak ditangani dengan baik, resesi akan berakhir depresi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Stadium kedua&lt;/strong&gt;, adalah &lt;em&gt;Stagflasi&lt;/em&gt;. Periode ini terjadi ketika inflasi dan stagnasi (yaitu, menurunnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pengangguran) terjadi secara bersamaan. Istilah stagflasi pertama kali disebutkan oleh United Kingdom Chancellor of the Exchequer Iain MacLeod dalam pidatonya di hadapan parlemen pada tahun 1965. "Stag" berasal dari suku kata pertama "Stagnasi", yang merujuk pada menurunnya kondisi ekonomi, sementara "flasi" berasal dari suku kata kedua dan ketiga "inflasi", yang merujuk pada naiknya harga barang-barang secara umum dan terjadi secara terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Stadium pertama,&lt;/strong&gt; ini yang paling penting kita cermati, adalah&lt;em&gt; Emosi&lt;/em&gt;. Nah, stadium inilah yang saat ini menimpa ekonomi Indonesia. Saat ini muncul kekhawatiran dan kepanikan dari pelaku pasar akan dampak krisis AS terhadap perekonomian domestik. Terjadilah luapan emosi atau irasionalitas dari pasar. Ditutupnya Bursa Efek Indonesia, melemahnya nilai tukar, adalah cerminan kepanikan dari pelaku pasar. Inilah emosi. Menghadapi emosi, kepala dingin sangat diperlukan. Kita patut memberi apresiasi pada otoritas pemerintah maupun moneter yang tidak terbawa emosi. Di saat krisis merebak, berbagai persoalan jangka pendek segera ditangani dengan tanggap. Upaya penyediaan Perpu Jaring Pengaman Sektor Keuangan dinilai sebagai kebijakan yang tanggap cepat. Yang menarik juga adalah upaya BI dalam menenangkan pasar dengan mengeluarkan beberapa paket kebijakan pelonggaran likuiditas untuk menyelesaikan masalah keketatan likuiditas di perbankan dalam jangka pendek. Selain itu, upaya meningkatkan batas maksimum penjaminan dana nasabah di bank, dari Rp100 juta ke Rp 2 milyar dianggap mampu menenangkan pasar. Bayangkan bila kebijakan ini baru diambil saat terjadi bank rush seperti tahun 1998. Tentu tak akan kredibel. Inilah langkah yang pre-emptive. Dilakukan sebelum emosi meledak. Mudah-mudahan krisis dapat kita lewati dengan baik dan tidak berkembang biak bagai kanker hingga stadium empat. &lt;em&gt;Naudzubillahi min dzalik&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-9164439570630316778?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/9164439570630316778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=9164439570630316778' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9164439570630316778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/9164439570630316778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/10/empat-stadium-krisis-moneter.html' title='Empat Stadium Krisis Moneter'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-8846026463989994966</id><published>2008-10-20T16:47:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T18:10:36.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BI Rate'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank Indonesia'/><title type='text'>Blunder [kah] Bank Indonesia?</title><content type='html'>“&lt;em&gt;The Job of a central bank is to worry...”, &lt;/em&gt;demikian adagium yang sering diucapkan tentang tugas bank sentral. Menghadapi krisis keuangan yang terjadi di AS akhir-akhir ini, bank sentral kembali berada dalam sorotan. Tak terkecuali di Indonesia. Kebijakan Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate menjadi 9,5% bulan Oktober 2008, menuai kritik dan kecaman. Di tengah penurunan suku bunga yang dilakukan di negara-negara lain, di tengah ancaman resesi dunia dan perlambatan ekonomi, mengapa BI justru menaikkan BI Rate? Langkah ini dianggap sebagai langkah yang egois, blunder, dan tidak memikirkan kehidupan masyarakat kebanyakan. Bank Indonesia dihadapkan pada sebuah risiko kredibilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BI Rate yang blunder?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Henry Paulson, menteri keuangan AS, saat mengumumkan paket &lt;em&gt;bail out &lt;/em&gt;sebesar 700 miliar dollar AS, kira-kira mengatakan bahwa setiap negara memiliki karakteristiknya sendiri. Inti dari pernyataan Menkeu AS tersebut, bijaklah dalam mengadopsi kebijakan. Krisis yang mengimbas dan menyebar dirasakan berbeda oleh masing-masing negara. Ketahanan, kondisi, dan kekuatan masing-masing akan sangat menentukan sampai seberapa ia bertahan. Indonesia adalah sebuah keunikan tersendiri. Saat ekonomi dunia melesu sejak pertengahan 2007 lalu, perekonomian domestik justru melaju kencang. Ancaman resesi yang dirasakan oleh negara lain, tidak serta merta dirasakan di Indonesia. Hal ini diindikasikan oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi dalam tujuh triwulan terakhir. Dalam kurun itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru melejit pada kisaran di atas 6%. Padahal saat itu, banyak negara mengoreksi pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor utama tingginya pertumbuhan adalah konsumsi masyarakat dan ekspor yang tinggi seiring dengan tingginya harga komoditas internasional. Selain itu, dukungan dari kredit perbankan yang tumbuh lebih dari 32% pertahun menjadi pendorong meningkatnya permintaan. Konsumsi masyarakat menjadi sumber utama pemicu kuatnya pertumbuhan ekonomi. Dengan jumlah rakyat lebih dari 200 juta, konsumsi memang motor pertumbuhan kita. Apabila kita melihat secara sektoral, laju sektor properti tumbuh pesat mencapai 8% setahun. Pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor, juga terus meningkat di seluruh Indonesia. Tidak ada yang salah memang dengan pertumbuhan dari sisi permintaan ini. Namun permintaan yang melaju eksesif akan sangat membahayakan perekonomian apabila tidak diimbangi oleh pasokan memadai dari sisi penawaran. Hal itu akan membawa ekonomi pada sebuah guyah ketidakstabilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, harga komoditas dunia mulai menurun. Imbasnya adalah ekspor kita yang juga menurun yang akan berdampak pada prospek pertumbuhan ke depan. Namun, permintaan domestik masih tinggi. Hal ini pada gilirannya juga meningkatkan impor, baik untuk bahan baku dan modal, maupun barang konsumsi. Akibatnya, terjadi tekanan di Neraca Pembayaran Indonesia. Defisit transaksi berjalan mulai terjadi pada triwulan II-2008. Seiring dengan itu, nilai tukar mulai melemah. Ekspektasi inflasi juga meningkat. Hal ini menjadi sebuah penanda akan perlunya kita mencermati ketahanan perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kebijakan menaikkan BI Rate nampaknya dilandasi oleh sebuah &lt;em&gt;raison d’etre &lt;/em&gt;yang jelas, dan bukan saran dari IMF seperti yang dituding beberapa pihak. Tingginya permintaan, masih tingginya ekspektasi inflasi, dan dampak dari kenaikan harga barang impor seiring dengan melemahnya rupiah, menjadi hal yang perlu diwaspadai. Reaktif? BI melakukan kenaikan BI Rate sejak bulan Mei 2008, di saat negara lain masih mencermati perkembangan global. Langkah ini dinilai kalangan investor sebagai langkah proaktif. Credo-nya jelas, permintaan yang terlalu tinggi, terutama dari kalangan menengah ke atas, perlu dikendalikan guna menjaga kestabilan bagi kepentingan masyarakat secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BI Rate ke depan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi dampak dari krisis keuangan AS ke depan, tentu fokus utama yang perlu dipikirkan adalah menjaga stabilitas perekonomian. Kestabilan ini menjadi penting karena ia adalah sebuah &lt;em&gt;element of continuity &lt;/em&gt;yang perlu kita jaga bersama. Pengalaman krisis 1997-8 perlu menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak “blunder” dalam mengambil kebijakan. Sumber-sumber masalah, utamanya sumber ketidakstabilan ekonomi dan inflasi, perlu ditelisik dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah berupaya menyelesaikan berbagai masalah mendesak akibat dampak krisis AS. BI Rate adalah sebuah instrumen kebijakan moneter yang merupakan respon dari &lt;em&gt;state of the economy &lt;/em&gt;dan signal bagi pencapaian inflasi ke depan. Berbagai tekanan pada kestabilan dan prospek inflasi tercermin pada keputusan BI Rate. Namun, BI Rate tak dapat berdiri sendiri. Ia harus didukung oleh instrumen moneter lain yang dimiliki oleh bank sentral, seperti intervensi valas, moral suasion, manajemen likuiditas, dan GWM. Oleh karenanya, upaya untuk melihat dampak kebijakan dalam spektrum menengah panjang menjadi penting. Tentu, orkestrasi kebijakan BI yang selaras diharapkan tidak memberi sinyal yang membingungkan dan berdampak negatif bagi masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-8846026463989994966?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/8846026463989994966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=8846026463989994966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8846026463989994966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/8846026463989994966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/10/blunder-kah-bank-indonesia.html' title='Blunder [kah] Bank Indonesia?'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6296521723085896126</id><published>2008-10-12T07:55:00.000+07:00</published><updated>2008-10-12T08:17:02.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krisis keuangan AS'/><title type='text'>"Tanggap ing Sasmita" Krisis Keuangan AS</title><content type='html'>Rabu sore, 17 September 2008, artis jelita Christy Carlson Romano direncanakan hadir untuk membunyikan bel penutupan di lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE).  Kehadiran Christy sekaligus menandai debutnya di pertunjukan musikal Broadway “Avenue Q”.  Dalam pertunjukan itu, ia memainkan dua peran, seorang guru taman kanak-kanak yang romantis dan penyanyi klub malam yang menggoda. Namun realita tak demikian, sore itu bukan Christy Carlson Romano, melainkan seorang petugas NYSE yang muncul sebentar untuk membunyikan bel penutupan perdagangan. Bel berbunyi dan dia menghilang. Lantai saham senyap, hening, tak ada lambaian, tak ada tepukan, hanya ada keterdiaman.  Sore itu, bukan hanya di Amerika Serikat, namun di pasar keuangan seluruh dunia, gairah untuk tertawa seolah raib bersama ambruknya Lehman Brothers. Keruntuhan Lehman Brothers tersebut menyusul rentetan ambruknya lembaga-lembaga keuangan global lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya seluruh mata dunia menatap perkembangan yang terjadi di AS dari detik ke detik. Pengambilan keputusan untuk memberikan dana talangan (bail out) sebesar USD 700 miliar oleh DPR AS menjadi momen yang paling dinantikan oleh dunia.  Saat RUU paket dana talangan itu disetujui, terselip sedikit nafas lega akan sebuah harapan, meski  itu masih jauh dari penyelesaian krisis. Rambatan krisis tersebut terus dirasakan di Eropa, Asia, dan pada ujungnya membuat “meriang” perekonomian Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dampak krisis global ke Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara ekonomi terbuka tak dapat dipungkiri berada dalam ayunan globalisasi. Kemana ayunan itu mengarah, kesana kita dibawa. Dampak langsungnya adalah penyesuaian portfolio para investor asing di pasar keuangan. Akibatnya kita saksikan sendiri bagaimana IHSG tertekan, yield SUN jangka pendek meningkat, dan pada gilirannya terjadi tekanan di pasar reksadana. Paniknya pasar menyebabkan Bursa Efek Indonesia harus "tutup" perdagangan. Rupiahpun melemah tak terkontrol mengikuti ayunan pelemahan global. Wajar ini terjadi, karena besarnya kepemilikan saham asing di bursa efek Indonesia, yang saat ini berjumlah 64% dari total kepemilikan. Selain itu, dana asing di pasar SUN dan SBI yang saat ini berjumlah sekitar 14 miliar dollar AS juga sungguh mengkhawatirkan. Komposisi portfolio ini di satu sisi membawa dampak positif karena membawa likuiditas berupa aliran modal masuk. Namun dana ini juga sewaktu-waktu dapat berbalik arah (capital outflow) dan merugikan perekonomian negeri sebagaimana yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain , krisis keuangan di AS tersebut juga  berdampak pada kinerja perekonomian Indonesia, khususnya yang tercermin di sisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Apabila krisis keuangan global ini berlanjut, ekspor Indonesia akan tertekan dan memengaruhi kinerja NPI. Ekspor kita saat ini masih mengandalkan pada sektor yang berbasis sumber daya alam dan peningkatan harga komoditas internasional. Melemahnya ekonomi global dan turunnya harga komoditas pada gilirannya  tentu akan menurunkan ekspor. Alhasil, peranan ekspor yang selama ini menjadi  cushion bagi perekonomian nasional  akan berkurang. Sementara itu, masih tingginya permintaan di dalam negeri mendorong meningkatnya impor barang-barang dari luar negeri yang kemudian akan menekan posisi transaksi berjalan dalam jangka pendek.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hikmah dari krisis keuangan AS&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi perkembangan yang terjadi tersebut? Tentu kita harus bersikap reflektif dan terbuka. Dalam jangka pendek ,  apa yang terjadi di AS memang memberi  tekanan pada ekonomi domestik. Namun sebenarnya, krisis tersebut dapat menjadi sebuah momentum yang tepat bagi kita untuk memantapkan langkah dalam membangun ekonomi negeri. Kita seolah diingatkan bahwa upaya membesarkan sektor keuangan harus seiring dengan upaya membangun ekonomi di sektor riil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita memiliki fondasi kestabilan makroekonomi yang jauh lebih baik dibanding setelah krisis.  Bahkan di tengah tekanan krisis global seperti ini,  ekonomi kita masih dapat tumbuh pada kisaran 6 persen. Pertumbuhan ini harus dapat terus memberi manfaat khususnya pada kehidupan rakyat berupa penurunan kemiskinan dan pengangguran. Tidak ada jalan lain selain memperbaiki kinerja ekonomi kita. Pertama, upaya meningkatkan kinerja sektor riil, membangun daya saing dan diversifikasi ekspor, memperkuat basis UMKM khususnya pertanian dan kelautan dalam menyerap tenaga kerja, serta memicu investasi adalah langkah yang tak dapat ditawar lagi. Harus diakui bahwa peningkatan kinerja ekonomi kita saat ini bukan ditunjang sepenuhnya oleh peningkatan sektor riil, tetapi oleh peningkatan harga komoditas dan kinerja sektor keuangan. Memang terkesan klasik dan membosankan, namun hal ini harus terus dikumandangkan. Upaya melakukan penanaman kembali (re-embeddedness) sektor keuangan pada sektor riil adalah hakikat asali dari sebuah pembangunan ekonomi. Kedua, meneruskan  kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten dan  berhati-hati dan berpihak pada rakyat. Kebijakan yang ditempuh oleh otoritas saat ini dinilai sudah mampu memberikan ketenangan pada pasar karena sifatnya yang konsisten, berhati-hati, dan market friendly. Hal ini merupakan modal kepercayaan para investor terhadap pengelolaan ekonomi makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita perlu &lt;em&gt;tanggap ing sasmita&lt;/em&gt; atau mampu menangkap tanda-tanda yang  diberikan alam. Krisis AS adalah sebuah penanda bagi kita semua dalam melakukan refleksi akan pengelolaan ekonomi negeri . Kita pernah diberikan penanda melalui krisis tahun 1997/98, kita diingatkan kembali dengan krisis keuangan di AS tahun 2007/08. Jangan sampai ada peringatan ketiga. Karena saat itu datang, bisa jadi kita sudah terlambat dalam membenahi ekonomi negeri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6296521723085896126?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6296521723085896126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6296521723085896126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6296521723085896126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6296521723085896126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/10/tanggap-ing-sasmita-krisis-keuangan-as.html' title='&quot;Tanggap ing Sasmita&quot; Krisis Keuangan AS'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4382419299332908528</id><published>2008-07-27T11:51:00.000+07:00</published><updated>2008-07-27T11:55:33.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebijakan Moneter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inflasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BI Rate'/><title type='text'>BI Rate di tengah Prahara Inflasi</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tulisan ini dimuat di Harian Investor, 22 Juli 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menarik mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia  Juli 2008 yang kembali menaikkan BI rate sebesar 25 bps. Kenaikan tersebut dilatarbelakangi oleh masih tingginya risiko perekonomian global dan tekanan inflasi ke depan. Hal ini masuk akal, mengingat inflasi sampai bulan Juni 2008 tercatat sudah mencapai 11,03% (yoy). Bank Indonesia bahkan memerkirakan inflasi di tahun 2008 akan mencapai 11,5-12,5%  atau jauh melampaui targetnya yang sebesar 5+1%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kebijakan tersebut dapat dilihat sebagai sebuah kebijakan yang terukur dan berhati-hati. BI Rate tidak dinaikkan secara agresif mengikuti credo atau cardinal rule dari mekanisme Inflation Targeting Framework (ITF). Dalam ITF, apabila tekanan inflasi meningkat, obat mujarabnya adalah menaikkan suku bunga. Nampaknya aturan tersebut tidak diikuti secara membabi buta oleh Bank Indonesia. BI Rate tetap naik, namun kenaikannya perlahan dalam magnitude 25 bps selama tiga bulan terakhir ini. Di sisi lain, akibatnya adalah, kebijakan menaikkan BI Rate tersebut dinilai oleh beberapa pelaku pasar sebagai sebuah kebijakan yang terlambat dan terlalu sedikit (too little, too late). Bahkan ada yang  mengatakan bahwa BI sudah behind the curve dalam menyikapi inflasi kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BI Rate, too little too late&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang mengatakan bahwa kebijakan BI sudah behind the curve tersebut didasari oleh pemikiran tentang mulai meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat serta tekanan sisi permintaan dalam perekonomian (aggregate demand). Apabila kenaikan permintaan tersebut tidak diimbangi secara setangkup oleh sisi penawaran, secara alamiah yang terjadi adalah kenaikan harga-harga atau inflasi. Peranan sisi permintaan memang diprakirakan masih akan kuat di tahun 2008. Survei penjualan eceran pada triwulan II-2008  mengindikasikan bahwa penjualan riil masih meningkat 4,8% (yoy). Penjualan barang elektronik dan kendaraan bermotor  juga masih menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan. Apabila dilihat secara sektoral, pertumbuhan yang cukup tinggi berasal dari sektor properti yang tercermin dari peningkatan kredit properti yang pesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya tekanan sisi permintaan itu juga dipicu oleh tingginya angka pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai 31,4% (yoy).  Tingginya pertumbuhan kredit perbankan tersebut masih didominasi oleh kredit konsumsi, bukan kredit modal kerja dan kredit investasi.  Pertumbuhan kredit konsumsi inilah yang perlu diwaspadai mengingat sifatnya yang begitu sensitif pada pembentukan inflasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal di atas  tentu menimbulkan kekhawatiran akan memanasnya ekonomi apabila tidak diikuti oleh respon yang tepat dari  kebijakan moneter. Namun sejauh mana tekanan ini perlu direspon, dan bagaimana menyeimbangkan respon kebijakan moneter antara pengendalian inflasi dan kinerja ekonomi, tentu menjadi hal yang harus dipikirkan di negeri ini. Oleh karenanya, upaya membedah secara tepat sumber-sumber  tekanan inflasi menjadi penting untuk menghindari assesment yang kurang tepat dalam menyikapi tingginya tekanan inflasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber tekanan inflasi di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, laju inflasi dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, inflasi dipengaruhi oleh harga komoditas makanan yang bergejolak (volatile food). Apabila terjadi kenaikan harga komoditas makanan tertentu, seperti minyak goreng, kedelai, terigu dll, inflasi akan melonjak.  Kedua, inflasi dipengaruhi oleh harga kelompok komoditas yang diatur oleh Pemerintah (administered prices), seperti harga BBM dan listrik. Kenaikan harga BBM sebesar 28,7% lalu misalnya, secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak terhadap inflasi IHK sekitar 2,86% untuk first round dan second round effect. Ketiga, inflasi dipengaruhi oleh faktor inflasi inti (core inflation). Inflasi inti ini terdiri dari keseimbangan permintaan dan penawaran (output gap), inflasi yang disebabkan oleh faktor eksternal (imported inflation), seperti dampak kenaikan harga komoditas internasional, melemahnya nilai tukar rupiah, serta berasal dari ekspektasi inflasi masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber tekanan inflasi tersebut, inflasi di Indonesia saat ini terutama didorong oleh dampak dari kenaikan BBM, volatile food, dan masih tingginya imported inflation. Hal ini menunjukkan bahwa komponen terbesar dari penyebab inflasi di Indonesia berasal dari sisi nonfundamental.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlunya Perkakas Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi sumber tekanan inflasi tersebut, kebijakan moneter dihadapkan pada sebuah pilihan kebijakan. Dalam mekanisme ITF, respon yang paling tepat dari kenaikan inflasi adalah menaikkan suku bunga. Namun diskresi terletak pada berapa besar magnitude kenaikan suku bunga tersebut. Hal inilah yang perlu menjadi pertimbangan dari kebijakan moneter di Indonesia. Tingkat inflasi yang berlebihan akan semakin memperlambat gerak perekonomian negeri. Namun di sisi lain, respon kebijakan moneter yang berlebihan (overkill) juga akan mengganggu pergerakan ekonomi tersebut. Dalam aras eksistensi paling dasar, menurunnya daya beli masyarakat dan melambatnya perekonomian akan menambah berat beban kehidupan yang harus dipikul masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, upaya mengendalikan inflasi perlu dilakukan secara berhati-hati. Kebijakan moneter perlu mendeteksi secara jelas sumber-sumber tekanan inflasi sebelum memberikan responnya. Seberapa jauh peningkatan aggregate demand (sisi permintaan) memiliki dampak pada inflasi dan akibatnya pula pada pertumbuhan ekonomi. Kenaikan BI Rate sebesar 25 bps bulan ini sebenarnya telah memberikan sinyal kehati-hatian tersebut. Kenaikan BI Rate tidak dilakukan oleh Bank Indonesia secara membabi buta (excessive and aggresive) dan mekanistis dalam menyikapi tingginya inflasi. BI Rate juga tidak menjadi satu-satunya perkakas yang bekerja sendiri. Ia juga diimbangi oleh perkakas moneter lainnya seperti penyerapan ekses likuiditas, sterilisasi valas, dan mengoptimalkan OPT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya keterkaitan inflasi dengan produktifitas dan efisiensi perekonomian menunjukkan bahwa langkah menurunkan inflasi harus senantiasa dilakukan secara berimbang. Sementara itu, adanya keterkaitan antara inflasi dengan aspek-aspek struktural memberi implikasi bahwa pengendaliannya membutuhkan koordinasi yang terpadu antara seluruh elemen bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4382419299332908528?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4382419299332908528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4382419299332908528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4382419299332908528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4382419299332908528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/07/bi-rate-di-tengah-prahara-inflasi.html' title='BI Rate di tengah Prahara Inflasi'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2501808190240744617</id><published>2008-07-26T22:53:00.001+07:00</published><updated>2008-07-26T23:10:20.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='finansial global'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem keuangan'/><title type='text'>Indonesia dalam Sistem Finansial Global</title><content type='html'>&lt;em&gt;dimuat di harian Investor, 12 Mei 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan sistem keuangan global yang selama diagungkan, ternyata tak lebih dari sekadar buih (bubble) yang rapuh. Bagai racun yang bekerja cepat, gejala ini menebarkan kekhawatiran ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita sadari dalam menyikapi dampak rambatan dari krisis global saat ini adalah sebuah kenyataan bahwa sektor finansial telah mendominasi sektor perekonomian lainnya. Hal inilah yang mengakibatkan rentannya sistem keuangan Amerika Serikat saat menghadapi gejolak yang bersumber dari subprime mortgage. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat buih itu pecah, perekonomian AS terseret ke dalam arus ancaman resesi. Bisnis buih di pasar keuangan bagaikan bom waktu yang potensinya sangat besar dalam melelehkan seluruh sistem keuangan global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Gerard Dumenil dan Dominique Lévy (2001), dua ekonom dari Centre National de la Recherche Scientifique, Paris, menunjukkan bahwa globalisasi sistem keuangan dunia bercirikan pada sebuah dominasi kekuasaan finansial atas sektor ekonomi lain. Dominasi sektor keuangan ini menggelembungkan transaksi finansial, sehingga menjadi buih besar yang rapuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B Herry Priyono mengistilahkan ‘sektor finansial’ (finance) sebagai praktik manajemen mutakhir atas kinerja reksa dana, dana pensiun, asuransi, commercial dan investment banking, sekuritas, dan sebagainya. Sektor inilah yang membentuk modal serta melakukan permainan atas sektor barang dan riil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar modal yang cita-cita luhurnya dimaksudkan sebagai strategi pembentukan modal bagi investasi, dalam globalisasi dewasa ini justru tumbuh menjadi pasar judi. Hal ini menjadikan sektor itu dapat menggembung menjadi buih dalam pusaran spekulasi. Buih dapat diciptakan dalam pasar keuangan demi keuntungan para pemilik kapital. Pada tataran ini, perekonomian Indonesia tak terhindarkan dari pusarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aliran Dana Asing &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2007 yang diluncurkan belum lama ini, Bank Indonesia menyebutkan bahwa tantangan bagi perekonomian ke depan tidaklah ringan. Secara implisit terlihat bahwa dominasi sektor keuangan atas sektor riil juga terjadi di Indonesia. Kekhawatiran akan terjadinya pelarian dana asing dari Indonesia mengemuka dalam beberapa pemikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana asing berjangka pendek pada perekonomian Indonesia jumlahnya memang cukup besar, sekitar US$ 15 miliar. Total volume transaksi valas di pasar spot sepanjang tahun 2007 mencapai US$ 561 miliar, atau meningkat hampir 50% dibanding tahun sebelumnya. Perkembangan ini sebagian besar didorong oleh masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, arus keluar yang terjadi pada pertengahan tahun 2007 tentu berdampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan, terutama memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Dampak lanjutan pelemahan nilai tukar ini merambat ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari meningkatnya harga-harga hingga pada keresahan pada lapis masyarakat yang paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode terjadinya krisis subprime mortgage, selera risiko dari para investor global terhadap aset di negara seperti Indonesia menurun drastis. Hal itu berkolerasi erat dengan perkembangan nilai tukar rupiah. Menyikapi fenomena yang terjadi, kita perlu mewaspadai dan mencermati dampak kuasa finansial tersebut pada perekonomian Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemilik modal asing lebih menempatkan perspektifnya pada keuntungan yang mereka dapat dari penanaman modal mereka. Tapi begitu prospek ekonomi atau pengelolaan ekonomi suatu negara memburuk, tanpa ayal, mereka akan keluar setiap saat. Kita patut bersyukur bahwa meski pasar keuangan Indonesia turut terkena imbas krisis di AS, sampai saat ini dampak yang ditimbulkannya masih dapat diminimalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemodal asing masih bertahan dalam menanamkan dananya di negeri ini. Kondisi fundamental ekonomi yang didukung pengelolaan kebijakan makroekonomi yang semakin membaik menjadikan perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap kejutan eksternal. Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya di mana kejutan eksternal langsung menimbulkan gejolak berkepanjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita tetap perlu mewaspadai dampak krisis global yang ternyata lebih dalam dan luas dari perkiraan. Hal serius yang nyata di hadapan kita adalah betapa sektor finansial dapat menciptakan buih yang bisa meletus setiap saat. Oleh karenanya, upaya kita menyeimbangkan pergerakan di pasar finansial dengan kerja nyata di sektor riil menjadi sebuah hal yang tak dapat ditunda lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekonstruksi dan rekonstruksi kebijakan publik Kita menyadari bahwa tidak ada satu negara pun di dunia ini yang dapat menahan dan menutup diri dari perkembangan global. Di satu sisi perkembangan global memberi manfaat bagi negeri, tapi di sisi lain ia bisa jadi sebuah petaka. Pusaran resesi global yang berdampak luas pada banyak negara, termasuk Indonesia, menjadi contoh petaka yang dapat dibawa oleh perekonomian global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para pemangku kebijakan dituntut lebih berani melakukan terobosan. Kebijakan makroekonomi perlu diambil dengan lebih arif dan keberanian mengambil risiko perlu dilakukan jika memang itu demi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Akhirnya perlu bergerak keluar dari cateris paribus yang diyakininya selama ini, khususnya menyikapi kekuasaan modal, dominasi sektor finansial, dan globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun setelah krisis adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengisi dekade-dekade ke depan dengan kerja keras dan kerja kolektif serta sikap saling mendukung guna mencapai suatu kehidupan yang lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2501808190240744617?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2501808190240744617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2501808190240744617' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2501808190240744617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2501808190240744617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/07/indonesia-dalam-sistem-finansial-global.html' title='Indonesia dalam Sistem Finansial Global'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-4250117511134779844</id><published>2008-07-26T22:43:00.000+07:00</published><updated>2008-07-26T22:46:46.728+07:00</updated><title type='text'>Mampukah Meretas Jalan Sendiri?</title><content type='html'>Kerap dikatakan bahwa untuk keluar dari keterperangkapan kita pada globalisasi, kapitalisme, dan neoliberalisme, kita perlu meretas jalan alternatif. Jalan, yang bukan sekedar meniru resep atau mengadopsi kebijakan negara lain. Namun, adakah sebenarnya jalan sendiri itu? Atau memang benar apa yang diistilahkan Francis Fukuyama, End of History,  kapitalisme adalah ideologi terakhir bagi manusia. Sebagaimana juga yang dikatakan Margaret Thatcher tentang neoliberalisme, bahwa T.I.N.A (There Is No Alternatives). Kita menghadapi jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan pasar memang seolah tidak mengijinkan jalan keluar. Theodor Adorno dan Max Horkheimer, tokoh sentral The Frankfurt School, dalam bukunya Dialectic of The Enlightment berupaya mengkritik keras kapitalisme yang dikatakan predatoris dan banyak memakan korban. Mereka, yang juga dikenal sebagai kaum Kiri Baru (New Left) mencoba mencari jalan alternatif dari kekuatan tersebut. Tapi, mereka seolah mengalami jalan buntu (aphoria). Kenyataannya adalah bahwa kapitalisme telah melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan zaman, sehingga menjadi sistem yang paling masuk akal saat ini. Kekuatan arus bawah (unterbau) yang dulu dikumandangkan Karl Marx sebagai penyeimbang kekuatan suprastruktur (uberbau), telah menyesuaikan diri dalam arus kapitalisme. Fenomena inilah yang membuat Adorno dan Horkheimer putus asa dan pesimis. Kebanyakan masyarakatpun mulai mengamini pemikiran bahwa ideologi lain sudah tak perlu diperjuangkan lagi. Kapitalisme telah membuktikan keberhasilan dan terbukti membawa kemakmuran bagi umat manusia. Bahwasanya terjadi ketimpangan pendapatan dan kemiskinan, bukan kegagalan kapitalisme, namun lebih kepada disfungsional dari sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kebijakan Menendang Tangga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang mempelajari ekonomi dan sejarah tentu ingat dengan Alexander Hamilton, Menteri Keuangan pertama Amerika Serikat, yang mencetuskan ide awal “industri proteksi”. Ia menolak petuah Adam Smith tentang perdagangan bebas. Menurut Hamilton, perdagangan bebas tidak akan membawa kebaikan bagi negara berkembang seperti Amerika Serikat pada masa itu. Friedrich List, di tahun 1841, kemudian menuangkan diagnosis masyhur tentang strategi “menendang tangga” (kicking away the ladder) yang dilakukan Amerika Serikat dan Inggris. Ia menulis, “adalah siasat yang sangat umum dipakai, ketika seseorang telah mencapai puncak kejayaan, ia tendang tangga yang ia pakai untuk memanjat. Ia lenyapkan tangga itu agar pihak lain tidak  bisa mengejarnya. Lalu ia berkhotbah kepada bangsa-bangsa lain tentang keuntungan perdagangan bebas, sambil berpura-pura menyesal bahwa selama ini telah menempuh jalan yang salah”. Tampak jelas di sini, doktrin perdagangan bebas, yang dianggap berstatus ilmiah sebagai dalil sejarah, bukannya tidak melibatkan strategi Negara-negara adidaya yang “menendang tangga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktin itulah yang ditanamkan oleh negara maju ke negara berkembang. Kita dihadapkan pada sebuah realita bahwa kekuatan pasar jangan dilawan. Dalam rangka menanggulangi krisis ekonomi yang dialami oleh beberapa negara kita mengenal paket kebijakan Konsensus Washington. Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural di negara yang terkena krisis meliputi : (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya, (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan, (3) pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan, dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN. Langkah itu ditempuh dan terbukti secara perlahan membawa beberapa negara keluar dari krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kekuatan Pasar atas ekonomi&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Bukti lain kuatnya kapitalisme dan neoliberalisme terlihat dari kekuatan sektor finansial atas sektor lainnya. Krisis subprime mortgage dan meningkatnya harga komoditas telah mengguncang pasar keuangan di berbagai negara. Bagi negara emerging market, dampaknya beragam. Namun upaya untuk tetap menjaga kredibilitas dan kepercayaan pasar adalah kredo yang dipegang oleh para pengambil kebijakan. Kebijakan yang kurang tepat, seketika akan dihukum oleh pasar. Akhirnya, langkah yang bersahabat dengan pasar akan menjadi pilihan bagi para pengambil kebijakan. Ada tiga hal yang menunjukkan kuatnya tekanan pasar atas ekonomi negara berkembang. Pertama, saat krisis melanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menerobos Jalan Buntu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan kungkungan dan kekuatan dari Globalisasi dan paham neoliberalisme tersebut, sulit rasanya menemukan jalan alternatif. Kita telah digiring ke dalam paradigma dan keyakinan bahwa inilah jalan terbaik yang ada saat ini. Rute dan pilihan kebijakan yang ditempuh otoritas sekalipun, tak terlepas dari jalur mainstream. Semenjak krisis, kita semakin melihat betapa institusi publik menerapkan resep dan jalan sebagaimana yang diresepkan oleh negara-negara adidaya. Upaya menjaga kepentingan pasar menjadi syarat dalam kebijakan apapun yang diambil. Di sini, kita tidak melihat adanya jalan alternatif? Kita, seperti Adorno dan Horkheimer, menghadapi jalan buntu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, haruskah kita berhenti? Tentu langkah kompromi perlu ditempuh. Semangat yang digaungkan Habermas melalu dikursi dan komunikasi. Ujungnya, tak semata pemerintah dan otoritas yang memiliki. Keberanian dari masyarkaat akar rumput untuk mencari jalan alternative ini menjadi penting. Kekuatan masyarkaat amadani, kekuatan UMKM, kepedulian masyarkata, kaum ibu, professional kantoran, mereka adalah sebuah kekuatan besar untuk mengatasi jeratan neoliberalisma. Dengan dan atau tanpa restu pemerintah, mereka  adalah jalan alternatif. Sebagaimana seorang pengembara dalam sebuah sajakn Robert Frost, The Road Not Taken, tiba di ujung jalan yang kebetulan bercabang dua.Dia memilih satu jalan dengan pertimbangan bahwa dengan berjalan hidupnya akan lebih bermakna daripada kalau dia diam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-4250117511134779844?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/4250117511134779844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=4250117511134779844' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4250117511134779844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/4250117511134779844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/07/mampukah-meretas-jalan-sendiri.html' title='Mampukah Meretas Jalan Sendiri?'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6382390321112247252</id><published>2008-06-17T10:14:00.000+07:00</published><updated>2008-06-17T10:23:26.062+07:00</updated><title type='text'>Bahasa dan Makna</title><content type='html'>Whereof one cannot speak, thereof one must be silent, itu adalah ungkapan terkenal dari  Ludwig Wittgenstein (1889-1951) dalam bukunya Tractatus Logico Philosophicus. Melalui dua bukunya, Tractatus Logico-Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigation (1953), Wittgenstein telah memengaruhi perkembangan filsafat di kemudian hari, khususnya tradisi analitik. Dalam buku I (teori gambar), yang merupakan tahap awal pemikirannya, Ia memengaruhi para filsuf neopositivisme. Sedangkan tahap pemikiran berikutnya, buku II (teori permainan bahasa), menjadi titik pangkal tradisi analitik bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti karya Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus ialah bahwa apa yang dapat dikatakan bisa dikatakan dengan jelas, dan tentang apa yang tidak dapat dikatakan kita harus berdiam diri. Bagi Wittgenstein batas tersebut hanya dapat ditarik dalam bahasa. Ide sentral karya Wittgenstein di sini adalah teori gambar (picture theory), yaitu bahwa proposisi adalah gambar dari realitas. Suatu gambar dapat menampilkan apa yang digambarkan jika ada kesamaan struktur antara keduanya. Struktur yang dimaksud adalah susunan atau kaitan logis tertentu antara elemen-elemen yang membentuk sesuatu. Wittgenstein menyebut struktur logis ini sebagai bentuk logis (logical form). Hubungan antara gambar (bahasa) dan yang digambarkannya (obyek, realitas) adalah kesamaan bentuk logis. Dengan demikian, Wittgenstein pun menganggap bahwa proposisi etika dan metafisika tidaklah mungkin. Wittgenstein memang tidak menyangkal akan adanya hal-hal “abstrak”, misalnya konsep kematian atau Tuhan, tetapi menurutnya hal-hal seperti kematian dan Tuhan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan karenanya kita harus berdiam diri. Baginya hanya ada satu bahasa yang memiliki makna, yaitu bahasa deskriptif, bahasa yang berbicara tentang realitas empiris. Tetapi segera ia menuai kritik bahwa gagasannya itu rapuh. Hal inilah yang menjadi dasar membuat ia bergeser ke teori kedua, teori permainan bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori keduanya, Wittgenstein menyangkalnya dengan mengajukan konsep "language game" (aturan atau tata bahasa). Bahasa deskriptif menurutnya hanyalah salah satu bentuk saja dalam keseluruhan penggunaan bahasa. Arti kata-kata hanya dapat dipahami dalam kerangka acuan aturan bahasa yang digunakan. Satu kata yang sama bila digunakan dalam tata bahasa dengan aturan pakai yang berbeda, akan mendapat arti yang berbeda pula. Arti suatu kata terus-menerus selalu dapat berubah, tergantung penggunaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ini Wittgenstein sadar bahwa suatu kata tidak harus menunjuk pada suatu obyek dan makna kata tergantung dalam penggunaannya. Suatu kata tetap memiliki arti walaupun tidak ada obyek yang ditunjuknya. Arti suatu kata tergantung penggunaannya dalam bahasa, karena ia tak dapat dilepaskan dari tata aturan bahasa yang digunakan. Wittgenstein menyadari akan makna bahasa yang terlalu sempit jika hanya untuk menggambarkan fakta-faktanya saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6382390321112247252?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6382390321112247252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6382390321112247252' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6382390321112247252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6382390321112247252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/06/whereof-one-cannot-speak-thereof-one.html' title='Bahasa dan Makna'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-6844815204111486560</id><published>2008-06-17T10:04:00.000+07:00</published><updated>2008-06-17T10:10:14.107+07:00</updated><title type='text'>Jalan Buntu Program Pencerahan</title><content type='html'>Adakah jalan keluar dari perangkap kapitalisme saat ini? Theodor Adorno dan Max Horkheimer merupakan tokoh yang sangat sentral dalam The Frankfurt School. Mereka juga dikenal sebagai pencetus aliran Kiri Baru (New Left). Aliran ini mencoba mengkritik kapitalisme namun berada pada tataran yang tidak seradikal Karl Marx. Proyek pencerahan berusaha mencerahkan manusia dengan mengajaknya berpikir rasional. Melalui proyek pencerahan manusia diajak untuk mendidik diri meninggalkan mitos dan menggunakan nalar. Di satu sisi, proyek pencerahan ini berupaya melepaskan mitos dan agama, namun di sisi lain ia juga melahirkan mitos atau agama baru. Di bidang ekonomi misalnya, efisiensi dan hukum pasar menjadi konsekuensi dari Proyek Pencerahan. Lahirlah irasionalitas baru yaitu segala hal menjadi komoditi, artinya ia kehilangan nilai sebenarnya. Produksi dibuat bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan kebutuhan baru terus menerus diciptakan demi pertumbuhan produksi. Kalaupun ada demonstrasi dari kalangan kiri, maka atribut demo akan disediakan oleh produksi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal menjadi komoditas (Lukacs: reifikasi). Konsumsi menjadi yang paling utama. Apa yang dikhawatirkan Marx tidak terjadi, tegangan antara unterbau dan uberbau tidak terjadi. Kapitalisme terbukti bisa mengakomodir semua orang. Di negara kapitalis, para petani dan buruh kini sudah bisa hidup dengan kebebasannya sendiri. Mereka membeli komoditi dan produk-produk kapitalis. Semua unsur kritis terus dibuat komoditi oleh ekonomi pasar. Herbert Marcuse menyebut ini dalam manusia satu dimensi, one dimensional man, yaitu manusia yang sudah terintegrasi penuh dalam rasionalitas. Kalaupun diadakan revolusi, hasilnya akan sama. Di sini, Adorno dan Horkheimer putus asa dan pesimis. Kapitalisme seolah tidak menyediakan jalan keluar. Semua hal mampu diakomodasi dalam kapitalisme. Merekapun akhirnya menghadapi jalan buntu (aphoria).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Adorno dan Horkheimer ini mencerminkan keterbatasan generasi pertama dari Kaum Kiri Baru. Renungan-renungan kritis mereka akhirnya tidak dapat menembus kenyataan bahwa fenomena kapitalisme telah menyerang balik Proyek Pencerahan yang sejak awal telah disuarakan oleh Marx dan darinya hendak diperjuangkan melalui kebebasan. Gerakan pencerahan akhirnya menjadi sekedar gerakan budaya. Namun gerakan mereka tidak sia-sia karena membuka jalan bagi pemikir pemikir selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-6844815204111486560?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/6844815204111486560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=6844815204111486560' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6844815204111486560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/6844815204111486560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2008/06/jalan-buntu-program-pencerahan.html' title='Jalan Buntu Program Pencerahan'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-2814391153310313049</id><published>2007-06-15T22:11:00.000+07:00</published><updated>2007-06-15T22:20:28.069+07:00</updated><title type='text'>Antara Benci dan Rindu</title><content type='html'>Maraknya modal asing masuk ke Indonesia seakan membangkitkan sense deja vu dalam diri kita. Tepat 10 tahun sejak krisis berlalu dengan simptom yang sama, modal asing. Modal asing yang kita elu-elukan, tapi juga kita benci bila ia pergi. Antara benci dan rindu.....Akankah krisis terjadi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah pemikiran saya di Harian Republika, 11 Juni 2007. &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=296215&amp;kat_id=4"&gt; Arus Modal Asing: Antara Benci dan Rindu &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-2814391153310313049?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/2814391153310313049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=2814391153310313049' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2814391153310313049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/2814391153310313049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2007/06/antara-benci-dan-rindu.html' title='Antara Benci dan Rindu'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-117213279258716857</id><published>2007-02-22T15:10:00.000+07:00</published><updated>2007-02-22T15:26:32.643+07:00</updated><title type='text'>Selebritas Bank Sentral</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7577/2358/1600/618095/wwc%20GBI%20metro.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7577/2358/320/249812/wwc%20GBI%20metro.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Washington Post, edisi Januari 2007, dalam artikelnya &lt;a href="http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2007/01/28/AR2007012800494.html"&gt;A Who's Who of Fed Policy Makers&lt;/a&gt;, menulis bahwa central bankers adalah juga manusia.. or bahkan, selebritis... Mengapa artikel ini menjadi menarik? karena sebelum tahun 90-an, bank sentral sangat jarang memiliki keinginan untuk membuka diri dan berbicara dengan publik. Buku bestsellers karya William Gerdner pada tahun 1987, &lt;em&gt;Secrets of the Temple: How Federal Reserve Runs the Country&lt;/em&gt;, menegaskan gambaran tentang misteri tersebut. Buku itu menceritakan bagaimana The Fed mengelola kebijakan moneter dari dalam ”kuil rahasianya”. Mistik dan mitos di seputar tugas bank sentral secara ketat dijaga oleh para central bankers, yang menunjukkan juga rahasia sukses mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini perubahan telah terjadi, baik pada The Fed maupun pada bank sentral lainnya di dunia, termasuk Bank Indonesia. Di negeri ini, Bank Sentral sudah sangat terbuka dalam berkomunikasi dengan publik, apalagi sejak diterapkannya kerangka kebijakan yang namanya Inflation Targeting. Dengan kerangka kebijakan yang baru itu, efektifitas pencapaian inflasi akan sangat tergantung pada ekspektasi masyarakat. Kalau masyarakat ramai-ramai berpikir bahwa inflasi pasti rendah, maka mereka akan berperilaku sesuai dengan perkiraannya. Nah, disinilah bank sentral perlu tampil lebih membumi. Bank sentral perlu menempatkan transparansi dan prediktabilitas kebijakan moneter sebagai salah satu resep kebijakannya. Dalam dunia yang semakin terbuka, teknologi komunikasi yang semakin canggih, dan semakin terintegrasinya sistem keuangan global, tuntutan bagi keterbukaan dan pentingnya edukasi bagi masyarakat terkait dengan sektor moneter dan keuangan semakin besar dan nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ga ada salahnya kan kalau bank sentral tampil bak selebritis?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-117213279258716857?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/117213279258716857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=117213279258716857' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/117213279258716857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/117213279258716857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2007/02/selebritas-bank-sentral.html' title='Selebritas Bank Sentral'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38887742.post-117211343862595729</id><published>2007-02-22T10:03:00.000+07:00</published><updated>2007-02-22T10:13:09.673+07:00</updated><title type='text'>Bukan sekedar "Business as Usual"</title><content type='html'>Sebuah pesan menarik dari &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/opini/3332900.htm"&gt;Tajuk Rencana Kompas &lt;/a&gt; tanggal 21 Februari 2007. Pertama, apresiasi kepada Bank Indonesia dan Departemen terkait atas inflasi, nilai tukar, dan stabilitas makro yang terjaga. Kedua, ajakan pada kita semua untuk tidak lagi "business as usual", bekerja biasa-biasa saja. Untuk keluar dari krisis, kita harus memiliki pola sikap yang berbeda dan pola tindak yang agresif. Bekerja di luar kebiasaan, kreatif, inovatif. Tentu bukan asal bertindak atau ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya tulisan ini adalah tiadanya kesan saling menyalahkan. Seluruh pihak justru digugah untuk bersama memikirkan kepentingan bangsa. Mungkin pemikiran seperti ini dapat kita pertimbangkan saat kita menghadapi perbedaan pendapat antar berbagai elemen bangsa.&lt;br /&gt;Sebagaimana kisah sebuah show dalam cabaret di broadway kota Paris, bahwa upaya membangun harapan dengan sikap kreatif tanpa saling menyalahkan adalah juga membangun sebuah bayangan hidup, &lt;em&gt;l’image de la vie&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38887742-117211343862595729?l=junanto-herdiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/feeds/117211343862595729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38887742&amp;postID=117211343862595729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/117211343862595729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38887742/posts/default/117211343862595729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://junanto-herdiawan.blogspot.com/2007/02/bukan-sekedar-business-as-usual.html' title='Bukan sekedar &quot;Business as Usual&quot;'/><author><name>Junanto Herdiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15109899320522667390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7577/2358/1600/pas%20foto%20iwan.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
